Mabur.co – Pemerintah akan memberikan gelar pahlawan kepada sejumlah tokoh di Indonesia. Rencananya pemberian gelar itu akan dilakukan tepat pada peringatan Hari Pahlawan pada 10 November 2026 mendatang.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut terdapat 18 tokoh yang telah dipilih Presiden untuk menerima gelar Pahlawan Nasional tahun ini. Pemilihan itu dilakuian berdasarkan kesepakatan dari Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.
“Kita ajukan semua yang memenuhi syarat, dan presiden telah memilih 18. Jadi rencananya akan ada 18 pahlawan nasional yang dianugerahkan pada dalam rangka Hari Pahlawan,” ujar Fadli, dikutip detikNews, Jumat (6/11/2026).
Menurut Fadli, jumlah calon penerima tahun ini lebih banyak dibandingkan biasanya. Banyak tokoh yang dinilai memenuhi persyaratan, termasuk sejumlah nama yang telah diusulkan berulang kali selama bertahun-tahun.
“Ada yang sudah 7 kali, ada yang 5 kali, ada yang 3 kali,” ungkapnya.
Yang menarik salah satu sosok yang disebut akan menerima gelar Pahlawan Nasional tersebut adalah Kakek Presiden Prabowo Subianto. Beliau adalah Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo. Meski disebut masuk dalam daftar tokoh yang diusulkan menerima gelar Pahlawan Nasional 2026, namun kepastian mengenai penganugerahan tersebut masih menunggu pengumuman resmi Presiden Prabowo Subianto pada 10 November 2026.
“Nanti kita dengar saja hasilnya, ya. Kalau pasti orang yang terpilih ini adalah orang-orang yang sudah melalui satu proses panjang dengan jasa-jasanya itu yang sulit saya kira untuk kita debat gitu ya, baik itu di bidang kebudayaan, di bidang ekonomi, maupun perjuangan bersenjata gitu,” ujar Fadli.
Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo dikenal sebagai tokoh ekonomi Indonesia pada masa awal kemerdekaan. Ia termasuk sebagai salah satu tokoh pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) pada 5 Juli 1946.
Margono tercatat menjadi presiden direktur pertama BNI pada masa awal kemerdekaan RI. Saat itu BNI juga berperan dalam penerbitan dan peredaran Oeang Republik Indonesia (ORI), mata uang pertama yang dikeluarkan pemerintah Indonesia.
Dilansir Perpustakan.kemendagri.go.id, Margono lahir di Banyumas pada 16 Mei 1894 dan meninggal di Jakarta pada 25 Juli 1978.
Sebelum Indonesia merdeka, ia meniti karier di lembaga keuangan kolonial Volkscredietwezen yang menangani perkreditan rakyat. Pengalaman panjang di bidang keuangan itu kemudian menjadi bekal ketika Indonesia mulai membangun sistem ekonomi sendiri.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945, Margono mengambil peran dalam pembentukan lembaga-lembaga negara. Ia tercatat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pertama pada masa awal Republik.
Jabatan tersebut menjadi bagian dari kiprahnya dalam membantu pemerintahan Indonesia yang baru berdiri. Tak hanya itu perannya dalam pembangunan ekonomi nasional juga menjadikannya salah satu tokoh penting dalam sejarah perbankan Indonesia.
