Mabur.co– Banyak cara dan usaha yang bisa dilakukan untuk mendapatkan penghasilan. Salah satunya dengan menjadi penjual perkakas pertanian di antaranya sabit, bendo, cangkul, media tanam, golok, kampak, gantungan sangkar burung, pisau, gunting dahan, cetok mini, dan garuk mini.
Warga asal Berbah, Sleman, Mukhlisin Mustofa menuturkan, biasa berjualan setiap hari Kamis dan Jumat di Asosiasi Pasar Tani (Aspartan), Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY.
“Untuk hari Minggu saya berjualan di Sunday Morning (Sunmor) UGM, sedangkan hari Selasa berjualan di Kalurahan Condongcatur, Sleman,” ucapnya, Kamis (30/7/2026).
Mukhlisin Mustofa, menuturkan, harga mulai dari Rp5.000 sampai ratusan.
“Alhamdulilah untuk di Kalurahan Condongcatur, setiap minggu pertama omzet saya bisa mencapai Rp800.000, sedangkan di hari biasa antara Rp200.000 sampai Rp300. 000. Kalau di Sunmor antara Rp300.000 sampai Rp500.000. Kalau di Dinas Pertanian antara Rp250.000 sampai Rp400.000,” katanya.

Menurut Mukhlisin Mustofa, masalah di UMKM biasa. Masalah klasik yaitu masalah kendala permodalan karena ini barang awet bukan barang bukan food sehingga memang tetap ada yang beli cuma tidak selaris seperti jualan makanan.
“Ide awal buka ini, saya punya Surat Keputusan (SK) menjadi pengawas Bumkal atau Badan Usaha Milik Kalurahan di Sendangtirto, Kapanewon Berbah, Sleman. Kami paling tidak punya usaha, terus kemudian saya juga sering interaksi dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Saya menekuni berjualan UMKM ini sejak zaman SMA. Saya pernah berjualan perabot rumah tangga. Saat saya kuliah sempat berhenti berjualan UMKM. Saya beralih berjualan kambing, sapi, suplai batu split dan pasir, dan karyawan kampus,” katanya.
Target Memasok Produk KDMP
Mukhlisin Mustofa berjualan UMKM alat-alat pertanian secara intensif awal 2026. Targetnya salah satunya terkait isu KDMP atau Koperasi Desa Merah Putih.
Ia berharap, barang-barang alat perkebunan dan pertanian bisa masuk KDMP. Untuk mendukung ketahanan pangan.
“Pandangan saya terkait UMKM. Pengalaman saya kalau yang clothing, pakaian, food maupun yang lain-lain bisa hidup. Karena itu terkait dengan kebutuhan hidup sehari-hari manusia. Sedangkan UMKM alat pertanian terkait dengan perkebunan. Kesulitan karena tidak semua orang punya lahan untuk menanam sehingga tidak membutuhkan alat-alat pertanian.
Cuma kalau di kota bisa tren. Karena bisa dikembangkan dalam tabulampot atau bisa dikembangkan KWT di desa maupun di kota. Masih ada yang membutuhkan. Artinya, ini masih ada celah untuk orang membutuhkan. Karena ini juga terkait dengan alat-alat tersier untuk pendukung perkebunan dan pertanian,” katanya.
