Jam Gadang Bukittinggi, Tak Pernah Ingkar Janji Tuk Berdentang

4 Min Read
Jam Gadang di Titik Nol Kota Bukit Tinggi (Foto: Tripadvisor)

Mabur.co- Di Bukittinggi, orang tidak janjian pakai alamat. Cukup bilang: ketemu di Jam Gadang. Semua tahu.

Karena sejak 1926, jam itu tidak pernah pindah, hanya ganti atap. Jam Gadang, dalam bahasa Minang berarti jam besar, berdiri 26 meter di pusat kota, titik nol kilometer Fort de Kock.

Hadiah Ratu Belanda Wilhelmina

Dibangun 1926 sebagai hadiah Ratu Belanda Wilhelmina kepada Controleur Hendrik Roelof Rookmaaker, sekretaris kota.

“Menara jam yang berdiri megah di pusat kota ini bukan sekadar penunjuk waktu, melainkan denyut nadi, ikon abadi, dan saksi bisu perjalanan sejarah Ranah Minang,” tulis Geolocana.

“Pembangunan yang selesai pada 1926 merupakan hadiah istimewa dari Ratu Belanda kepada Rook Maker,” dikutip infolokasi.geolocana.com, dikutip mabur.co, Jumat (30/10/2026).

Arsiteknya bukan Belanda, tapi Yazid Rajo Mangkuto, Sutan Gigi Ameh, putra Minang.

Biaya 3.000 gulden kala itu. Tukang membangun tanpa semen, hanya putih telur, kapur, dan pasir putih. Itu cerita yang diwariskan.

Mesinnya langka, Vortmann Recklinghausen Jerman, hanya dua di dunia, satu di Big Ben London, satu di Jam Gadang.

Atapnya tiga kali ganti, seperti ganti rezim: bulat dengan patung ayam jantan zaman Belanda, jadi pagoda klenteng zaman Jepang 1942-1945, jadi gonjong Rumah Gadang setelah merdeka 1953.

“Pemerintah Kota Bukittinggi dan berbagai sumber pariwisata mencatat tahun 1926 sebagai tahun pembangunan Jam Gadang. Pemerintah Kota Bukittinggi bahkan menjadikan 2026 sebagai momentum peringatan 100 tahun Jam Gadang,” tulis kotabukittinggi.com. “Menariknya, tahun 2026 menjadi momentum istimewa karena Jam Gadang genap berusia 100 tahun.”

Misteri di Jam Gadang Tertulis IIII

Juni 2026 lalu, Wali Kota Ramlan Nurmatias gelar peringatan 100 tahun bertema “Detak Jantung Ibukota” seminar internasional Indonesia-Belanda, festival kuliner dan lomba puisi. Tapi yang paling dicari turis: angka IIII. Mestinya angka 4 Romawi IV, di Jam Gadang ditulis IIII.

Mitosnya, empat pekerja saat pembangunan Jam Gadang mati jadi tumbal. Versi lain, simbol itu menunjukkan empat orang penjaga.

Fakta Teknik, keseimbangan visual dengan VIII, atau bentuk kuno Romawi.

“Salah satu keunikan terletak pada penulisan angka Romawi di bagian jam. Biasanya, angka empat dalam Romawi ditulis sebagai ‘IV,’ tetapi di Jam Gadang tertulis ‘IIII,'” tulis Yokmaju.com. “Ada juga cerita bahwa pembangunan Jam Gadang melibatkan unsur gaib,” dikutip yokmaju.com.

Ada juga lubang Jepang di bawahnya, lorong romusha 1.400 meter menuju Ngarai Sianok, tempat menyimpan tengkorak.

Jam Gadang hari ini sudah Cagar Budaya Nasional sejak SK PM.05/PW.007/MKP/2010, 8 Januari 2010. Pada 16 Desember 2025, ditetapkan lagi jadi Cagar Budaya Peringkat Nasional oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

Penjual foto keliling, Afrizal, 38 tahun, tiap hari nongkrong di bawah jam: “Jam Gadang ini selalu membawa berkah buat kami. Itu sebabnya jam ini menjadi jam kebesaran warga Minang.”

Meski kata penyair Chairil: “Hidup hanya menunda kekalahan,” tapi Jam Gadang menunda waktu dengan dentangnya setiap 15 menit. Seperti lagu Minang:

“Bukittinggi kota wisata, Jam Gadang nan elok…” Jam besar yang terus berdetak, di atas tanah yang tak pernah ingkar janji tuk berdentang.

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar