2 dari 2 Series - Peziarahan Megadiversity: Out of Equator, Ketika Kapal Menjadi Madrasah
Mabur.co – Wenri Wanhar dari Sriwijaya meluncurkan buku Manusia Bahari, tentang orang laut Bajo yang hidup di atas perahu, tidak punya KTP, tapi punya peta bintang.
Edi Purwanto meluncurkan buku Cultural Literacy, tentang 10 objek pemajuan kebudayaan.
Di tiap pelabuhan singgah: kunjungan situs sejarah, lukisan gua di Maros saat sandar Makassar, benteng Rotterdam, makam Sultan Baabullah di Ternate dan makam pahlawan di Biak.
Malam, pemutaran film dokumenter Kopi Nusantara, dari kopi Gayo sampai kopi Papua, di layar kecil kapal. Dan puncak tiap malam: pembacaan puisi dari Kisah Negeri di bawah Pelangi IBUMI, serta peluncuran buku Umbu dan Sumbu Nusantara, Mengenang Umbu Landu Paranggi dan Rendra.
Umbu Presiden Penyair Malioboro, pendiri PSK. Rendra, si burung merak. Dua kutub puisi Indonesia yang bertemu di laut.
Kapal sebagai Pesantren
KM Dorolonda berkapasitas 2.130 pax, panjang 146 meter.
“KM Dorolonda memiliki kapasitas angkut sekitar dua ribu penumpang dan dipastikan akan melayani rute singgah di Pelabuhan Donggala sebanyak dua kali dalam sebulan,” kata Kepala Cabang PT Pelni Palu Christian Moreys Nainggolan, dikutip donggalareborn.com.

pamflet panitia peziarahan mega diversity: out of equator (foto: panitia)
Dulu, sebelum ada tol laut, kapal Pelni adalah satu-satunya universitas bagi orang timur. Di kapal, orang Flores bertemu orang Bugis, berbagi rokok, berbagi bahasa.
Peziarahan ini mengembalikan fungsi itu. Seorang penumpang biasa, Ibu Marlina, 50 tahun, dari Surabaya mau ke Sorong jenguk anak, awalnya protes:
“Kapan selesainya acara-acara ini, berisik.” Hari kedua, ia ikut melukis payung Panji.”
“Saya baru tahu, garis Wallacea itu bukan garis di peta, tapi garis di hidup kita. Di kapal ini, di kiri saya orang Jawa, di kanan saya orang Papua, tapi kita satu kapal,” katanya.
Menyeruak Keluar untuk Kembali
Seperti kata Philip Bowring dalam buku Empire of the Wind yang diterjemahkan jadi Nusantaria: “Selama ribuan tahun, Nusantaria telah menjadi wilayah utama orang-orang berbahasa Austronesia dan tradisi pelayaran mereka.
Kawasan itu juga penting sebagai jalur yang menghubungkan Asia Timur dengan India, dunia Arab-Persia, Eropa,” dikutip bacagaharu.wordpress.com.
Seperti syair lagu Franky Sahilatua: “Perahu retak, menyusuri gelombang…”
Peziarahan Out of Equator bukan wisata. Ia ziarah, menyusuri garis yang dilupakan.
Dari Surabaya, kota pahlawan, ke Raja Ampat, surga megadiversity terakhir, dengan kapal tua yang masih setia: Dorolonda.
Di Raja Ampat nanti, mereka tidak akan potong pita. Mereka akan tabur bunga di laut, sambil baca puisi Umbu: “Kalau kau datang di Malioboro, jangan cari aku di gedung…” Dan dari khatulistiwa, mereka menyeruak keluar, untuk kembali. (Selesai).
