Mabur.co – Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah mengerahkan sebanyak 2.500 Marinir tambahan serta sejumlah kapal serbu amfibi ke wilayah Timur Tengah baru-baru ini untuk memperkuat pasukannya.
Hal tersebut diungkapakan seorang pejabat Militer AS menyikapi situasi perkembangan terakhir eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah pasca serangan Israel-AS ke Iran 28 Februari 2026 lalu.
“Sejumlah elemen dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 dan kapal serbu amfibi USS Tripoli telah diperintahkan ke Timur Tengah,” ujar seorang pejabat AS dilansir Associated Press Sabtu (14/03/2026).
Unit Ekspedisi Marinir dilaim memiliki kemampuan untuk melakukan pendaratan amfibi, serta memiliki spesialisasi dalam memperkuat keamanan di kedutaan, mengevakuasi warga sipil, hingga memberikan bantuan bencana.
Menurut gambar yang dirilis oleh pihak militer AS, Unit Ekspedisi Marinir ke-31, satu unit kapal USS Tripoli serta kapal serbu amfibi lainnya yang membawa Marinir, dan bermarkas di Jepang, nampak telah berada di Samudra Pasifik selama beberapa hari.
“Kapal Tripoli terlihat oleh satelit komersial berlayar sendirian di dekat Taiwan, yang berarti kapal tersebut berada lebih dari seminggu dari perairan lepas pantai Iran,” ujar narasumber sebagaimana dikutip AP.
Sampai dengan saat ini, Angkatan Laut AS sendiri telah mengerahkan sebanyak 12 kapal, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln dan delapan kapal perusak, yang beroperasi di Laut Arab.
Jika USS Tripoli ikut bergabung dengan armada ini, maka kapal tersebut akan menjadi kapal terbesar kedua setelah USS Abraham Lincoln di kawasan itu.
Meskipun jumlah total personel militer AS yang berada di Timur Tengah tidak jelas, Pangkalan Udara Al-Udeid, Qatar yang merupakan salah satu pangkalan terbesar di kawasan ini, tercatat menampung sekitar 8.000 tentara AS.
Sehingga adanya tambahan 2.500 pasukan yang dikerahkan, maka total pasukan AS di wilayah ini akan mencapai sekitar 10.000 pasukan.
Sementara itu dilaporkan sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump, mengklaim telah sukses menghancurkan situs-situs militer pulau Kharg di sekitar selat Hormuz yang menjadi aset vital bagi jaringan minyak Iran.
Pulau yang menjadi pusat terminal utama serta menangani ekspor minyak mentah Iran ini diklaim telah diserang pasukan AS dengan menargetkan situs-situs militer. Tetapi untuk saat ini tidak menyentuh infrastruktur minyaknya, kata Trump dalam sebuah unggahan di media sosial.
Namun, ia memperingatkan bahwa jika Iran atau pihak lain mengganggu lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz , ia akan mempertimbangkan kembali keputusannya untuk menghancurkan infrastruktur minyak milik Iran.
Menanggapi hal itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf dalam sebuah unggahan media sosial, memperingatkan bahwa serangan terhadap pulau-pulau di perbatasan maritim selatan Iran akan menimbulkan reaksi dan konsekuensi besar.
Ia juga menggarisbawahi betapa pentingnya pulau-pulau tersebut bagi perekonomian dan keamanan Iran.
Ancaman juga dilontarkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Sabtu hadi ini. IRGC bahan mengancam mereka akan menyerang fasilitas minyak dan energi yang terkait dengan AS di kawasan itu jika infrastruktur minyak Iran tersebut diserang.
Ebrahim Zolfaghari, juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, memperingatkan bahwa mereka akan menargetkan “semua infrastruktur minyak, ekonomi, dan energi milik perusahaan minyak di seluruh wilayah yang memiliki saham Amerika atau bekerja sama dengan Amerika.” ujarnya dikutip AP.



