Secara umum persoalan etika bahasa jika mengacu pada pendapat George Edward Moore dalam filsafat analitika, yaitu adanya ungkapan bahasa yang dapat dibedakan antara ungkapan etis dan tidak etis.
Baca Juga: https://mabur.co/kolom/mengenal-bahasa-polewali-mandar-bagian-6/
Ungkapan bahasa dikatakan etis menurut George dalam filsafat analitikanya, tidak identik dengan ungkapan yang bersifat “menyenangkan”.
Baca Juga: https://mabur.co/kolom/bahasa-nosu-mamasa-dalam-upacara-pernikahan-bagian-5/
Pendapat ini adalah merupakan kritik Moore terhadap “kekeliruan naturalistis” (naturalistic fallacy) yang dilakukan oleh para penganut paham etika hedonisme.
Baca Juga: https://mabur.co/kolom/eksotika-bahasa-dan-kampung-nosu-mamasa/
Bahasa Pappasang
Masyarakat Mandar merupakan salah satu suku bangsa yang beruntung memiliki nilai-nilai etika bahasa yang masih tersimpan dalam beberapa naskah.
Baca Juga: https://mabur.co/kolom/rumpun-bahasa-mandar-sulbar-di-mamuju-tengah-dan-majene-bagian-3/
Salah satu bentuk naskah yang berhubungan dengan kearifan dan sarat dengan nilai serta karakter di Mandar, yaitu nilai-nilai yang ada dalam bahasa Pappasang atau pesan-pesan, nasihat, dalam bahasa Mandar.
Baca Juga: https://mabur.co/budaya/nasib-bahasa-daerah-rumpun-mandar-sulawesi-barat-bagian-2/
Pappasang sebagai salah satu bentuk pernyataan mengandung nilai etis dan moral, baik sebagai sistem sosial, maupun sebagai sistem budaya dalam kelompok masyarakat Mandar.
Baca Juga: https://mabur.co/kolom/bahasa-daerah-di-medsos-dapat-insentif-komdigi-bagian-1/
Dalam pappasang terkandung ide yang besar serta buah pikiran yang luhur, pengalaman jiwa yang berharga, dan pertimbangan-pertimbangan yang luhur tentang sifat-sifat yang baik dan buruk.

Pappasang sarat dengan makna dan pesan-pesan moral, karena di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan pedoman hidup, sebagai pengatur tingkah laku pergaulan dalam masyarakat.
Karena itu, perlu adanya upaya pengkajian secara serius guna mengungkap kembali nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya terutama nilai edukatif yang sangat diperlukan untuk pembinaan karakter generasi sekarang dan generasi yang akan datang.
Nilai etika dalam bahasa Mandar (Sulawesi Barat) tercermin secara mendalam melalui penggunaan bahasa sehari-hari.
Pedoman Perilaku
Bahasa Mandar bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cerminan jiwa, martabat, dan pedoman berperilaku yang sarat dengan kearifan lokal.
Dari uraian panjang enam bagian secara keseluruhan yang saya ulas di sini, tentang Rumpun Bahasa Mandar, dapat ditarik beberapa kesimpulan.
Pertama, pentingnya kesantunan. Penggunaan bahasa Mandar menekankan pentingnya menjaga kesopanan dan tata krama (situru’) agar tidak menyinggung perasaan orang lain.
Kedua, kehormatan dan harga diri. Nilai siri’ (malu/harga diri) sangat dijunjung tinggi, di mana tutur kata harus selaras dengan perbuatan untuk menjaga marwah diri dan keluarga.
Ketiga, kehormatan hierarki: sistem sapaan dalam bahasa Mandar memperlihatkan penghormatan terhadap orang yang lebih tua, tokoh adat, serta sesama anggota masyarakat berdasarkan kedudukan sosial.
Empat, harmoni sosial: filosofi bahasa Mandar berfungsi sebagai filter moral untuk meredakan konflik, mempererat kebersamaan, dan merawat keharmonisan hidup bermasyarakat. ***
