Hirohito, Bung Karno, dan Matahari

Oleh: Wahjudi Djaja

7 Januari 1989 Kaisar Jepang, Hirohito, mangkat. Kepergian seorang pemimpin yang amat dihormati bangsa Jepang. Dia adalah simbol matahari, kaisar terlama sepanjang sejarah, dan beririsan dengan sejarah bangsa Indonesia.

Dikenal sebagai Negeri Matahari Terbit, Jepang memiliki sejarah panjang. Karakternya kuat melekat pada bangsa, bahkan, sampai melintasi zaman di era modern. Etika dan moralitas dijunjung tinggi, tidak saja oleh para pejabat tetapi juga rakyat. Soal kedisiplinan anak sekolah, misalnya, di rumah, jalan maupun di sekolahan, lama dijadikan referensi. Soal tradisi, tak pernah mati, hidup dan amat dihormati. Pejabat yang diduga, catat baru diduga, korupsi dengan penuh kesadaran mengundurkan diri.

Menjadi Kaisar Jepang dengan sebutan Kaisar Showa (1926-1989), Hirohito memandang Indonesia amat strategis. Hubungan Jepang dengan Indonesia sepanjang sejarah sangat unik. Indonesia adalah negara pertama yang merdeka setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada 10 Agustus 1945. Dunia tersentak saat Bung Karno dan Bung Hatta berkunjung ke Jepang dan dihadiahi medali penghargaan tertinggi.

Kehadiran Jepang di Indonesia yang singkat, sering disebut seumur jagung dan dikaitkan dengan jangka Jayabaya, membawa banyak perubahan. Hampir semua perwira yang menduduki jabatan penting adalah hasil didikan Jepang. Entah Heiho atau Seinendan dan Keibodan. Tata cara militer ala Jepang masih melekat kuat, membungkuk hormat ke arah matahari terbit. Ini yang kemudian melahirkan kesalahpahaman di Indonesia, sebagai kemusyrikan, dan melahirkan pemberontakan.

Soal sosial kemasyarakatan, jejak peninggalan era Jepang masih banyak ditemukan. Mulai Kanal Yoshiro (Selokan Mataram) di Yogyakarta, lapangan terbang, goa pengintaian sampai rukun tetangga yang disebut (tonarigumi). Jepang juga amat lihai memainkan propaganda, baik melalui lembaga maupun rekrutmen individu. Ingat strategi 3 A (Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, Nippon Pemimpin Asia), terbukti efektif membangun kesadaran sesama bangsa Asia. Lapar tapi bernyali. Itu didikan Jepang.

Media massa zaman Jepang selalu mengasosiasikan kesadaran dan kebangkitan baru. Matahari, Tjahaja, Asia Raja, Soeara Asia dll adalah media yang, semula, digunakan untuk kepentingan propaganda Jepang. Tetapi, oleh para tokoh bangsa digunakan untuk mengedukasi rakyat demi tercapainya kemerdekaan. Ketika Jepang menyadari posisinya yang melemah, mereka memberikan janji kemerdekaan bagi Indonesia. Puncaknya, Laksamana Maeda menggaransi keselamatan para pemimpin bangsa saat menyusun teks proklamasi.

Bung Karno amat paham bagaimana menjaga nama baik dan kebesaran Kaisar Hirohito. Tidak saja mengunjungi dan menempatkannya sebagai pemimpin Jepang tetapi juga simbol Asia. Dan yang terakhir ini, nampaknya, sangat menginspirasi Bung Karno hingga kelak membawanya pada Konferensi Asia Afrika dan Geralan Non Blok. Langkah Bung Karno yang merunduk seolah taat pasrah pada kaisar itulah yang dianggap lawan politiknya sebagai pro Jepang dan kemerdekaan Indonesia adalah hadiah Jepang.

Apapun, kedua tokoh sama-sama ingin Asia berdaya, dihormati karena integritas dan kepribadiannya. Hirohito ingin kebesaran Jepang yang dibuktikan pembangunan dan modernisasi pasca-Perang Dunia II, Bung Karno ingin Indonesia memimpin dunia melalui New Emerging Forces (Nefo). Keduanya adalah matahari bagi Asia.

Long Life, Tenno Showa.

Penulis: Wahjudi Djaja, Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *