Mabur.co– Ada pemandangan yang tidak biasa di perjalanan menuju SMA Katolik Santa Maria Homba Karipit, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ketika sebagian besar siswa datang menggunakan sepeda motor, seorang siswi kelas XI justru menunggang kuda.
Namanya Novita Goring, 17 tahun, akrab disapa Vita. Selama dua pekan terakhir, ia menempuh perjalanan sekitar 9,6 kilometer dari rumahnya di Desa Wura Homba, Kecamatan Kodi, menuju sekolah. Setiap pagi, sekitar pukul 06.00 Wita, siswi kelas XI-G itu meninggalkan rumahnya di Desa Wura Homba, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya. Bukan tanpa alasan Novita memilih kuda sebagai kendaraan menuju sekolah. Mahalnya harga BBM membuat dia tak lagi leluasa menggunakan sepeda motor milik pamannya.
Harga Pertalite maupun Pertamax yang dijual secara eceran di kampungnya mencapai Rp 70.000 per botol bekas air mineral berukuran 1,5 liter.
Novita menuturkan dirinya berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi pas-pasan. “Sudah dua minggu, setiap hari saya ke sekolah naik kudanya”, dilansir Kompas.com, Minggu (8/11/2026).
Novita mengatakan, sebelum harga BBM melambung, dirinya biasanya menggunakan sepeda motor milik paman. “Jika tidak memungkinkan, ayah yang mengantar atau menumpang kendaraan teman. Namun, keadaan berubah ketika harga BBM semakin mahal,” ucapnya.
Novita mengatakan, sepeda motor yang biasa mengantarnya ke sekolah akhirnya lebih banyak terparkir. Namun keadaan itu tak membuatnya berhenti belajar. Setiap pukul 05.00 Wita, sudah bangun untuk mempersiapkan diri. Sementara itu, sang ayah, Gregorius Teda Gorong, menyiapkan kuda beserta pelananya.
Novita menuturkan, meski harus menempuh perjalanan yang tidak biasa, dirinya mengaku tidak pernah terlambat mengikuti pelajaran. Kegiatan belajar-mengajar di sekolah baru dimulai pukul 07.15 Wita. “Mahalnya BBM bukan alasan untuk mengubur cita-cita,”ungkapnya.
Novita mengatakan, pada awalnya, sempat merasa canggung. Apalagi, hampir semua teman sekolahnya menggunakan sepeda motor. Namun, dukungan teman-temannya perlahan menghilangkan rasa malu itu. Bahkan, mereka ikut membantu ketika Novita hendak naik ke punggung kuda . “Awalnya malu juga, tetapi teman-teman mendukung. Malah teman-teman bantu pegang saat naik kudanya,” ujarnya.
