Pulau Maitara Bertengger di Uang Seribu (Bagian 3)

2 Min Read
Hand holding a 1,000 Rupiah banknote in front of a calm lake with mountains and a boat in the distance (Indonesia)
Foto Pulau Maitara bertengger dalam selembar uang seribu. Foto: Pergimulu

Matahari membakar lembut perairan Ternate saat perahu motor kayu yang saya tumpangi meluncur tenang menuju Pulau Maitara.

Baca Juga: https://mabur.co/kolom/catatan-yang-tercecer-dari-kedaton-kesultanan-tidore-dan-benteng-tahula-bagian-2/

Hanya butuh waktu sekitar 10 hingga 15 menit dari Pelabuhan Bastiong, namun lanskap yang disuguhkan membawa saya masuk ke dalam selembar kenangan sejarah Indonesia.

Baca Juga: https://mabur.co/kolom/kunjungi-kedaton-tidore-gunung-gamalama-jadi-saksi-pelayaran-bagian-1/

Pulau Maitara bukan sekadar hamparan kerucut vulkanik dengan puncaknya yang hijau melingkar. Bagi siapa pun yang pernah memegang uang kertas Rp1.000 emisi 2000-2016, lanskap pulau ini terasa sangat familiar.

Keanggunan Puncak Gunung Marijang

Di sinilah titik pandang nyata ikonik itu berada, membingkai gagahnya Pulau Maitara di depan dan keanggunan puncak Gunung Marijang di Pulau Tidore sebagai latar belakangnya.

Two volcanic islands rise from a blue lake under a clear sky, with a small boat anchored in the foreground.
Pemandangan gunung dan lanskap alam yang indah. Foto: Dok Pribadi

Hal paling mendesak yang harus diceritakan dari Maitara adalah keasrian dan ketenangannya yang kontras dengan hiruk-pikuk kota.

Air lautnya jernih bagai kaca, memperlihatkan terumbu karang yang terjaga dan pesisir pasir putih yang bersih.

Selain itu, potensi wisata bahari seperti snorkeling, keindahan matahari terbenam, serta suasana kehidupan desa pesisir yang autentik menjadi magnet utama yang wajib dirasakan langsung oleh wisatawan.

Nostalgia Sejarah

Kesan mendalam datang dari para pengunjung yang datang berburu nostalgia sejarah.

“Rasanya luar biasa bisa memegang uang seribu rupiah lama sambil membandingkannya langsung dengan pemandangan aslinya di depan mata. Bentuk gunung dan posisinya benar-benar presisi,” ujar Rian, seorang wisatawan asal Jakarta yang saya temui di dermaga.

Keramahan masyarakat lokal pun menjadi jiwa sejati dari pulau ini. Warga desa menyambut setiap pendatang dengan senyuman hangat khas Maluku Utara, menawarkan kopi rempah dan pisang mulut bebek yang lezat.

“Maitara ini rumah kami yang tenang. Kami selalu menjaga kebersihan laut dan alamnya supaya siapa pun yang datang tak hanya ingat uang seribu, tapi juga ingat kebaikan warga di sini,” tutur Pak Kasim, salah satu tokoh masyarakat lokal Maitara.

Maitara adalah bukti nyata bahwa potongan sejarah Indonesia tidak hanya tersimpan rapat di museum, tetapi hidup dan bernapas di tengah perairan Maluku Utara. (Bersambung)

Share This Article
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar