Mabur.co – Polemik terkait MBG (Makan Bergizi Gratis) semakin menjadi-jadi.
Banyak pihak mulai bersuara terkait “bau busuk” yang tercium dari keberadaan program yang satu ini.
Salah satunya datang dari kalangan mahasiswa.
Di mana BEM UGM telah mengindikasikan adanya “permainan” di balik pelaksanaan MBG, yang dinilai sudah jauh melenceng dari tujuan awalnya.
Melalui Ketua sekaligus “juru bicara” BEM UGM, Tiyo Ardianto, ia mengungkapkan bahwa MBG sudah berkembang menjadi proyek bagi-bagi hasil (melalui SPPG – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi), lantaran proses pemilihannya selama ini cenderung tertutup bagi publik.
“Selama ini kita tidak pernah tahu bagaimana mekanisme pembentukan SPPG tersebut. Padahal ternyata orang-orang Prabowo lah yang menguasai semuanya,” ujar Tiyo, saat berbicara dalam podcast di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Rabu (18/2/2026).
Atas dasar itulah, Tiyo dengan berani menyebut Presiden Prabowo, sebagai otak di balik program MBG, sebagai “presiden bodoh”.
Kemudian, akronim MBG pun diplesetkan menjadi “Maling Berkedok Gizi”.
Komentar Tiyo yang disampaikan di depan bundaran kampus UGM pada Jumat (13/2/2026) itu pun, menuai reaksi yang beragam dari banyak pihak.
Bahkan setelah pernyataan tersebut viral di jagad media sosial, Tiyo mengaku mendapatkan serangkaian teror dari orang-orang tidak dikenal, bahkan dari kontak luar negeri.
Meskipun telah mendapat ancaman dari segala sudut dan cara, namun Tiyo tak akan gentar, bahkan mengaku tidak takut mati, andaikan teror itu benar-benar sampai ke dirinya.
Karena menurut Tiyo, kecintaannya kepada bangsa dan negara tidak akan bisa digantikan oleh apapun.
“Kami tidak akan gentar sedikit pun terhadap berbagai teror yang dialamatkan kepada kami. Selama teror itu tidak benar-benar ada (hanya bersifat ancaman), maka itu justru akan membuat kami lebih kuat. Jadi silakan lanjutkan saja terornya,” tambah Tiyo.
Tiyo sendiri bersama BEM UGM telah menjalin komunikasi intensif dengan pihak kampus UGM, LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban), serta LBH (Lembaga Bantuan Hukum) di wilayah Yogyakarta, untuk memastikan perlindungan Tiyo beserta seluruh jajaran BEM UGM berjalan dengan optimal.
Hal itu juga memastikan satu hal penting, bahwa pihak kampus UGM pada dasarnya tetap mendukung apapun yang disampaikan oleh Tiyo dan pihak BEM UGM, sekalipun diksi yang dipilih cenderung sarkas dan tidak beretika. (*)



