Menanti Sejarah Juara AFF yang Tak Kunjung Tercipta

4 Min Read
Vietnamese footballer in a white jersey with red trim points to a gold emblem on his sleeve amid a packed arena crowd
Pemain timnas Vietnam, Nguyen Hai Long, menunjukkan badge emas AFF, yang menjadi penanda bahwa Vietnam adalah juara bertahan di Piala AFF, sementara Indonesia masih belum memiliki satu trofi pun sampai saat ini. (Foto: ASEAN United FC)

Mabur.co – Tim nasional Vietnam sukses mempertahankan gelar juaranya di kancah regional Asia Tenggara, usai menahan imbang Thailand dengan skor 2-2, dalam pertandingan leg kedua final Piala AFF 2026 yang berlangsung di Stadion National My Dinh, Hanoi, Vietnam, Rabu (26/8/2026).

Gelar ini menjadi raihan keempat Golden Star Warriors di sepanjang sejarah Piala AFF, yang telah terselenggara sejak 1996 silam.

Dengan raihan ini, skuad asuhan Kim Sang-sik kini hanya tertinggal tiga trofi saja dari Thailand, yang sudah mengoleksi sebanyak tujuh trofi di ajang yang sama.

Di sisi lain, turnamen ini menjadi kegagalan yang kesekian kalinya untuk timnas Indonesia, yang sampai saat ini belum pernah sekalipun keluar sebagai juara. Meskipun sudah enam kali menembus babak final.

Padahal, di setiap kesempatan Piala AFF digelar, Indonesia selalu difavoritkan keluar sebagai juara.

Apalagi setelah ditambah dengan pemain-pemain naturalisasi baru dari Belanda dan seterusnya, yang membuat penampilan skuad Garuda mengalami peningkatan yang cukup pesat dalam beberapa waktu terakhir. Termasuk selangkah lagi menembus putaran final Piala Dunia 2026 lalu.

Entah apa yang terjadi di setiap penyelenggaraan Piala AFF, yang jelas Indonesia memang belum ditakdirkan untuk sampai di tangga juara, setidaknya untuk saat ini.

Dipandang Sebelah Mata

Para pemain timnas Indonesia berkumpul untuk menghadapi suporter yang kecewa usai kegagalan timnas melaju ke babak semifinal Piala AFF 2026, setelah hanya mampu bermain imbang 1-1 dengan tuan rumah Singapura di Stadion Jalan Besar, Kallang, Singapura, beberapa waktu lalu (Foto: Istimewa)

Sayangnya memang, turnamen ini tidak berada dalam naungan kalender FIFA (FIFA Matchday), sehingga timnas Indonesia tidak mampu menurunkan seluruh komposisi skuad terbaiknya, termasuk para pemain yang berkarier di Eropa.

Hal itu seolah semakin menjauhkan Indonesia dari sejarah yang telah dinanti-nantikan sejak lama, yakni meraih gelar juara di kancah regional Asia Tenggara.

Turnamen ini seperti tidak benar-benar disiapkan secara matang oleh PSSI beserta jajarannya, sehingga hasil yang didapatkan selalu tidak sesuai harapan. Bahkan dalam dua edisi terakhir, Indonesia selalu gugur di babak fase Grup.

Hasil dalam dua edisi terakhir menjadi tamparan keras bagi federasi beserta seluruh petinggi di dalamnya, seolah terlalu memandang rendah turnamen ini.

Padahal sejak bertahun-tahun lamanya, Indonesia telah dipandang sebagai salah satu kekuatan besar di Asia Tenggara, namun justru belum pernah mencicipi gelar juara di kompetisi ini, yang sudah berjalan sebanyak 16 edisi.

Satu hal lainnya yang lebih menyakitkan adalah, di level usia muda, Indonesia sudah mampu meraih gelar juara AFF beberapa kali. Tepatnya dua gelar di level U-16/17, dua gelar di level U-19/20, serta satu gelar di level U-22/23.

Sehingga secara total, timnas Indonesia telah meraih lima gelar AFF di berbagai level kelompok umur, namun masih nihil gelar untuk kelompok yang paling utama, yakni senior.

Entah kapan sejarah dahaga gelar AFF di level senior itu akan segera terpenuhi. Yang jelas, jangan pernah bicara soal kelolosan ke Piala Dunia selanjutnya (2030), jika masih belum mampu menaklukkan level ASEAN, yang seharusnya lebih mudah dituntaskan terlebih dahulu.

Daripada lolos ke Piala Dunia, tapi justru masih jadi bulan-bulanan di kawasan ASEAN. Bahkan sampai seorang Nguyen Hai Long (Vietnam), berani menunjukkan badge AFF Champion ke arah kamera, saat berhasil mencetak gol ke gawang Nadeo Argawinata, pada pertemuan menghadapi timnas Indonesia di Stadion Pakansari, Bogor, Jawa Barat, pada awal bulan ini. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar