2 dari 2 Series - Mengenal Tiwah, Upacara Adat Dayak Ngaju Antar Arwah Menuju Roh Sejati
Mabur.co – Sebagai bagian penting tradisi masyarakat Suku Dayak Ngaju, Kalimantan, upacara adat tiwah selalu digelar secara meriah dengan rangkaian ritual yang sarat akan makna.
Setiap prosesnya bahkan harus dilakukan secara khusus dengan pakem tertentu yang menggunakan berbagai perlengkapan serta melibatkan semua lapisan unsur masyarakat.
Dilansir mabur.co dari buku Khazanah Budaya Nusantara IX yang disusun Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan, sebelum tiwah digelar, biasanya masyarakat Suku Dayak Ngaju akan memilih pemimpin pelaksanaan upacara adat yang disebut upo serta basir sebagai pembantu.
Pemilihan pemimpin dan pembagian tugas ini akan dilakukan melalui musyawarah yang diikuti seluruh keluarga maupun masyarakat agar seluruh rangkaian upacara berjalan tertib.
Perlengkapan Ritual
Setelah pemimpin ditentukan, warga kemudian akan menyiapkan sejumlah perlengkapan yang dibutuhkan untuk pelaksanaan upacara tiwah.
Sejumlah perlengkapan itu seperti balay tiwah, tempat para pemimpin ritual memanjatkan doa. Ada pula sandung, bangunan kecil yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan tulang-belulang orang yang telah meninggal setelah rangkaian upacara selesai.
Lalu ada sapundu, tiang kayu berukir berbentuk manusia atau hewan yang digunakan untuk mengikat hewan kurban.
Hingga pant ar atau tiang dengan ukiran burung enggang yang didirikan di dekat sandung sebagai penanda selesainya upacara. Gong, kain merah, tempat sesaji, dan perlengkapan lainnya turut disiapkan sesuai kebutuhan ritual.
Karena membutuhkan biaya yang sangat besar, pelaksanaan tiwah biasanya dilakukan melalui handep, yaitu gotong royong antarkeluarga atau antarwarga desa.
Mereka akan mengumpulkan bantuan atau sumbangan untuk membiayai upacara dan menunjuk seseorang yang bertanggung jawab mengoordinasikan seluruh kegiatan upacara.
Dalan pelaksanaan tiwah, tulang-belulang orang yang meninggal akan dikumpulkan dari tempat pemakaman sementara. Tulang-tulang tersebut kemudian menjalani rangkaian ritual yang dipimpin oleh upo dan basir.
Dalam upacara ini, pembakaran jenazah biasanya dilakukan secara simbolis, sedangkan tulang-belulang yang tersisa dibungkus kain merah dan ditempatkan dalam gong sebelum dibawa ke sandung.
Diiringi Tabuhan Alat Musik Tradisional
Selama upacara berlangsung, para pemimpin ritual akan melantunkan tuturan tertentu dengan iringan tabuhan alat musik tradisional. Tuturan itu menggambarkan perjalanan arwah, mulai dari dibangunkan, dimandikan, diberi pakaian, hingga diantarkan menuju Lewu Tatau.
Pada malam hari, rangkaian tiwah juga diisi dengan nganjang, yaitu kegiatan menari sambil mengelilingi tempat pelaksanaan upacara. Para penari dan penyanyi dapat berasal dari kalangan laki-laki maupun perempuan yang terlibat dalam ritual tersebut.
Dalam upacara adat tiwah ini kerbau menjadi salah satu hewan yang dikurbankan sebagai bentuk persembahan. Hewan tersebut diikat pada sapundu dan dikorbankan sebagai bagian dari ritual.
Dagingnya kemudian dibagikan kepada peserta dan dimasak untuk disantap bersama. Setelah upacara selesai, keluarga dan peserta menjalankan ritual pembersihan perlengkapan rumah tangga yang digunakan selama kegiatan.
Bagi masyarakat Suku Dayak Ngaju, tiwah bukan sekadar upacara adat biasa. Pasalnya tiwah telah menjadi salah satu tradisi penting mereka yang diwariskan secara turun-temurun.
Selain menggambarkan eratnya hubungan sosial antar-masyarakat Dayak Ngaju, tradisi ini juga menunjukkan bagaimana mereka memaknai kematian, penghormatan kepada orang yang telah meninggal, dan hubungan manusia dengan dunia roh. ***
