Mabur.co- Sebuah sudut tenang di kawasan Patangpuluhan, Wirobrajan, Yogyakarta, berdiri sebuah rumah bersejarah yang menyimpan kisah perjuangan seorang tokoh besar dalam sejarah Indonesia.
Tokoh tersebut tidak lain tidak bukan adalah sang Singa Podium atau presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno.
Rumah itu kini menjadi saksi bisu perjalanan sang Proklamator selama masa perjuangan dan awal kemerdekaan Indonesia.
Mengusung Desain Kolonial
Mengusung desain kolonial menjadi keunikan dan citra tersendiri di antara bangunan lainnya di jalan ini. Bangunan di bilangan Patangpuluhan ini, sekaligus tempat penuh nilai historis dan nasionalisme yang masih terasa kuat hingga hari ini.
Penjaga rumah, Gina mengatakan, rumah ini pernah dijadikan sebagai tempat persembunyian Presiden Soekarno ketika di Yogyakarta pada tahun 1948 terjadi Agresi Militer Belanda ke-2.
Pasukan Belanda menduduki dan menguasai Kota Yogyakarta, setelah mengetahui Kota Yogyakarta diduduki oleh Belanda.
Gedung Agung akan Diserbu Belanda
Muncul kabar jika waktu itu Gedung Agung akan diserbu oleh pasukan Belanda dan Presiden Soekarno akan ditangkap.
“Waktu itu Presiden Soekarno bertempat tinggal di Yogyakarta karena saat itu Yogyakarta menjadi ibu kota Indonesia sebelum dipindah ke Jakarta, mengetahui keselamatan Presiden Soekarno terancam, maka pemilik rumah bernama Purbodiningrat menyarankan kepada Presiden Soekarno untuk bersembunyi di rumah ini,” katanya, Senin (17/8/2026).

Gina menjelaskan, Bung Karno turut serta membawa istri, Fatmawati, beserta kedua anaknya, Guntur Soekarno Putra dan Megawati Soekarno Putri.
Soekarno dan keluarganya menempati kamar di timur ruang tengah, memakai dipan milik istri Purbodiningrat, Siti Aminah.
Mematangkan Ide Perjuangan
Rumah ini menjadi tempat Soekarno beristirahat, menerima tamu penting, serta mematangkan berbagai ide perjuangan bersama tokoh-tokoh pergerakan lainnya.
“Rumah ini menjadi saksi penting, saat Presiden (Soekarno) menerima tamu penting dan merumuskan hal krusial bagi bangsa ini,” tuturnya.
Gina mengatakan, luas rumah itu adalah 500 meter persegi dengan luas tanah 4.213 meter persegi.
Di dalamnya, ada lima kamar tidur dengan dua kamar mandi dan halaman yang luas.
“Saat ini masih ada kasur bekas dipakai Soekarno dan kamar tidurnya yang 50 meter itu. Tegelnya masih asri, meja dan kursinya juga masih asri,” katanya.
