Mabur.co – Buku Revolusi Iran karya Dr. Nasir Tamara pertama kali terbit pada 1980 dan hingga kini merupakan salah satu rujukan berbahasa Indonesia terpenting mengenai peristiwa tersebut, sebagai karya sejarah objektif, tanpa sudut pandang sektarian.
Selain karena telah banyak permintaan dan usul agar buku ini diterbitkan kembali, Iran tetaplah menjadi negara yang menonjol di Timur Tengah, dengan hubungan yang tak pernah putus dengan Indonesia, sehingga selalu relevan untuk dipelajari.
Dalam edisi ini, penulis menambahkan beberapa bagian baru, termasuk epilog yang merangkum perkembangan sejarah Iran sampai masa kini.
Hanya sedikit orang Indonesia yang memiliki pengalaman sedekat Nasir Tamara dengan sejarah modern Iran.
Merasakan Denyut Revolusi Iran
Jurnalis sekaligus penulis kawakan ini pernah menumpang pesawat yang sama dengan Ayatullah Khomeini saat terbang dari Paris menuju Teheran. Ia menyaksikan langsung denyut revolusi Iran dari dalam.
Lebih jauh, pengamat politik Timur Tengah sekaligus wartawan senior, Nasir Tamara, menuturkan, banyak orang mengira perseteruan Iran dan Amerika Serikat berawal dari revolusi tahun 1979.
“Saya meluruskan fakta ini. Percikan konflik sejatinya menyala sejak tahun 1953. Saat itu, CIA mengkudeta Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh pemimpin pilihan rakyat yang demokratis dan menempatkan Shah Reza Pahlevi sebagai penguasa yang tunduk pada kepentingan Barat.
Akumulasi kemarahan rakyat bermula dari sana, lalu meledak 26 tahun kemudian. Menariknya, Ayatullah Khomeini memimpin perlawanan ini bukan dari medan tempur, melainkan dari sebuah desa kecil berjarak 30 kilometer dari Paris. Ia tidak memegang senjata api dan tidak memiliki pasukan militer,” ucapnya, saat ditemui di sela-sela diskusi buku Revolusi Iran di Ndalem Natan, Kotagede, Minggu (27/9/2026) malam.
Peradaban Tertua dan Fondasi Ilmu Pengetahuan Dunia
Menurut Nasir, dunia sering lupa bahwa Iran, atau Persia, mewarisi salah satu peradaban tertua di bumi. Bangsa ini memiliki rekam jejak panjang, mulai dari menyelamatkan kaum Yahudi 2.500 tahun lalu di bawah kepemimpinan Raja Darius, hingga membangun jalur perdagangan lintas benua sebelum negara-negara modern lahir.
“Fondasi ilmu pengetahuan dunia, seperti algoritma dan aljabar, banyak lahir dari pemikir berbahasa Farsi. Bahkan, Jalaluddin Rumi penyair yang karyanya sangat populer di Amerika Serikat saat ini, berasal dari sana. Warisan peradaban ini menanamkan mentalitas imperium yang membuat bangsa Iran selalu melihat jauh ke depan, melampaui batas wilayah mereka sendiri,” ucapnya.

Menurut Nasir, ada tiga faktor utama militer asing selalu gagal menghancurkan negara Iran, yakni karena Iran berpagar pegunungan berbatu keras sekelas granit yang sangat sulit tertembus.
Pemerintah membangun fasilitas nuklir 500 hingga 600 meter jauh ke dalam perut bumi, sehingga bom konvensional musuh tak mampu menyentuhnya. Mereka juga memegang kendali atas celah-celah gunung untuk menyergap pasukan darat lawan dengan mudah.
Pendidikan Gratis Sejak TK hingga Universitas
Negara menggratiskan pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak hingga universitas. Hasilnya, tingkat kecerdasan rata-rata masyarakatnya masuk lima besar dunia.
“Saat musuh membunuh pemimpin atau ilmuwan nuklir mereka, kader baru selalu siap menggantikan karena mereka mandiri dalam teknologi dan tidak bergantung pada negara asing,” ucapnya.
Bagi Nasir, Amerika kerap salah membaca kultur Iran. Tradisi Syiah menempatkan konsep syahid bukan sebagai halangan, melainkan motivasi utama.
“Tekanan bertubi-tubi justru menyatukan barisan dan memperkeras perlawanan mereka,” ucapnya.
Nasir menuturkan, kecerdasan militer Iran terlihat jelas saat mereka merespons serangan besar lawan. Dalam waktu enam bulan, mereka mengubah sistem komando terpusat menjadi sistem mozaik.
Sebanyak 30 provinsi kini memiliki kekuatan regional yang bebas bermanuver tanpa perlu menunggu arahan pusat. Jika satu pemimpin gugur, empat lapis pengganti sudah bersiaga.
“Di medan perang asimetris, Iran menggunakan drone murah seharga 30 ribu dolar untuk mengacaukan sistem pertahanan lawan yang bernilai ratusan juta dolar. Akibatnya, Amerika harus menghamburkan rudal jutaan dolar hanya untuk menjatuhkan pesawat nirawak murah. Taktik ini menguras amunisi musuh hingga butuh waktu sekitar satu dekade untuk memulihkannya,” ucapnya.
Fondasi Ekonomi Rakyat
Menurut Nasir pula, kunci terbesar ketahanan Iran yang sering luput dari pengamatan dunia adalah fondasi ekonomi rakyatnya. Sejak Republik Islam berdiri, pemerintah menomorsatukan pedagang kaki lima, UMKM, dan pedagang pasar tradisional (bazaar). Negara mengontrol konglomerat dengan ketat.
Berkat fondasi tersebut, negara ini tetap berdenyut meski ATM asing mati total, bank internasional menolak beroperasi, dan nilai mata uang merosot tajam.
“Perut rakyat tetap terisi. Inilah alasan utama mengapa embargo selama 47 tahun gagal membuat Iran bertekuk lutut,” ucapnya.
