Mabur.co – Bendera merah-kuning-biru yang dikenal sebagai Bendera Borneo Raya kembali berkibar dan memicu perbincangan soal identitas Dayak, aspirasi masyarakat Kalimantan, hingga posisi simbol tersebut dalam bingkai NKRI. Penggunaan bendera merah-kuning-biru dalam momentum menjelang HUT RI kemudian memunculkan beragam persepsi di tengah masyarakat.
Penggunaan bendera Dayak dengan komposisi warna merah, kuning, dan biru sering dijumpai dalam berbagai agenda adat, festival kebudayaan, hingga musyawarah masyarakat adat di Kalimantan.
Sempat Diturunkan Paksa Aparat
Namun, tak jarang muncul kekeliruan persepsi di tengah publik mengenai kedudukan simbol tersebut. Pengibaran bendera Borneo Raya (Merah Kuning Biru) oleh Aliansi Borneo Raya Menggugat di Sosok, Kecamatan Tayan Hulu, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, sempat diturunkan paksa oleh aparat.
Namun, melalui mediasi bersama Forkopimcam di Polsek Tayan Hulu, bendera tersebut diizinkan berkibar kembali berdampingan dengan catatan posisi Bendera Merah Putih harus berada lebih tinggi dan berdampingan dalam bingkai NKRI.
“Pihak aliansi menyatakan komitmen penuh untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan di dalam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” dilansir akun instagram Kaltara Hari ini, Senin (17/8/2026).
Bukan Simbol Makar
Aliansi menjelaskan, bahwa bendera Merah Kuning Biru merupakan simbol atau identitas budaya Dayak. Aliansi juga menegaskan penggunaan bendera tersebut bukan simbol makar maupun bentuk keinginan untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dijelaskan lebih jauh, filosofi warna Bendera Merah Kuning Biru merepresentasikan elemen masyarakat dan wilayah Borneo, di mana merah menyimbolkan suku Dayak, kuning untuk masyarakat Melayu, serta biru melambangkan etnis lain dan aliran sungai di Kalimantan.
Penyampaian aspirasi, pengibaran simbol ini dimaknai sebagai bentuk ekspresi kultural dan penyampaian perhatian atas keadilan sosial bagi daerah.
Bagi sebagian masyarakat Dayak, Borneo Raya memiliki nilai sejarah dan dipandang sebagai simbol identitas budaya, bukan sebagai simbol pemberontakan.
