Mabur.co – 19 Oktober 2026, di Kantor Kemenko Polkam Jakarta, Menko Dudung Abdurachman, bicara pelan, katanya, “masih sanggup!”.
Pemerintah belum menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional hingga Senin, 19 Oktober 2026.
Namun, Indonesia menerima tawaran bantuan Malaysia berupa tiga helikopter dan 52 personel pemadam, tulis samudrafakta.com.
“Ya, sementara kita masih sanggup, ya. Negara kita masih sanggup,” kata Dudung dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Polkam, Jakarta, Senin 19/10 dikutip samudrafakta.com, dilansir mabur.co, Selasa (20/10/2026).
Malaysia Tawarkan Bantuan: “Kita Masih Sanggup”
Di balik kata sanggup, langit Sumatra dan Kalimantan masih coklat. Data KLHK sampai 14 Oktober, ada 18.050 hektare lahan terbakar, 6.255 kejadian.
Taman Nasional Tanjung Puting, rumah orang utan terbesar di dunia, ikut terbakar 513 hektare. 47 pesawat dan 60 ribu personel Indonesia sudah dikerahkan. Tapi asapnya sampai Kuala Lumpur.
Karena itu Malaysia datang. Bukan sekali. Sejak September. Pihak Malaysia menawarkan bantuan ingin ikut membantu kita untuk mengatasi kebakaran hutan di Kalimantan.
“Hal ini saya tanggapi dengan terima kasih, dengan gembira,” ucap Presiden Prabowo Subianto saat menerima WPM Malaysia, Ahmad Zahid Hamidi, di Hambalang 18 September 2026 dikutip idmtimes.net.
Malaysia menawarkan antara lain: 1 pesawat pemadam, 3 helikopter, 52 personel. Rilis resmi NADMA Malaysia dan Kementerian Luar Malaysia sudah kirim surat. Tapi jawabannya menggantung.
“Kita menawarkan dengan ikhlas, tetapi tidak ada respons untuk kita membantu mereka. Kita ucapkan terima kasih,” kata Ahmad Zahid Hamidi kepada wartawan di Ipoh dikutip samudrafakta.com via Sinar Harian.
Di tengah jeda itu, tiba-tiba, sajak-sajak penyair Chairil Anwar terasa relevan: “Hidup hanya menunda kekalahan.”
Asap juga menunda napas.
Keadaan Sudah Darurat, BNPB Masih Sibuk Rapat
Secara historis, ini bukan pertama. 1997, 2015, 2019, Malaysia dan Singapura selalu kirim bantuan, dan selalu ada tarik-ulur soal kedaulatan.
Asap lintas batas adalah persoalan ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution yang Indonesia baru ratifikasi 2014.
Di Kalimantan ada mitos Dayak: hutan tidak terbakar sendiri, ia dibakar karena lupa ritual. Sekarang ritualnya berubah jadi rapat teknis di BNPB.
Menteri Luar Negeri, Arrmanatha Nasir, bilang mekanisme bantuan sedang dibahas BNPB.
Kepala BNPB baru, Letjen Kristomei Sianturi, bilang: “I will first gather our assets… After that, we will assess whether foreign assistance can be utilized.”
Dudung menambahkan Malaysia dan Singapura akan dikoordinasikan.
“Usulan bantuan itu sudah kami respons. Malaysia akan membantu dengan tiga pesawat dan 52 personel. Silakan saja,” ujarnya dikutip bsi.news.id.
Sementara itu, di lapangan, warga di Pelalawan Riau cerita: anak sekolah pakai masker dobel, jarak pandang 50 meter.
Bantuan Malaysia belum mendarat, tapi tawaran itu setidaknya mengingatkan bahwa asap tidak kenal paspor.
Tiga helikopter itu sekarang stand by di Subang, Malaysia. Menunggu panggilan, sementara angin masih membawa partikel PM2.5 dari Kalimantan ke Selat Malaka. ***
