Mabur.co – Berbagai bencana alam yang melanda beberapa wilayah di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir, seperti banjir di Aceh pada akhir 2025, disusul gempa NTT pada pertengahan Agustus 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, sampai erupsi Gunung Anak Krakatau beberapa hari lalu, membuat Indonesia terus berada dalam situasi waspada.
Pemerintah dan seluruh stakholder terkait lainnya juga tidak bisa berdiam diri begitu saja. Mereka harus selalu sigap dan bertindak cepat, untuk dapat mengamankan setiap potensi bahaya yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Fenomena bencana demi bencana yang terus berulang ini juga turut disinggung oleh Presiden Prabowo Subianto.
Ia menyebut bahwa seluruh bencana yang terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan ini, merupakan risiko Indonesia yang berada di pusat lingkaran api, atau The Ring of Fire, yakni tempat bertemunya tiga lempeng tektonik utama (Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik)
Hal itu membuat Indonesia selalu berpotensi mengalami aktivitas geologi yang sangat tinggi. Di antaranya terkena bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor, serta erupsi gunung berapi. Serta berbagai dampak yang ditimbulkan dari seluruh bencana tersebut, yaitu kerugian ekonomi (materi), kerusakan infrastruktur, dan ancaman kesehatan lainnya.
“Ini adalah takdir kita. Negara yang berada di lingkaran api. The Ring of Fire. Jadi ini membuat kita harus siap untuk menghadapi keadaan seperti ini setiap saat. Berarti ini juga jadi pelajaran penting buat kita, bagi pemerintahan yang saya pimpin, bahwa alokasi anggaran untuk mitigasi bencana harus kita tambah secara signifikan,” ujar Prabowo dalam rapat penanganan sejumlah bencana, seperti dilansir dari kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (7/9/2026).
Apresiasi Kerja Keras Pemerintah
Di tengah berbagai bencana yang melanda, Prabowo tetap memberi apresiasi khusus kepada segenap jajarannya, baik di Kementerian maupun pemerintah daerah, yang telah bekerja keras menanggulangi setiap bencana yang ada.
Sehingga kehidupan masyarakat mulai kembali pulih, dan bisa kembali hidup secara normal seperti sebelumnya.
“Saya kira dalam menghadai keadaan seperti ini, ke depan kita akan lebih mampu. Sekarang pun jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, respons kita sangat cepat. Keadaan bencana di Sumatera, di Aceh, Sumatera Utara, dan si Sumatera Barat, ternyata respons kita cukup masif, cukup cepat. Untuk itu saya ucapkan terima kasih kepada semua unsur yang telah bekerja keras. Kita (sudah) pulihkan keadaan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dengan kekuatan kita sendiri,” sambung Prabowo.
Meski mengaku puas terhadap kinerja bawahannya sejauh ini, namun Presiden Prabowo menegaskan bahwa perjuangan mereka belumlah usai.
Karena setiap bencana pastinya membutuhkan strategi penanganan yang berbeda, jumlah pasukan yang berbeda, serta jumlah anggaran yang berbeda. Sehingga setiap bencana harus dihadapi dengan jeli, dan butuh perencanaan yang matang dan terstruktur sedemikian rupa. (*)
