Apakah Setiap Lebaran Harus Selalu Bermaaf-maafan? - Mabur.co

Apakah Setiap Lebaran Harus Selalu Bermaaf-maafan?

Mabur.co – Lebaran adalah momen yang selalu ditunggu-tunggu oleh siapa saja, terutama umat Muslim.

Dalam setiap perayaan Lebaran, biasanya akan muncul kata-kata “mohon maaf lahir dan batin”, “mari saling bermaafan”, dan seterusnya.

Tidak hanya itu, di setiap masjid maupun gedung-gedung pertemuan lainnya, biasanya orang-orang juga akan mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin” kepada sesama manusia, baik itu keluarga, teman, kerabat, ucapan di grup media sosial, dan sebagainya.

Secara tidak langsung, kata-kata itu seolah menjadi “ucapan wajib” yang harus disampaikan kepada semua orang, termasuk kepada yang tidak saling kenal sekalipun.

Lalu dari mana asalnya kata-kata “mohon maaf lahir dan batin” saat Lebaran tersebut?

Dan mengapa setiap orang seperti begitu “latah” mengucapkannya kepada semua orang, termasuk kepada orang yang tidak dikenal sekalipun?

Bukan Kewajiban, Tapi Sangat Dianjurkan

Dilansir dari laman Indozone, tradisi bermaaf-maafan saat Lebaran atau Idulfitri di Indonesia sebenarnya tidaklah wajib dilakukan, namun sangat dianjurkan.

Memaafkan secara umum adalah perbuatan mulia, dalam artian memberi ruang untuk mengakui setiap kesalahan yang dilakukan kepada orang lain, baik yang disengaja maupun tidak.

Pada hakikatnya, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan kepada orang lain, sehingga tradisi bermaaf-maafan menjadi lumrah dilakukan oleh setiap orang.

Berikut adalah beberapa alasan sederhana, mengapa Lebaran sangat lekat dengan tradisi bermaaf-maafan.

1. Kembali ke Fitrah (Suci)

Idulfitri sering dimaknai sebagai momen kembalinya manusia kepada kesucian (fitrah) setelah satu bulan penuh berpuasa di bulan Ramadan.

Sehingga momen bermaaf-maafan menjadi cara manusia membersihkan diri dari dosa hubungan antarmanusia (hablum minannas) agar kembali bersih.

2. Melapangkan Dada (Makna Asli ‘Lebaran’)

Lebaran sering dikaitkan dengan kata ‘lebar’, yang artinya lapang atau luas.

Momen ini dimaknai sebagai kesempatan untuk berlapang dada, sekaligus ikhlas memaafkan kesalahan sesama manusia.

3. Penyempurna Ibadah

Meskipun dosa telah diampuni Allah melalui ibadah, dosa kepada sesama manusia tetap perlu diselesaikan dengan meminta maaf secara langsung.

Otomatis tradisi ini menjadi momen krusial, untuk menyempurnakan “kemenangan” di hari raya.

4. Mempererat Tali Silaturahmi

Momen Lebaran adalah waktu berkumpulnya keluarga dan kerabat (dengan mudik).

Saling bermaafan menjadi momen emosional yang dapat memperkuat hubungan silaturahmi, yang bisa jadi sempat renggang dalam setahun terakhir.

5. Tradisi Halalbihalal

Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia, Indonesia memiliki salah satu tradisi unik di setiap perayaan lebaran, yakni ketika orang-orang berkumpul di suatu tempat tertentu (misalnya masjid atau balai desa) untuk saling bermaaf-maafan dalam suasana hangat, sehingga menciptakan rekonsiliasi sosial yang harmonis.

6. Faktor Psikologis

Suasana Lebaran yang penuh sukacita tentunya akan memudahkan manusia untuk saling menurunkan ego, menurunkan tingkat stres, dan memaafkan kesalahan orang lain (bahkan yang disengaja) dibandingkan hari-hari biasanya. 

***

Bermaaf-maafan saat momen Lebaran memang sesuatu yang sangat baik untuk dilakukan. Namun jangan sampai tradisi ini hanya sekadar formalitas belaka.

Karena dinamika yang terjadi saat ini adalah, kesempatan bermaaf-maafan di hari raya hanya dianggap sebagai kegiatan simbolis atau formalitas saja, tanpa benar-benar tulus meminta maaf kepada orang yang diajak bermaafan.

Apalagi ketika aktivitas bermaaf-maafan ini dilakukan kepada banyak orang sekaligus dalam waktu singkat, tentu saja kesan “formalitas” akan menjadi sangat terasa, dan tidak memiliki esensi yang bermakna di dalamnya, kecuali saling bersalaman.

Selain itu, bermaaf-maafan juga tidak harus selalu dilakukan saat momen lebaran saja. Karena bermaaf-maafan juga bisa dilakukan kapan saja, dan dalam momen apa saja, tidak perlu harus satu tahun sekali, apalagi kepada banyak orang sekaligus, termasuk kepada orang yang tidak dikenal sekalipun.

Tanpa bermaaf-maafan sama sekali pun, Anda tetap layak merayakan lebaran dengan siapa saja tanpa perlu merasa bersalah, sekalipun tidak bermaaf-maafan dengan orang-orang yang ada di sekitar Anda. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *