Mabur.co – Praktik korupsi secara sistemik dalam industri kesehatan RI, diduga menjadi penyebab utama mahalnya biaya berobat di Indonesia.
Jika dibandingkan dengan di luar negeri, biaya berobat di Indonesia bahkan bisa 2-3 kali lipat lebih mahal dibanding rumah sakit di Singapura atau Malaysia.
Tak heran banyak masyarakat khususnya kalangan menengah ke atas termasuk kalangan pejabat maupun artis, yang memilih berobat ke luar negeri dibanding di Indonesia.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin tak menampilkan adanya dugaan korupsi secara sistemik dalam industri kesehatan RI tersebut.
Ia juga mengakui bahwa banyak sekali masyarakat Indonesia mengeluhkan mahalnya harga obat di tanah air.
“Yang mungkin paling banyak dirasakan masyarakat ya harga obat mahal. Kita sama Malaysia itu bedanya bisa lebih mahal 3 kali sampai 5 kali,” kata Budi Rabu (11/3/2026) sebagaimana dikutip Detik.com.
Budi menilai perbedaan harga obat yang sangat jauh dengan Malaysia tidak mungkin hanya disebabkan oleh pajak. Melainkan adanya sejumlah faktor lain yang tidak diungkap secara terbuka oleh pelaku industri.
“Orang industri kesehatan bilang, ‘Pak itu gara-gara pajak’. Ya pajak kan cuma 20 persen, 30 persen, gimana bisa jadi 500 persen. Nggak mungkin. Itu pasti ada hal-hal lain di luar pajak yang enggak mau di-disclose. Itu pasti bukan pajak,” katanya.
Budi menyebut mahalnya harga obat berpotensi menunjukkan adanya korupsi sistemik dalam ekosistem industri kesehatan.
Korupsi sistemik yang dimaksud adalah korupsi yang melibatkan banyak pihak, mulai dari regulator, rumah sakit, asuransi kesehatan, tenaga medis, hingga perusahaan farmasi.
“Kita ingin memperbaiki perilaku menyimpang itu. Karena selain Kementerian Kesehatan sebagai regulator, ada rumah sakit, ada asuransi kesehatan, ada dokter-dokternya, ada perusahaan farmasinya yang membangun ekosistem industri kesehatan,” kata Budi.
Adas dasar itulah Budi berharap dapat berkerjasama dengan KPK untuk membantu menata kembali sistem di sektor kesehatan agar lebih transparan dan bebas dari praktik korupsi.
“Kita benar-benar mengharapkan KPK membantu kami. Bukan hanya membersihkan institusi kita, tapi juga merapikan industri kita dari systemic corruption yang ada,” ujarnya.
Dikutip Merdaka.com, pemerintah Indonesia sendiri mengakui data tahun 2023 mencatat ada sekitar 2 juta lebih Warga Negara Indonesia (WNI) memilih berobat ke luar negeri dibandingkan ke rumah sakit yang ada di dalam negeri.
Salah satu faktor yang membuat WNI memilih berobat ke rumah sakit di beberapa negara seperti Malaysia, Singapura, Jepang hingga Amerika Serikat (AS) itu disebabkan karena biaya yang lebih murah serta fasilitas dan pelayanan yang lebih baik.
Seorang WNI sempat menceritakan alasannya lebih memilih berobat ke luar negeri melalui unggahan di akun Tiktok @intanaww. Postingan tersebut kemudian jadi sorotan usai dibagikan ulang oleh akun Instagram lainnya.
WNI bernama Intan itu mengungkap jika ibunya sempat dirawat di rumah sakit Indonesia untuk menjalani perawatan kanker. Namun, dia akhirnya memutuskan membawa sang ibu berobat ke Malaysia karena perbedaan biaya yang sangat jauh.
“Pas di Indonesia sudah disuruh siapin uang Rp600 juta buat operasi + treatment cancer. Kira-kira ada yang bisa tebak tidak kami habis berapa di Malaysia? Jawabannya ada di slide terakhir ya,” tulisnya dalam video.
Intan mengatakan, jika dia menghabiskan biaya kurang dari Rp100 juta untuk membayar operasi dan perawatan selama menjalani pengobatan di Mahkota Medical Centre Melaka Malaysia.
“Ini biaya yang harus dikeluarkan sekitar Rp65 juta. Total keseluruhan biaya operasi dan treatment selama rawat inap, dokter dan kamar. Untuk biaya dokter utamanya sendiri sekitar 3000 RM atau Rp10 jutaan rupiah,” jelasnya.


