Mabur.com – Sedikitnya 392 orang tewas dan sekitar 1.500 orang masih dinyatakan hilang pasca-banjir bandang dahsyat yang melanda perbatasan Nepal dan Tibet, Rabu lalu.
Hingga saat ini tim penyelamat dan pihak-pihak terkait masih melakukan upaya pencarian korban di sejumlah daerah yang terdampak.
Material longsoran berupa lumpur, batu, es, dan puing yang menghantam aliran sungai serta permukiman menjadi kendala utama proses evakuasi karena jalan dan jembatan mengalami kerusakan parah.
Dilansir Al Jazeera, Jumat (28/8/2026) sedikitnya 389 orang meninggal dunia telah ditemukan di Nepal. Sementara 3 orang lainnya dinyatakan meninggal di wilayah Tibet.
668 Wisatawan dari 34 Negara
Di Nepal, Departemen Pariwisata mencatat 668 wisatawan dari 34 negara kehilangan kontak sejak Rabu. Sebagian besar merupakan pendaki yang berada di kawasan pegunungan.
Mereka antara lain berasal dari India, Amerika Serikat, Australia, Inggris dan Kanada. Pemerintah Cina juga menyebut sekitar 100 warganya termasuk dalam daftar orang yang hilang di Nepal.
Di wilayah Gyirong, Tibet, sekitar 558 orang juga dilaporkan hilang. Sebanyak 260 di antaranya merupakan warga negara asing.
Helikopter pemerintah dan swasta dikerahkan untuk mencari korban dan membawa warga yang berhasil dievakuasi menuju rumah sakit.
Militer dan kepolisian Nepal disebut mengerahkan lebih dari 5.000 personel. Helikopter juga menjatuhkan tenda, makanan dan obat-obatan ke wilayah pegunungan yang terisolasi.
Bencana ini juga berdampak besar terhadap infrastruktur. Sebanyak 15 proyek pembangkit listrik tenaga air terdampak, dengan sekitar 431 megawatt kapasitas pembangkit berhenti beroperasi.
Sejumlah pembangkit, termasuk Rasuwagadhi, Chilime dan Sanjen, juga dilaporkan mengalami kerusakan parah.
Masih dikutip Al Jazeera, bencana dahsyat yang terjadi di Sungai Lhende, sekitar 20 kilometer dari perbatasan Rasuwagadhi antara Nepal dan Cina itu, diketahui menimbulkan kehancuran parah.
Di sejumlah lembah dekat aliran sungai, material lumpur terlihat menutupi rumah, kendaraan hingga pepohonan. Sejumlah jembatan juga dilaporkan hanyut diterjang arus.
Perdana Menteri Cina, Li Qiang, telah mengunjungi lokasi longsor di Tibet untuk memantau operasi penyelamatan dan bantuan darurat.
Begitu juga Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, yang juga menuju wilayah Bidur, Nuwakot, untuk melihat langsung kondisi daerah yang terdampak.
Hingga saat ini sejumlah bantuan internasional dilaporkan mulai berdatangan. Amerika Serikat menyiapkan bantuan darurat sebesar 500.000 dolar AS. PBB mengalokasikan 2 juta dolar AS melalui Dana Darurat Pusat (CERF).
Australia juga menyiapkan bantuan sekitar 3,6 juta dolar AS untuk masyarakat terdampak di kawasan perbatasan Nepal-Cina.
