Mabur.co – Asap putih mengepul tipis dari sebuah kuali besar.
Aroma daging yang terbakar harum, kuali besar yang terpampang jelas dengan aroma kaldu gurih dan kayu manis yang menenangkan di tengah sesaknya lorong Pasar Beringharjo.
Di sebuah sudut yang tak terlalu luas, denting sendok yang beradu dengan mangkuk menjadi musik latar yang konstan.
Sosok Bu Sum dengan cekatan menyiramkan kuah bening ke dalam nasi yang hangat.
Kedai Soto Bu Sum menjadi tempat bagi para wisatawan maupun warga lokal untuk menikmati semangkuk soto khas Yogyakarta.
Sosok Bu Sum sudah mendirikan kedai ini sejak 1982, di saat banyak kedai baru mulai menjajakan sotonya, Bu Sum tetap bertahan hingga saat ini.
Gunakan Arang sebagai Kunci Pelezat Masakan
Pemilik warung soto, Sumiyati, demikian nama lengkapnya, menuturkan, rahasia kelezatan masakan terletak pada konsistensi rasa dan kualitas bahan baku.
Penggunaan arang dalam proses memasak menjadi kunci utama.
“Teknik tradisional ini menghasilkan aroma dan rasa khas autentik. Asap arang memberikan sentuhan unik pada soto, sate ayam, sate kere, dan gulai, serta menu andalan lainnya yang ada di warung ini,” ucapnya, Sabtu (10/10/2026).

Sumiyati mengatakan, ciri khas warung ini adalah tidak menggunakan bumbu instan dan tetap menggunakan arang untuk memasak, meskipun lebih mahal daripada gas.
Pertahankan Bumbu Ulek
“Proses pembuatan bumbu masih menggunakan teknik ulek manual dengan resep turun temurun. Menu yang paling dicari di sini adalah soto dan sate kere,” ucapnya.
Salah satu pengunjung, Ahmad, wisatawan asal Semarang mengaku, tertarik mencicipi soto Bu Sum karena sudah terkenal.
Menurutnya, cita rasa soto di warung ini sangat enak dan berbeda dari soto pada umumnya.
“Rasanya enak, recommended,” ucapnya. ***
