Di kampung santri Baruga-Majene dan juga di Polewali Mandar, nama Haji Hammadia tidak ada di Google Maps. Tidak ada plang PT. Air Baja.
Tapi dalam banyak cerita eks perantau Mandar-Sulbar di Jakarta era 1960-an, Haji Hammadia disebut-sebut bak pahlawan.
Ia adalah salah satu sahabat Soekarno, salah satu pelopor, pemilik perusahaan peleburan besi baja di Indonesia di awal kemerdekaan. Demikian kenang KH. Ahmad Ma’ruf (alm) salah satu keluarga besar Haji Hammadia yang pernah merasakan puncak kejayaan PT. Air Baja di Jakarta.
Besi untuk Proyek Mercusuar
Tahun 1960-1965, Soekarno sedang gila-gilaan membangun mercusuar: Monas, Istiqlal, Gelora Bung Karno. Semua butuh besi.
Istiqlal saja dibangun 17 tahun. Peletakan batu pertama 24 Agustus 1961 oleh Ir. Soekarno, dan diresmikan 1978 dengan 12 pilar raksasa serta 5.138 tiang pancang maupun kubah baja antikarat diameter 45 meter.
Monas butuh 38 kg emas di puncak, plus beton dan baja dari Semen Gresik. Media Konstruksi mencatat Masjid Istiqlal yang tetap berdiri kokoh selama 47 tahun ini merupakan mahakarya yang dibangun menggunakan semen dari PT Semen Indonesia, yang telah terbukti kualitasnya.
Media BahanMaterial.com mencatat, Semen Gresik berperan penting membangun Monas, juga Istiqlal dan GBK.
Di masa itu pengusaha pribumi yang dipercaya negara tidak banyak. Yang paling terkenal Teuku Markam dari Aceh.
Sebagaimana dilansir dari GridHot.ID menulis, sekitar 28 kilogram semen, di antaranya disebut hasil sumbangan dari seorang pengusaha bernama Teuku Markam asal Aceh.
Markam merupakan satu dari segelintir pengusaha yang dekat dengan Soekarno. Forum Indogamers juga mencatat hasil bisnis Teuku Markam konon juga ikut menjadi sumber APBN serta mengumpulkan sejumlah 28 kg emas untuk Monas.
Orang Mandar Pro Soekarno
Haji Hammadia adalah orang kaya versi Mandar. Warga Baruga-Majene, Pambusuang, Balanipa, mengenang dan menuturkan bahwa Haji Hammadia memiliki dapur peleburan besi baja di Cawang, Jakarta, yang menyuplai plat baja dan besi beton untuk pembangunan era Soekarno.
Warga Majene, eks perantau Jakarta era 1960-1970-an, Mahyuddin mengungkapkan, talenta pengusaha Mandar itu memang tumbuh sejak awal dari etos pappalele: pedagang ulung yang bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya, menawarkan dagangan, dan mengumpukan pundi-pundi dari hasil perdagangan itu.
Pelaut-pelaut Mandar, berlayar menuju Jawa, dengan kapal ba’go’, lambo dan lain semacamnya, terutama ke Surabaya sebagai kota perdagangan di era 1960-1970-an, membawa berbagai hasil bumi, lalu pulang membawa berbagai hasil perdagangan yang berasal dari berbagai belahan dunia.
“Seperti perhiasan dari Cina, kain dari India serta barang-barang mewah lainnya di masa kejayaan maritim Mandar hingga era 1800-an,” demikian tulis Dr. Abdul Rahman Hamid dalam bukunya Jaringan Maritim Mandar. (Bersambung)
