Mabur.co – Mantan capres nomor urut 1 dalam kontestasi Pilpres 2024, Anies Baswedan, kembali melakukan “sindiran halus” terhadap pola kebijakan Presiden Prabowo Subianto, khususnya terkait program unggulan presiden, yakni MBG (Makan Bergizi Gratis).
Dalam pemaparannya yang disampaikan pada sesi kuliah umum di UMSIDA (Universitas Muhammadiyah Sidoarjo), beberapa waktu lalu, Anies menyampaikan bahwa setiap program dari pemerintah harus berbasis pendekatan secara publik.
Artinya program itu dijalankan langsung oleh masyarakat, dan akan dirasakan langsung manfaatnya oleh mereka sendiri. Sehingga pemerintah hanya berfungsi sebagai regulator saja, dan tidak ikut “bermain” di dalamnya.
“Kalau kita ingin membangun (peradaban masyarakat), pendekatannya harus pendekatan movement (menggerakkan masyarakat). Artinya apa, berikan kepercayaan kepada rakyat, agar rakyat sendiri yang mengelola program itu untuk kebutuhan dan kesejahteraan mereka sendiri,” ungkap Anies Baswedan dalam kuliah umum di kampus UMSIDA 1912, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube MerdekaDotCom, belum lama ini.
Anies pun turut mencontohkan apa yang pernah dilakukannya saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta beberapa tahun lalu, di mana ia sempat mengadakan program sarapan gratis bagi siswa-siswi sekolah di Jakarta.
Pada saat itu, semua menu sarapan diserahkan langsung kepada orang tua masing-masing siswa, dengan pengawasan standar kesehatan gizi yang sudah ditentukan oleh ahli gizi. Sehingga yang terjadi adalah, setiap ibu berlomba-lomba menyajikan sarapan terbaik untuk anaknya, agar mampu menyerap pelajaran sekolah dengan lebih baik.
“Apa yang kemudian terjadi? Ibu-ibu itu masak sarapan untuk anaknya, jauh lebih bagus daripada standar pelayanan minimal yang diterapkan oleh pemerintah. Dan anaknya suka dengan menunya,” tambah Anies.
Dengan menerapkan sebuah kebijakan berbasis pendekatan publik, Anies meyakini, masyarakat akan langsung merasakan manfaat dari program tersebut.
Selain itu, anggaran yang tersedot juga akan jauh lebih hemat.
Semua itu jelas bertolak belakang dengan penerapan program MBG saat ini, yang dikerjakan langsung oleh negara (dan dikelola oleh mitra yang menang tender), menelan anggaran yang begitu besar, tidak melibatkan masyarakat dari lapisan terbawah. Serta tentu saja manfaatnya tidak dirasakan langsung oleh para penerima manfaat (anak-anak sekolah), dengan banyaknya kasus keracunan, dan lain-lain. (*)



