Mabur.co – Presiden Prabowo Subianto belum berhenti melakukan inovasi nyeleneh, terkait program-program maupun kebijakan yang ditujukan kepada rakyat Indonesia.
Terbaru, presiden berusia 74 tahun ini menyampaikan, akan membangun program listrikisasi, yaitu sebuah program dimana setiap rumah di seluruh Indonesia harus teraliri listrik dari energi yang dimiliki Indonesia.
“Kita akan melaksanakan program listrikisasi, yakni energi terbarukan dari tenaga surya. Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, kita akan membangun 100 Giga Watt (listrik dari tenaga surya). Itu sudah perintah saya. Itu sudah keputusan saya,” kata Prabowo saat menghadiri HUT Danantara ke-1 sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Kompas TV, Rabu (11/3/2026).
Prabowo pun bertekad membawa program ini dikenal luas oleh dunia internasional, sekaligus membuktikan bahwa Indonesia sanggup membangun kekuatan listrik dari tenaga surya, cukup dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki di dalam negeri.
Beberapa waktu sebelumnya, tepatnya awal Februari 2026, Prabowo juga pernah menyampaikan niatnya untuk mempercantik atap rumah masyarakat Indonesia, dengan program yang disebut sebagai “gentengisasi”.
“Gentengisasi” adalah inisiatif dari pemerintah untuk mengganti atap rumah-rumah di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di pedesaan, yang masih menggunakan atap seng atau sejenisnya. Seng diketahui lebih mudah panas, berkarat, serta kurang estetik jika dilihat oleh wisatawan, sekaligus tidak seindah genteng pada umumnya.
Program ini pun dikemas dengan istilah Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang bertujuan menciptakan lingkungan rumah yang lebih indah dan nyaman.
Tidak Bisa Berharap Apa-apa
Baik “gentengisasi” maupun “listrikisasi”, keduanya di atas kertas merupakan program yang sangat baik bagi rakyat Indonesia. Karena keduanya memiliki tujuan untuk memudahkan sekaligus memperindah visual hunian masyarakat.
Hanya saja, berkaca dari program unggulan pemerintah selama ini, yakni MBG (Makan Bergizi Gratis), yang sebetulnya juga sangat bermanfaat bagi rakyat, justru akhirnya berkembang jadi sarang “korupsisasi” baru, sekaligus “nepotismesasi” di kalangan pejabat negara, yang kebetulan ikut berafiliasi dengan presiden Prabowo, terutama Partai Gerindra.
Dengan segala kegaduhan terjadi akibat program MBG, tentunya publik sudah tidak lagi menaruh harapan apa-apa, terhadap dua program nyeleneh presiden Prabowo ini.
Karena ujung-ujungnya, program-program ini kemungkinan besar hanya akan menguntungkan para penguasa, atau mereka yang berkoalisi dengan presiden Prabowo. Rakyat pun cenderung tidak akan mendapat manfaat apapun, selain “omon-omon”.
Jika kemudian program “gentengisasi” maupun “listrikisasi” ini benar-benar terlaksana, siap-siap saja badai penolakan akan terjadi dimana-mana. Meskipun narasinya selalu bertindak seolah-olah demi kepentingan rakyat Indonesia.
Semakin banyak program yang diusulkan, apalagi dengan nama-nama yang terdengar tidak masuk akal, sepertinya semakin mendekatkan pemerintah dengan jurang kehancuran mereka sendiri, yang sudah disiapkan rakyat sedemikian rupa.
Jauh melebihi apa yang terjadi di bulan Agustus 2025 lalu, yang ternyata juga tidak menghasilkan perubahan apa-apa.
Daripada meluncurkan program “gentengisasi” ataupun “listrikisasi”, sebaiknya pemerintah segera melakukan “tobatisasi”, serta terus berusaha “aktualisasi” diri, agar rakyat semesta tidak semakin murka dengan “tololisasi” yang semakin menjadi-jadi. (*)



