Mabur.co – Baru-baru ini media sosial ramai membahas tradisi unik yang dilakukan masyarakat Suku Sasak dalam menyambut kelahiran seorang bayi yang disebut dengan nama Pedak Api.
Dalam tradisi ini bayi yang baru lahir akan diayun-ayunkan di atas api dengan asap yang mengepul hingga mengenai bagian tubuhnya. Tak sedikit warganet yang mempertanyakan tradisi ini karena dianggap membahayakan terhadap kesehatan si bayi.
Namun ada pula yang menilai tradisi ini bagian dari kearifan budaya sekaligus identitas masyarakat yang tetap harus dilestarikan dan tidak boleh dihina, dilarang apalagi dihilangkan begitu saja.
Terlepas dari perdebatan tersebut, tradisi Pedak Api yang dilakukan masyarakat Suku Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat, sebenarnya memiliki makna yang sangat dalam karena sarat akan doa, harapan, dan simbol perlindungan bagi ibu dan bayi.
Meski terlihat tidak biasa, ritual Pedak Api memiliki makna yang tidak hanya berkaitan dengan kelahiran dan pemberian nama bayi, tetapi juga mencerminkan rasa syukur kepada Tuhan, harapan akan keselamatan, serta kuatnya hubungan sosial dalam masyarakat.
Dikutip mabur.co dari Jurnal Pendidikan Sosial Keberagaman, Universitas Mataram berjudul Tradisi Pedak Api pada Masyarakat Sasak dan Nilai-nilai Sosial yang Terkandung di Dalamnya, Rabu (30/9/2026), tradisi Pedak Api masih dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat Sasak, salah satunya di Desa Montong Sari, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat.
Tradisi Pedak Api ini disebut merupakan rangkaian upacara tradisional masyarakat Sasak yang berkaitan dengan pemberian nama kepada bayi.
Dalam penelitian tersebut dijelaskan, tradisi ini biasanya dilaksanakan ketika bayi berusia sekitar tujuh hingga sembilan hari, setelah tali pusarnya terputus.
Pelaksanaan Pedak Api biasanya dipimpin oleh belian nganak atau dukun beranak yang membantu mempersiapkan perlengkapan sekaligus memandu jalannya upacara.
Bagi masyarakat Suku Sasak, Pedak Api merupakan ungkapan rasa syukur atas kelahiran anak sekaligus doa agar ibu dan bayi senantiasa memperoleh keselamatan.
Tradisi ini juga menjadi warisan leluhur yang dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Sasak.
Sebelum dimulai, keluarga bersama tetangga biasanya akan menyiapkan berbagai perlengkapan, seperti apus tawar atau luluran, gelang dari benang hitam dan putih, bakul kecil, serabut kelapa, air kerak nasi, daun bikan, sembek, serta andang-andang atau seserahan untuk keperluan upacara ritual.
Persiapan tersebut dilakukan secara bersama-sama, mulai dari mengumpulkan bahan hingga mengolah perlengkapan yang dibutuhkan.
Keterlibatan keluarga dan tetangga ini memperlihatkan bahwa Pedak Api bukan hanya urusan orang tua bayi, melainkan juga melibatkan lingkungan sosial di sekitarnya.
Menurut penelitian tersebut, kebersamaan dalam menyiapkan perlengkapan merupakan salah satu wujud nilai kerja sama yang terkandung dalam tradisi Pedak Api.

Bayi Diayunkan Sembilan Kali di Atas Perapian
Salah satu bagian paling khas dalam Pedak Api adalah prosesi mengayunkan bayi di atas perapian yang dibuat menggunakan serabut kelapa di dalam bakul kecil.
Sebelum prosesi tersebut, belian nganak memimpin doa. Ibu dan bayi kemudian menjalani prosesi melulurkan apus tawar yang telah diberi doa, dilanjutkan dengan pemasangan gelang dan tali pinggang.
Selanjutnya, bayi diayunkan di atas perapian sebanyak sembilan kali. Setelah itu, asap dari perapian diarahkan kepada ibu bayi.
Dikutip mabur.co dari penelitian Nismulwiah dkk., perapian dalam tradisi tersebut memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan kekerasan, bahaya, dan perasaan waswas.
Penyiraman perapian setelah prosesi dimaknai sebagai upaya menghilangkan hal-hal buruk tersebut sehingga berubah menjadi ketenteraman dan ketenangan.
Sementara itu, pengasapan kepada ibu dipercaya masyarakat setempat sebagai bagian dari upaya menghilangkan bau darah setelah melahirkan.
Makna tersebut merupakan bagian dari kepercayaan tradisional yang diwariskan dalam masyarakat Sasak.
Setelah prosesi mengayunkan bayi selesai, perapian kemudian akan disiram menggunakan air kerak nasi yang dicampur daun bikan.
Penggunaan air dan daun tersebut juga memiliki makna tersendiri. Dalam kepercayaan masyarakat Sasak, air kerak nasi dan daun bikan dimaknai sebagai unsur yang memberikan kesejukan bagi tubuh ibu dan bayi.
Dalam tradisi ini ibu dan bayi juga akan dipasangi gelang yang terbuat dari benang hitam dan putih. Selain menjadi penanda bahwa Pedak Api telah dilaksanakan, gelang tersebut juga memiliki makna simbolis.
Benang hitam yakni sebagai pemusnah, sedangkan benang putih dikaitkan dengan kesucian. Perpaduan kedua warna itu dipercaya dapat melindungi ibu dan bayi dari gangguan makhluk halus.

Pemberian Nama Bayi sebagai Momen Sakral
Pedak Api juga menjadi bagian penting dalam pemberian nama bayi. Bagi masyarakat Sasak, nama bukan sekadar identitas, melainkan berkaitan dengan harapan dan doa orang tua terhadap masa depan anak.
Dalam prosesi sakral ini, nama bayi akan dituliskan pada selembar kertas, kemudian kertas itu diberikan kepada bayi untuk digenggam.
Jika bayi menggenggam kertas tersebut, hal itu dimaknai sebagai tanda bahwa nama tersebut diterima oleh bayi menurut kepercayaan dalam tradisi setempat.
Prosesi ini menjadi simbol harapan keluarga agar anak tumbuh dengan baik dan memiliki masa depan yang diharapkan orang tuanya.
Rangkaian Pedak Api juga mencakup pemberian sembek kepada ibu dan bayi. Sembek dibuat dari bahan seperti daun sirih, kapur sirih, dan buah pinang. Dalam tradisi ini sembek ditempatkan pada bagian dada dan kening sebagai bagian dari simbol perlindungan.
Setelah seluruh rangkaian upacara selesai, belian nganak akan memimpin doa penutup. Dan disusul penyerahan andang-andang atau seserahan oleh keluarga yang antara lain berupa beras, uang, dan daun sirih kepada dukun beranak.
Pemberian tersebut merupakan ungkapan terima kasih atas bantuan belian dalam mempersiapkan dan memimpin upacara Pedak Api.
Melihat seluruh rangkaian ritual tersebut, tradisi Pedak Api menyimpan berbagai ajaran luhur mulai dari nilai religius, kerja sama, moral, keindahan, dan nilai vital yang berkaitan dengan simbol-simbol perlindungan.
Tradisi yang diwariskan turun-temurun ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Sasak merawat hubungan antara manusia, keluarga, lingkungan sosial, dan keyakinan melalui sebuah upacara yang sarat simbol dan makna.
