Jule, Budaya Populer, dan Masyarakat Cair

Oleh: Wahjudi Djaja

Untuk kesekian kalinya netizen merasa “tersakiti”. Apalagi kalau bukan karena ulah idolanya. Entah patah hati karena menikah, marah karena sebuah perkataan, atau akibat beda pilihan dan aspirasi. Terakhir, Julia Prastini, selebgram yang akrab disapa Jule, membuat ulah.

Tak terlalu penting mengulas ulah perempuan kelahiran 25 Juli 2000 ini. Yang justru harus diangkat dan didiskusikan sambil ngopi adalah mengapa publik merasa heran bahkan tersakiti. Coba hitung berapa kali kasus serupa yang melibatkan artis hingga membuat publik kalang kabut. Sudah sering disakiti tidak kapok juga. Aneh, kan?

Ada kondisi yang perlu dipahami menyangkut dinamika media online atau media sosial. Sebagai bagian popular culture, memang begitu karakternya. Budaya populer itu cirinya mudah diakses dan dikonsumsi publik, mudah berubah mengikuti tren, mudah ditiru dan biasanya, tanpa disadari, komersial. Maka aneh kalau publik mematok standar baku dan ideal untuk produk, apapun baik tokoh maupun barang, yang lalu lalang di media sosial. Pendeknya, kalau imanmu kuat jangan dekat-dekat media sosial!

Membayangkan idola atau tokoh sebagai sosok sempurna, entah cantik atau ganteng, entah berjilbab atau tidak, lalu menegasikan kemungkinan berubah, jelas hanya akan menyakiti diri sendiri. Siapa coba yang terpukau dengan pasangan Kang Emil dan Ibu Cinta. Faktanya? Bukan hendak ikut menghakimi atau mem-bully tetapi pandang saja semua secara wajar dan proporsional.

Nah, sayangnya, masyarakat kita juga bergerak dari masyarakat paternalistik ke masyarakat cair. Yang terakhir ini salah satunya sebagai dampak media sosial. Terbayang toh, bagaimana elemen masyarakat yang semula berada di garda depan menjaga etika, berantakan hidupnya hanya karena terjajah media sosial. Guru, dosen, kepala sekolah, lurah, sampai anggota DPRD dan bupati atau walikota sampai ustaz bergiliran terkena kasus asusila.

Salah satu tanda masyarakat cair adalah ketenaran tidak dibentuk dari tindakan tetapi reputasi yang dikemas oleh media (The Conversation, 4/5/2018). Clear, ya. Maka tak aneh jika perubahan cepat terjadi, mengalir dan mengobrak-abrik sekat masyarakat. Mau ganti pasangan, peduli amat. Mau lepas jilbab, urusan gue. Mau telanjang, emang loe siapa kok nglarang. Jangan pernah membayangkan saat seleb atau artis melakukan sesuatu itu mempertimbangkan follower. Jangankan follower, nasihat orang tua atau agama pun, bukan lagi unsur penting dalam liquid society.

Lalu, siapa yang harus diedukasi? Ya, masyarakatlah, masa seleb atau artisnya. Masyarakat harus menyadari bahwa dunia, apalagi maya, itu dunia tanpa bentuk. Dan media sosial, sebagai kanal ke dunia maya, sangat efektif untuk menaikkan atau menurunkan seseorang. Negara mau mengatur? Bisa, tapi dalam batas tertentu akan sulit. Agama? Jangan salah, banyak ustaz dan dai yang populer karena media sosial. Lalu? Ya salah sendiri mudah percaya pada tayangan media sosial.

Masyarakat cair sedang terbentuk dan kehidupan tanpa nilai (anomi) sedang terjadi. Negara dan bangsa akan rusak? Boleh jadi. Pilihan terbaiknya, hidup saja penuh kewajaran, apa adanya dan jangan menipu diri sendiri. Hio…

Penulis: Wahjudi Djaja, Budayawan Sleman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *