Jembatan Gantung Peninggalan Belanda di Kulon Progo Pernah Dihancurkan Saat Agresi Militer II

4 Min Read
Person riding a motorcycle across a narrow suspension bridge over a deep, green forested gorge; ornate railing visible in the foreground.
Jembatan Gantung Duwet di Dusun Duwet Banjarharjo Kalibawang Kulon Progo (foto : dok Pemerintah Kabupaten Magelang)

Mabur.co – Terletak di sisi barat kota Yogyakarta tepatnya di sebelah barat sungai Progo, Kabupaten Kulon Progo menyimpan sejumlah bangunan jembatan yang memiliki nilai sejarah penting dalam masa awal perjuangan kemerdekaan. 

Salah satu jembatan yang telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya itu adalah Jembatan Duwet yang terletak di perbatasan antara Dusun Duwet, Banjarharjo, Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, serta desa Bligo, Ngluwar, Magelang.

Jembatan gantung peninggalan pemerintah kolonial Belanda ini dibangun sekitar tahun 1930-an. Meski sudah berusia lebih dari 100 tahun, hingga saat ini jembatan Duwet masih tetap berdiri dan menjadi akses penting bagi sebagian warga sekitar.

Dikutip dari laman resmi Dinas Kebudayaan DIY, Selasa (9/6/2026), jembatan Duwet merupakan jembatan gantung sederhana dengan panjang sekitar 55 meter dan lebar 2,5 meter.

Struktur Jembatan

Struktur utama jembatan ini terdiri dari dua kabel baja besar yang membentang dari satu sisi ke sisi lainnya. 

Kabel utama ini dihubungkan dengan 32 kabel vertikal pada masing-masing sisi yang menopang lantai jembatan.

Lantai jembatan sendiri  tersusun dari 264 balok kayu berukuran 20 x 15 sentimeter yang menjadi ciri khas jembatan ini. Sementara di bagian kiri dan kanan terdapat pagar besi sederhana yang berfungsi sebagai pengaman.

Sebagai jembatan gantung sederhana, Jembatan Duwet hanya bisa dilewati pejalan kaki maupun kendaraan roda dua. Setiap melihtasi jembatan ini pengunjung atau pengendara akan merasakan sensasi ayunan ringan khas jembatan gantung. 

Selain memiliki konstruksi yang unik, jembatan gantung Duwet juga menyimpan nilai sejarah penting dalam masa perjuangan kemerdekaan RI. Dimana jembatan ini menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Yogyakarta melawan penjajah dalam peristiwa Agresi Militer Belanda II.

Dikutip dari laman resmi Museum Benteng Vredeburg, sekitar tahun 1948 Jembatan Gantung Duwet pernah dihancurkan oleh para pejuang maupun pasukan TNI saat perang gerilya, guna menghambat pergerakan tentara Belanda.

Kala itu para pejuang sengaja memutus kabel jembatan Duwet sehingga akses penyeberangan yang melintasi sungai Progo di wilayah tersebut terputus total. Akibat aksi tersebut, jembatan mengalami kerusakan parah dan hanya menyisakan menara penyangga di kedua ujungnya. 

Setelah Indonesia merdeka, jembatan Duwet kemudian direkonstruksi atau dibangun kembali pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX sekitar tahun 1959.

Setahun kemudian tepatnya pada 25 Juni 1960 jembatan akhirnya diresmikan dan bisa kembali beroperasi. 

Guna merenovasi sejumlah kerusakan, jembatan yang telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya ini rutin mendapatkan perawatan.

Pada 2015, jembatan direhabilitasi melalui penggantian lantai kayu, pengecatan ulang struktur baja, pemasangan pengaman tambahan, hingga perbaikan baut dan kabel.

Setahun kemudian, talud pengaman juga dibangun untuk memperkuat area tebing di sisi barat jembatan.

Namun tahun 2024 silam, jembatan Duwet kembali mengalami kerusakan parah setelah talud sisi barat ambrol. Sehingga awal tahun 2026 ini perbaikan pun kembali dilakukan guna mengantisipasi kerusakan semakin parah.

Meski fungsi utamanya telah digantikan oleh jembatan lain yang dibangun secara lebih modern, keberadaan Jembatan Gantung Duwet tetap dipertahankan karena nilai sejarah yang dimilikinya.

Yakni seebagai monumen pengingat akan perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment