Mabur.co- Pertempuran Kotabaru terjadi pada 7 Oktober 1945 di daerah Kotabaru, kini bagian dari Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Para pejuang nasional berhadapan dengan serdadu Jepang.
Meskipun pada akhirnya Dai Nippon menyerah, jumlah korban dari pihak Indonesia terbilang banyak.
Sebanyak 21 orang gugur di antaranya ialah Ahmad Jazuli, Supadi, Sunaryo, Akhmad Zakir, Abubakar Ali, dan lain-lain.
Untuk menghormati dan mengenang jasa-jasa mereka, berbagai elemen masyarakat Muslim setempat berinisiatif mendirikan masjid.
Pada 1950 di kawasan Kotabaru, rencana itu akhirnya terwujud.
Berdirilah sebuah tempat ibadah Islam yang kemudian dinamakan Masjid Peringatan Syuhada.
Nama lengkap itu bermakna, tempat ibadah serta monumen pengingat pahlawan atau syuhada yang gugur dalam Pertempuran Kotabaru.
Akan tetapi, kompleks tempat ibadah itu lebih sering disebut Masjid Syuhada.
Masjid tersebut resmi dibuka untuk umum sejak 20 September 1952. Peresmiannya dihadiri presiden RI kala itu, Ir. Sukarno.
Kepala Bagian Perpustakaan Masjid Syuhada Yogyakarta, Panji Kumoro, menjelaskan, Masjid Syuhada memiliki sejarah panjang terhadap perkembangan masjid modern di Indonesia.
Ada pun pembangunan Masjid Syuhada didasari atas persoalan tidak adanya tempat ibadah bagi umat Islam di Kotabaru Yogyakarta, mengingat di sampingnya berdiri megah bangunan Gereja Kristen Batak Protestan.
Selain itu, Pemerintah Indonesia juga bermaksud memberikan hadiah kepada rakyat Yogyakarta atas perjuangan mereka dalam melawan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
“Secara tidak langsung, Masjid Syuhada ini menjadi cikal-bakal dibangunnya Masjid Istiqlal di Jakarta,” terangnya, Rabu (25/2/2026).
Panji Kumoro, menuturkan, Masjid Syuhada ini termasuk salah satu pionir arsitektur masjid modern di Indonesia.
“Bangunan masjid ini sudah dibuat bersekat dan digunakan sesuai dengan fungsinya masing-masing,” terangnya.
Panji Kumoro mengatakan, masjid tersebut menggabungkan berbagai pendekatan arsitektur.
Sejumlah perlambang pun melekat dalam setiap bangunan di kubahnya.
Mengambil bentuk-bentuk bangunan yang berkembang di Persia, India, dan menjadi bagian dari masjid-masjid yang dibangun ketika itu.
Kubah bundar di bagian tengah sebagai kubah utama, dikelilingi kubah kecil di empat sudutnya.
Adanya 17 anak tangga menuju ruang utama, gapura berbentuk segi delapan di depan masjid serta kubah pertama berjumlah empat dan kubah atas berjumlah lima, menunjukkan Hari Kemerdekaan Indonesia, yaitu 17 Agustus 1945.
“Selain simbol nasionalis, bangunan dengan 3 lantai ini juga menyisipkan simbol Islam. Seperti 20 ventilasi di ruang bawah yang menandakan 20 sifat Allah SWT.
Enam jendela di ruang salat pria sebagai rukun iman, lima ventilasi tempat khusus imam simbol rukun Islam, dan dua tiang penyangga di musala putri sebagai simbol dua keyakinan untuk menyeimbangkan kepentingan duniawi serta ukhrawi (akhirat),” ucapnya. ***



