Katuyung Kuliner Unik Warga Santuun, Disantap dengan Cara Diseruput

2 Min Read
Dark squid ink pasta with garlic bits and herbs served on an orange plate, a dish with a glossy sauce and bay leaf in the mix.
Katuyung merupakan makanan tradisional khas Tabalong. (Foto: Facebook)

Mabur.co – Masyarakat Nusantara selama ini dikenal mampu memanfaatkan beragam bahan pangan yang ditemukan di alam untuk diolah menjadi aneka hidangan kuliner lezat. 

Salah satunya dilakukan masyarakat di Desa Santuun, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Mereka secara turun-temurun rutin membuat kuliner unik bernama katuyung atau tengkuyung saat musim kemarau tiba.

Siput Air Tawar

Katuyung sendiri merupakan kuliner yang memanfaatkan bahan pangan berupa siput air tawar yang hidup di aliran sungai. Katuyung memiliki bentuk memanjang dengan cangkang berwarna hitam.

Yang membuat katuyung berbeda dari olahan siput pada umumnya adalah cara menyantapnya. Daging katuyung tidak dikeluarkan dari cangkang setelah dimasak, tetapi justru langsung dinikmati dengan cara diseruput.

Warga biasanya mengolah katuyung menggunakan berbagai macam bumbu sesuai selera. Setelah matang, daging yang berada di dalam cangkang kemudian diseruput hingga habis.

Katuyung juga identik dengan musim kemarau. Saat debit air sungai mulai menyusut dan aliran menjadi lebih dangkal, siput air tawar ini lebih mudah ditemukan.

Dilansir dari situs resmi Pemerintah Desa Santuun, Senin (21/9/2026), kondisi tersebut membuat warga memanfaatkan katuyung sebagai bahan pangan ketika ikan semakin sulit ditemukan.

Tradisi mengolah katuyung telah dilakukan masyarakat Desa Santuun sejak puluhan tahun lalu. Namun kini, kuliner ini justru menjadi salah satu makanan khas yang banyak dicari, terutama saat musim kemarau.

Kandungan Gizi

Selain mudah ditemukan di sungai yang surut, katuyung juga disebut memiliki kandungan gizi seperti protein, kalsium, fosfor, zat besi, dan omega-3.

Bagi masyarakat Santuun, katuyung bukan sekadar makanan. Kuliner ini menjadi bagian dari kebiasaan memanfaatkan hasil sungai sekaligus warisan kuliner yang terus dipertahankan hingga sekarang.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar