Berusia 400 Tahun, Jembatan Tertua di Indonesia Jadi Penanda Perjalanan Jakarta

6 Min Read
Rusty steel bridge framework under construction over a canal, with palm trees and a distant city skyline in view.
Jembatan Kota Intan di kawasan Kota Tua Jakarta. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Tahukah kamu di mana jembatan tertua di Indonesia? Jawabannya adalah Jembatan Kota Intan, yang terletak di kawasan Kota Tua Jakarta. 

Jembatan ini pertama kali dibangun pada tahun 1628 atau sekitar 4 abad silam. 

Fakta paling menarik adalah jembatan ini dibangun 69 tahun lebih dulu dibanding jembatan tertua di Amerika Serikat yakni Frankford Avenue Bridge.

Ulasan detail tentang Jembatan Kota Intan dapat ditemui pada buku berjudul “Titian Bandar” yang diterbitkan Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta terbitan 2025.

Dalam buku ini diulas secara detail, sejarah panjang perjalanan sekaligus peran jembatan ini dari masa ke masa, yang menyimpan jejak perubahan zaman Kota Tua Jakarta yang dulu bernama Batavia.

Terletak di atas Kali Besar, kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, Jembatan Kota Intan, sendiri merupakan satu-satunya jembatan gantung peninggalan era VOC yang masih tersisa di Indonesia saat ini.

Saat pertama kali dibangun oleh VOC pada 1628, jembatan ini diyakini bernama Engelse Burg atau “Jembatan Inggris” karena berada di sisi barat pemukiman pasukan Inggris.

Sejak awal dibangun jembatan ini memiliki fungsi sangat vital yakni sebagai bagian infrastruktur tata kota Batavia yang merupakan kota pelabuhan tersibuk di Asia Tenggara kala itu. 

Selain menjadi penghubung antarwilayah penting, jembatan ini sekaligus juga merupakan gerbang air untuk memfasilitasi lalu lintas kapal dagang di Kali Besar, yang merupakan Central Business District (CBD) pertama di dalam sejarah Batavia.

Belum lama dibangun, jembatan ini diketahui mengalami kerusakan akibat adanya serangan pasukan Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung yang meluluh-lantakkan Batavia tahun 1628-1629. 

VOC kemudian membangun kembali jembatan ini pada 1630 dan mengganti namanya menjadi Hoenderpasarbrug atau “Jembatan Pasar Ayam”, merujuk pada pasar unggas yang berada di seberangnya.

Saat itu jembatan diperkirakan sudah berbentuk gantung dengan sistem jungkit yang bisa dibuka dibagikan tengahnya untuk lalu lintas kapal dan terbuat dari penopang berbahan kayu.

Banjir Besar

Setelah kembali hancur akibat banjir besar, pada tahun 1645 VOC kemudian membangun ulang jembatan ini dengan memperkuat bagian-bagiannya termasuk menambah struktur beton sebagai penopamgnya.

Jembatan ini kemudian diberi nama Het Middelpunt Burg atau “Jembatan Pusat”.

Historic canal scene with a large metal drawbridge spanning the water and timber supports, flanked by houses and a tree-lined bank.
Jembatan Ophaalbrug Juliana tahun 1952. (foto: dok universitas leiden)

Pada 1740, jembatan ini kembali menjadi saksi bisu peristiwa kelam Geger Pecinan yang menewaskan ribuan orang di Batavia.

Sejak saat itu komunitas Tionghoa yang awalnya tinggal di dalam benteng VOC dipaksa pindah ke luar dan menempati wilayah yang saat ini disebut Grogol.

Setelah melalui masa kejayaan sebagai perusahaan dagang terkaya di dunia, VOC yang berpusat di kota pelabuhan Batavia akhirnya mengalami keruntuhan dan bangkrut pada tahun 1799. 

Sejak saat itu kota pelabuhan Batavia beserta seluruh infrastrukturnya beralih kepemilikan dari aset perusahaan dagang menjadi infrastruktur publik milik negara atau pemerintah kolonial Belanda.

Krisis Ekologis

Akibat krisis ekologis yang parah, kota pelabuhan Batavia kemudian ditinggalkan, dan pusat pemerintahan kolonial berpindah ke wilayah Weltevreden (sekitar Lapangan Banteng Jakarta Pusat) pada tahun 1800.

Meski tetap berdiri, jembatan ini tak lagi memiliki fungsi vital sebagaimana sebelumnya. Hingga awal abad ke 19 jembatan ini lebih menjadi bangunan bersejarah bagi pemerintah kolonial Belanda. 

Pada 1933 jembatan jungkit kayu ini diketahui runtuh setelah strukturnya tertabak perahu. Hal itu pun membuat Dinas Purbakala Hindia Belanda melakukan restorasi besar-besaran jembatan ini guna menyelamatkan nilai sejarah yang dimilikinya.

Seluruh struktur jembatan yang sebelumnya menggunakan material kayu diganti total dengan kerangka besi dan baja yang lebih kokoh dan mulai banyak digunakan kala itu. 

Meski begitu bentuk ikonik jembatan yang menggunakan sistem jungkit mekanis tetap dipertahankan dengan penerapan sistem katrol maupun pemberat yang lebih modern.

Sejak restorasi selesai dan diresmikan tahun 1939 jembatan ini kemudian diberi nama Ophaalbrug Juliana atau Jembatan Ratu Juliana sebagai bentuk penghormatan pada pemimpin Kerajaan Belanda itu yang telah merestorasi jembatan tersebut.

Di masa pasca-kemerdekaan, jembatan ini kemudian berganti nama menjadi Jembatan Kota Intan sesuai dengan nama lokasinya yang pada masa awal pembangunannya terletak persis di ujung pos pertahanan/bastion Diamond (intan) di Kastil Batavia.

Cagar Budaya

Sejak tahun 1972 jembatan ini resmi ditetapkan sebagai benda cagar budaya oleh Gubernur Ali Sadikin dan kembali dipugar pada tahun 2000.

Yakni dengan diperkuat strukturnya. Sementara mekanisme struktur jungkitnya telah dinonaktifkan secara permanen sejak tahun 1990-an.

Sayangnya pada tahun 2023 kajian teknis mendalam menunjukkan kondisi fisik jembatan ini yang menunjukkan tanda-tanda kerusakan parah. Dimana mayoritas komponen bajanya mengalami korosi dan beberapa bagian lainnya mengalami kerusakan. Karena itulah akses menuju jembatan ini saat ini sangat dibatasi. 

Di usianya yang mendekati 400 tahun, Jembatan Kota Intan dengan segala kondisinya tetap menjadi salah satu bagian penting sejarah kota tua Jakarta yang harus terus dilestarikan. 

Tak hanya sekadar sebagai daya tarik wisata, namun juga sebagai monumen sejarah yang merekam jejak panjang sejarah kota Batavia dari masa ke masa.

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment