Fenomena Pacar Sewaan, Ketika Pacar Bisa Disewa ala Gen Z - Mabur.co

Fenomena Pacar Sewaan, Ketika Pacar Bisa Disewa ala Gen Z

Mabur.co- Media sosial dihebohkan dengan fenomena jasa sewa pacar dengan penawaran tarif yang beragam mulai dari 100 ribu hingga Rp 1,5 jutaan per jam. Sewa pacar yang awal mulanya ramai di platform Tiktok.

Sebagian orang menjadi single atau lajang adalah pilihan. Mereka punya standar dan kriteria khusus untuk menjadikan seseorang sebagai pasangan. Orang-orang demikian tidak malu menghadiri acara-acara besar yang dipenuhi dengan orang-orang yang sudah memiliki pasangan.

Untuk menghindari hal menyakitkan itu, kaum lajang masa kini memilih untuk memanipulasi status dengan mencari pacar sewaan. Wajar bila banyak pihak menjadikan hal ini sebagai lahan bisnis yang menjanjikan. Penyewaan pacar jelas tidak berbicara soal cinta, seperti idealnya sebuah hubungan yang dijalani oleh sepasang kekasih.

Jika dulu cinta dibangun lewat proses kenalan, pendekatan, saling memahami, hingga saling menerima, kini semuanya bisa disingkat menjadi satu langkah: klik dan transfer. Aplikasi dan akun media sosial kini dipenuhi tawaran jasa sewa pacar. Ada yang menawarkan paket “pura-pura pacaran buat acara keluarga”, ada yang “temani nonton bioskop”, hingga “biar kelihatan nggak jomblo di Instagram”.

Relasi personal yang harusnya bersandar pada rasa kini berubah menjadi layanan. Hubungan yang semestinya organik, penuh dinamika dan rasa, dikemas sebagai transaksi yang dikontrol durasi dan harga. Ada pilihan layanan: “temani ngobrol”, “berdua romantis”, “buat konten couple TikTok”, hingga “pura-pura pacaran depan mantan”.

Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya, Radius Setiyawan menuturkan, ada faktor yang membuat seseorang menyewa jasa pacar adalah tuntutan sosial yang tinggi sekaligus persoalan seksualitas.

Fenomena sewa pacar di media sosial merupakan bagian dari perkembangan zaman yang berdampak pada mudahnya alat komunikasi sehingga seseorang dengan mudah berinteraksi.

“Saya memprediksi ke depan fenomena ini bakal lebih ekstrem, interaksinya sangat mungkin tidak hanya bertemu di dunia nyata. Seseorang akan sangat mungkin melakukan hubungan seksual di dunia cyber untuk memuaskan hasratnya,” katanya, dilansir dari laman Universitas Muhammadiyah Surabaya, Kamis (26/3/2026).

Radius Setiyawan, menjelaskan, seiring perkembangan dan meluasnya penggunaan internet memunculkan revolusi seksual yang memungkinkan seseorang melakukan eksplorasi seksual yang melampaui batas-batas budaya, gender, usia, agama, bangsa, bahkan bentuk fisik.

“Ekspresi diri ini dapat disalurkan melalui sosial media, aplikasi digital, webcam interaktif, teknologi sentuhan (sense of touch) hingga aplikasi jasa sewa pacar,” imbuhnya.

Radius Setiyawan mengatakan,  anonimitas ruang siber, membuat seseorang dapat mengekspresikan dengan atau tanpa identitas asli mereka sekaligus dapat dijadikan ruang mengusir kebosanan.

Kecepatan teknologi hari ini harus dibarengi dengan kemampuan membangun justifikasi yang otoritatif atas perilaku seks di dunia cyber.

“Tujuannya adalah agar agama dan budaya tidak mengalami kegagapan menghadapi masa depan (shock future) yang terus memunculkan praktik-praktik baru,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *