Fenomena Gunung Es, Gangguan Jiwa Dapat Diatasi dengan Tiga Metode - Mabur.co

Fenomena Gunung Es, Gangguan Jiwa Dapat Diatasi dengan Tiga Metode

Mabur.co- Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, memperkirakan sedikitnya 28 juta warga Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental. Bak fenomena gunung es yang terlihat di permukaan hanya sebagian kecil dari masalah sebenarnya.

Mengutip laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Menkes menekankan prevalensi gangguan kesehatan jiwa secara global berada di kisaran 1 dari 8 hingga 1 dari 10 orang. Jika dikalkulasikan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 280 juta jiwa, setidaknya 28 juta orang diperkirakan memiliki masalah kesehatan mental.

Psikolog Klinis RS PKU Muhammadiyah Gamping, Jefri Reza Pahlevi, M. PSI, Psikolog, menuturkan gangguan Jiwa merupakan kondisi di mana seseorang mengalami gangguan dalam pikiran.

Penyebab terjadinya gangguan jiwa hingga saat ini belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami gangguan jiwa.

Perilaku dan perasaan yang muncul dalam bentuk sekumpulan gejala dan/atau perubahan perilaku bermakna, bisa mengganggu fungsi sebagai manusia, serta telah terdiagnosis sesuai kriteria diagnosis yang ditetapkan, yaitu UU RI No 17 Th 2023 tentang kesehatan.

“Gangguan jiwa dapat diatasi dengan tiga metode, yakni Metode Biologis/Medis (Psikofarmaka). Metode ini berfokus pada perbaikan ketidakseimbangan kimiawi di otak melalui pemberian obat-obatan oleh psikiater. Ini bertujuan mengurangi atau menghilangkan gejala fisik dan psikis yang berat. Contohnya, penggunaan anti-depresan (untuk depresi), anti-cemas (anxiolytics), anti-psikotik (untuk halusinasi/waham), dan mood stabilizer. Metode ini bertujuan untuk pemulihan dan menstabilkan kondisi fisik/otak.

Metode berikutnya yakni Metode Psikologis (Psikoterapi), metode ini adalah terapi melalui percakapan (talk therapy) antara pasien dengan psikolog atau psikiater untuk menguatkan mental dan mengubah pola pikir. Ini bertujuan untuk mengubah perspektif negatif, mengelola stres, dan memperbaiki perilaku yang tidak sehat. 

Metode terakhir yakni Metode Sosial (Rehabilitasi Psikososial), metode ini bertujuan memberikan keterampilan agar pasien dapat kembali berfungsi, produktif, dan mandiri di tengah masyarakat. Metode ini bertujuan untuk mencegah kambuh dan membantu pasien beradaptasi kembali dengan lingkungan sosial. Selain tiga metode utama di atas, pendekatan holistik seperti gaya hidup sehat (olahraga, nutrisi) juga berperan penting dalam proses penyembuhan,” ujarnya, saat dihubungi mabur.co via telepon, Kamis (22/1/2026).

Jefri Reza Pahlevi mengatakan, saat ini masyarakat perlu mendukung program pemerintah yang berkaitan dengan deteksi dini kesehatan jiwa pada seluruh siklus kehidupan. Keluarga menjadi faktor pendukung utama dalam pemulihan gangguan jiwa, namun di sisi lain keluarga juga bisa menjadi penyebab utama seseorang mengalami gangguan jiwa. 

Seseorang yang mengalami gangguan jiwa dapat pulih maka diperlukan dukungan keluarga seperti penerimaan tanpa syarat, ekspresi perasaan yang positif, pemakluman atas kondisi gangguan jiwa, dukungan kasih sayang berupa kesabaran dalam mengingatkan waktu minum obat serta mendampingi dalam proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan positif. 

Tenaga kesehatan tentunya juga selalu membangun komunikasi yang efektif kepada keluarga seseorang yang mengalami gangguan jiwa, agar dapat mengetahui tanda-tanda kekambuhan atau apa pun.

“Keluarga juga perlu memiliki kemampuan mencari bantuan profesional, karena ada beberapa keluarga yang menganggap gangguan jiwa ini adalah takdir yang harus diterima sehingga merasa tidak perlu mencari bantuan,” katanya.

Jefri Reza Pahlevi menuturkan, stres merupakan kondisi yang berbeda dengan gangguan jiwa. Stres adalah kondisi di mana kita menghadapi tekanan, baik tekanan pekerjaan, rumah tangga, lingkungan, atau tekanan sosial.

Selanjutnya tubuh akan mempertahankan diri secara alami yang terkadang muncul dalam bentuk reaksi fisik (jantung berdebar, nafas memberat, mual, tegang di area mulut, berkeringat) atau pun perilaku (gelisah, terburu-buru, intonasi suara berubah). 

Banyak sekali kiat mengatasi stres di internet dan media sosial, kita bisa memilih mana kiat-kiat yang paling sesuai dengan diri kita untuk diterapkan.

“Tentunya kita perlu menyadari bahwa stressor akan ada seumur hidup, kita tidak boleh berharap bahwa setelah stres ini selesai besok sudah tidak ada lagi. Kiat-kiat sederhana untuk mengatasi stres, di antaranya memahami bahwa kita sedang mengalami stres dan mulai mengidentifikasi penyebab stres. Misalnya kita bisa pindah tempat kerja. Kita juga bisa latihan relaksasi, misal relaksasi pernapasan selama 4 detik. Ambil napas melalui hidung, 6 detik mengembuskan napas melalui mulut secara perlahan, seperti meniup sedotan,” katanya.

Jefri Reza Pahlevi, mengatakan, perlu mengubah pikiran negatif. Biasanya pikiran negatif membuat perasaan negatif muncul dan jantung berdebar, maka usahakan untuk mengimbangi pikiran negatif yang muncul dengan pikiran positif, cari sampai ketemu. 

“Kita bisa mencari dukungan sosial, menghubungi keluarga atau orang yang dipercaya untuk mengobrol hal-hal netral jika malu menceritakan stres,” ucapnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *