Mabur.co – Indonesia terus mendorong upaya pengembangan pesawat tanpa awak (unmanned aerial system/UAS).
Terbaru muncul rencana pembangunan bandara khusus pesawat tanpa awak atau UAS seluas 43 hektare di Simpenan, Sukabumi, Jawa Barat.
Bandara ini diproyeksikan menjadi pusat logistik udara masa depan yang mampu menggerakkan perekonomian menggunakan pesawat kargo atau pengangkut barang tanpa awak.
Dikutip dari kontan.co.id, Senin (4/5/2026), rencana ini diungkapkan PT Ursa Aero Indonesia yang secara resmi ditunjuk sebagai mitra strategis Kementerian Perhubungan dalam pengadaan pesawat kargo tanpa awak Hongyan HY-100 di Indonesia.
Perusahaan yang fokus mengembangkan layanan distribusi barang melalui pesawat kargo UAS berkapasitas besar ini diharapkan mampu menjawab tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang beberapa daerahnya sulit dijangkau.
Country Director PT Ursa Aero Indonesia, Tendi Febrian, menilai kehadiran pesawat tanpa awak HY-100 bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan solusi nyata untuk meningkatkan efisiensi distribusi logistik, terutama di wilayah terpencil dan kawasan 3T (tertinggal, terdepan, terluar).
“Pesawat ini bukan sekadar UAS, melainkan infrastruktur udara dengan standar keamanan tinggi yang dapat mempercepat distribusi logistik nasional,” ujarnya Senin (4/5/2026).
Secara teknis, HY-100 memiliki kemampuan yang cukup impresif. Pesawat ini mampu lepas landas dengan bobot maksimum 5,25 ton dan membawa muatan hingga 1,9 ton.
Jangkauan terbangnya mencapai 1.800 kilometer dengan daya tahan lebih dari 10 jam di udara. Dengan bentang sayap lebih dari 18 meter serta kemampuan lepas landas dan mendarat di landasan pendek kurang dari 550 meter, HY-100 dinilai fleksibel untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses moda transportasi konvensional.
Sebagai mitra strategis pemerintah, PT Ursa Aero Indonesia nantinya akan melakukan distribusi dan menjalankan operasional pesawat asal Cina, yang merupakan UAS kelas berat pertama di dunia ini.
Tak hanya sektor logistik, pengembangan UAS di Indonesia nantinya juga akan diarahkan untuk mendukung berbagai berbagai sektor lain seperti pertanian, modifikasi cuaca, penanganan bencana, hingga pengawasan wilayah.
Di Indonesia sendiri, proses validasi sertifikasi tipe HY-100 masih berlangsung.
Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara tengah melakukan evaluasi guna memastikan standar keselamatan dan kelaikudaraan terpenuhi sebelum pesawat ini beroperasi secara penuh.
Kasubdit Operasi Pesawat Udara DKPPU, Reymon Palapa, menyebut, proses ini sebagai langkah penting dalam mengadopsi teknologi Large Unmanned Aircraft System (LUAS) secara aman dan terukur.
Sementara itu, Kepala Tim Engineering & Emerging Technology DKPPU, Meddy Yogastoro, menambahkan bahwa uji validasi dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemeriksaan dokumen, simulasi, hingga uji terbang.
Dengan pengembangan infrastruktur seperti bandara UAS di Sukabumi dan kehadiran teknologi pesawat tanpa awak kelas berat, Indonesia berpeluang besar menjadi salah satu pemain utama dalam industri logistik udara modern di kawasan Asia Tenggara.



