Mabur.co- Koperasi Merah Putih (KMP) yang berada di 45 Kalurahan Kota Yogyakarta menjadi penggerak kebangkitan batik Segoro Amarto.
Batik Segoro Amarto pertama kali diinisiatori mantan walikota Yogyakarta, Herry Zudianto yang memimpin Kota Yogyakarta dua periode 2001-2006 dan 2006-2011.
Sekarang dengan kepemimpinan Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo dibangkitkan lagi menjadi Segoro Amarto Reborn.
Segoro Amarto Reborn
Segoro Amarto Reborn kini diproduksi dan dipasarkan oleh delapan koperasi binaan Pemerintah Kota Yogyakarta, enam di antaranya melalui Koperasi Merah Putih dengan melibatkan 100 perajin batik dan ratusan tenaga kerja lokal.
Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Yogyakarta, Tri Karyadi Riyanto Raharjo, mengatakan, motif batik Segoro Amarto Reborn merupakan hasil karya kreatif warga kota Yogyakarta yang menggambarkan filosofi kebijakan, ketekunan, keselarasan dan menjadi simbol kebangkitan batik lokal.
Batik ini ditetapkan sebagai seragam pegawai Pemerintah Kota Yogyakarta dan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Kota Yogyakarta.
“Motif Segoro Amarto Reborn ini merupakan hasil dari motif batik lama yang dipengaruhi dengan elemen-elemen yang bermakna tanpa meninggalkan filosofi aslinya,” ujarnya saat ditemui di Pendopo Brotodiningrat, Jalan Suryopranoto, Gunungketur, Pakualaman.

Tri Karyadi mengatakan, dalam batik Segoro Amarto Reborn mengandung berbagai simbol khas Yogyakarta di antaranya Peksi Bulu 10 yang melambangkan kemajuan dan perkembangan di era kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono X.
“Batik ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan para perajin dan produksi yang dikelola melalui Koperasi Merah Putih,” ujarnya.
Tri Karyadi mengatakan, filosofi keseluruhan Segoro Amarto Reborn, berasal dari filosofi Semangat Gotong Royong Agawe Majune Ngayogyakarta yang mencerminkan semangat kebersamaan dalam membangun kota Yogyakarta.
“Saya berharap ini bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Yogyakarta sekaligus memperkuat posisi Kota Yogyakarta sebagai pusat batik dunia,” katanya.




