Mengenal Massureq, Tradisi Sakral Baca Naskah Kuno di Bugis

2 Min Read
Filosofi terciptanya tradisi massureq berawal dari kebutuhan masyarakat Bugis akan hiburan dan pengetahuan terkait naskah-naskah Bugis. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Massureq berasal dari Suku bugis. Massureq terdiri dari kata “ma” dan “sureq”. “Ma” dalam bahasa Bugis adalah suku kata yang menandakan sebuah kegiatan.

Sementara “sureq” adalah kata benda. Jika diartikan secara keseluruhan adalah suatu kegiatan membaca “sureq” atau naskah.

Epos I La Galigo

Ada pun naskah yang biasanya dibacakan adalah semua episode atau tereng dalam epos I La Galigo, Meongpalo Karellae, dan beberapa naskah lainnya.

Dilansir dari berbagai sumber, filosofi terciptanya tradisi massureq berawal dari kebutuhan masyarakat Bugis akan hiburan dan pengetahuan terkait naskah-naskah Bugis.

Massureq sendiri merupakan pendukung eksistensi atau keberadaan naskah-naskah Bugis. Karena melalui massureq, naskah tersebut dapat dengan mudah diwariskan dan dipahami isinya dengan cara yang lebih menghibur. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Suku Bugis yaitu aksara Lontara.

Saat ini, massureq masih sering dilakukan pada hari-hari besar seperti pernikahan, pertemuan atau perayaan, meskipun tidak jarang juga dibawakan dalam suasana kumpul keluarga sehari-hari. 

Butuh Teknik Khusus

Tradisi massureq harus dilakukan oleh orang-orang yang menguasai teknik massureq. Sama halnya bernyanyi, dalam massureq terdapat teknik-teknik khusus dalam praktiknya.

Seperti cengkok atau nada mendayunya harus sesuai dengan aturan, Passureq atau orang yang membawakan “sureq” harus paham akan teknik-teknik yang telah disebutkan sebelumnya. Pada saat ini sudah jarang generasi penerus yang peduli akan hal tersebut. 

Meskipun keberadaannya terancam, tapi di salah satu kabupaten di daerah Bugis, tradisi ini masih diajarkan kepada anak-anak dan cara mengajarkannya pun menarik karena seperti mengajarkan membaca Alquran.

Sebuah sureq diletakkan di atas bantal dan dibaca dengan cara estafet dari passureq satu ke passureq berikutnya.

Oleh karena itu, terdapat beberapa orang yang telah memulai usaha untuk mewariskan dan melestarikan massureq.

Langkah pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan naskah-naskah yang tersimpan. Namun dalam masyarakat pedesaan, masih ada anggapan bahwa suatu naskah kuno merupakan benda keramat yang harus dijaga dan disembunyikan agar orang-orang tidak sembarangan menggunakan naskah tersebut.

Padahal hal itu merupakan cara yang salah dalam melestarikan naskah-naskah kuno. Perilaku tersebutlah yang membuat naskah serta massureq sulit diwariskan. ***

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar