Dinamika Kehidupan Era Mataram (1) - Mabur.co

Dinamika Kehidupan Era Mataram (1)

Enam ratus tahun bukan kekosongan. Enam ratus tahun adalah kehidupan yang tak dicatat, bukan kehidupan yang tak ada.

Ada jurang enam abad dalam sejarah Mataram yang selama ini dibiarkan menganga. Di satu sisi, berdiri Mataram Hindu yang agung, melahirkan Prambanan, Borobudur, dan prasasti-prasasti yang menggetarkan.

Di sisi lain, tiba-tiba muncul Mataram Islam dengan Ki Ageng Pamanahan membabat ‘hutan kosong’ di Alas Mentaok pada 1570-an. Di antara keduanya: kesunyian sejarah selama kira-kira 600 tahun, seolah-olah tanah paling subur di Jawa itu benar-benar tidak berpenghuni selama enam abad.

Ini adalah ilusi historiografis terbesar dalam sejarah Jawa. Dan kini, dari berbagai sudut, arkeologi, lingustik historis, ekologi, prasastologi, naskah kuno, hingga data sosiologi, ilusi itu dapat kita bongkar satu per satu.

Artikel ini adalah upaya rekonstruksi yang paling komprehensif hingga saat ini tentang kehidupan masyarakat di kawasan Mataram, khususnya Kotagede dan Pleret, selama rentang waktu yang selama ini ‘dihilangkan’ dari narasi resmi.

Menggunakan data yang terverifikasi dari berbagai disiplin ilmu, kita akan membuktikan bahwa Mataram tidak pernah tidur. Ia hanya berubah bentuk.

Kesaksian Arkeologi, Kota yang Terkubur di Bawah Abu Gunung dan Situs Liyangan, Jendela ke Kehidupan Sehari-hari Mataram Kuno

Untuk memahami seperti apa kehidupan masyarakat di kawasan Mataram sebelum Mataram Islam, kita perlu menoleh ke sebuah situs yang berjarak sekitar 80 km ke utara Kotagede: Situs Liyangan di lereng Gunung Sindoro, Temanggung, Jawa Tengah.

Situs ini bukan hanya arkeologi biasa, ia adalah kapsul waktu yang tersegel oleh abu vulkanik, menyimpan gambaran kehidupan masyarakat Mataram Kuno dalam detail yang belum pernah ditemukan di tempat lain.

Ditemukan pada 2008 oleh penambang pasir yang secara tidak sengaja menggali candi di kedalaman delapan meter, Situs Liyangan kemudian diekskavasi secara sistematis oleh Balai Arkeologi Yogyakarta sejak 2009.

Hasilnya mengejutkan dunia arkeologi Indonesia: bukan sekadar candi dan artefak, melainkan sebuah desa lengkap yang terkubur, dengan hunian, sawah, jalan, saluran air, dan area pemujaan yang masih dalam konteks aslinya.

Kronologi Situs Liyangan: Abad ke-2 M (pra-Hindu) hingga abad ke-10/11 M, terkubur letusan besar Gunung Sindoro. Diteliti Balai Arkeologi Yogyakarta sejak 2009 hingga kini.

Tata Ruang yang Mencerminkan Peradaban Terencana

Situs Liyangan terdiri dari empat teras bertingkat yang menuruni lereng gunung, sebuah tata ruang yang sangat terencana dan mencerminkan hirarki sosial yang jelas.

Sugeng Riyanto, ketua tim ekskavasi dari Balai Arkeologi Yogyakarta, mengidentifikasi strukturnya:

Teras pertama (paling atas) adalah area pemujaan, tempat candi, batur-batur, dan yoni unik berlubang tiga. Di sinilah komunitas bersatu dalam ritual.

Teras kedua adalah pelataran luas tempat tinggal penduduk, dengan ratusan bekas rumah panggung berbahan kayu, bambu, dan ijuk.

Teras ketiga menyimpan candi yang lebih besar dan saluran air yang terstruktur.

Teras keempat (paling bawah) adalah petirtaan, kolam pemandian suci. Di sisi barat dan selatan: hamparan sawah dan ladang kuno, dilengkapi sistem irigasi yang telah terencana.

Dan yang paling menakjubkan: sebuah jalan makadam kuno yang lebar, satu-satunya di Indonesia dari era ini, membelah seluruh kompleks. Jalan batu yang mampu dilalui kendaraan, dibangun di ketinggian lereng gunung yang terjal.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid yang meninjau langsung menyatakan: ‘Melihat arsitekturnya, melihat kompleksitasnya, ini dibangun di lereng yang menurun, itu tidak mudah. Secara matematis, selama 300 tahun kawasan ini menjadi tempat pemukiman yang hidup.’

Satu-satunya jalan makadam kuno di Indonesia ditemukan di desa Mataram yang terkubur abu gunung. Siapa bilang mereka primitif?

Jaringan Perdagangan Internasional dari Desa di Lereng Gunung

Di antara reruntuhan rumah-rumah panggung Liyangan, para arkeolog menemukan pecahan keramik dari Dinasti Tang Tiongkok, abad ke-9 hingga ke-10. Bukan satu dua pecahan, melainkan dalam jumlah yang signifikan sebagai bukti perdagangan yang rutin.

Ini adalah data yang revolusioner: sebuah desa di lereng gunung di pedalaman Jawa sudah terhubung dengan jaringan perdagangan maritim internasional yang membentang hingga daratan Tiongkok.

Selain keramik Tang, ditemukan pula berbagai perkakas logam, perhiasan, tembikar halus, dan paling mengejutkan adalah sisa-sisa gabah (beras) yang hangus terbakar, masih dalam konteks aslinya. Ini adalah bukti pertanian padi yang terorganisir. Ada pula cap-cap bekas tanaman yang masih terlihat di lapisan tanah pertanian kuno.

Masyarakat Liyangan bukan hanya bertani, mereka bertani dengan sistem yang terencana, dengan irigasi, dengan pembagian lahan yang jelas, dan dengan surplus yang cukup untuk diperdagangkan secara internasional.

Apa relevansinya dengan Kotagede?

Liyangan adalah cermin dari seperti apa kehidupan masyarakat di poros peradaban Mataram Kuno, kawasan pegunungan Merapi-Sindoro-Sumbing- Dieng yang menjadi tulang punggung kerajaan. Kotagede, yang terletak di kaki Merapi dalam radius peradaban yang sama, tentu memiliki karakter kehidupan yang tidak jauh berbeda: terorganisir, bertani, berdagang, berperadaban.

Supratikno Rahardjo dan Tesis Kontinuitas: Peradaban Jawa Tidak Pernah Putus

Jika Situs Liyangan adalah bukti arkeologis, maka Supratikno Rahardjo memberikan kerangka teoritis yang menjadi fondasi pemahaman kita tentang kontinuitas peradaban Jawa. Dalam bukunya Peradaban Jawa: Dari Mataram Kuno sampai Majapahit Akhir (Komunitas Bambu, 2011), yang merupakan hasil disertasi doktoralnya.

Supratikno, arkeolog dan sejarawan dari Universitas Indonesia, melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya: merekonstruksi secara holistik peradaban Jawa selama delapan abad, dari abad ke-8 hingga ke-15, melalui tiga pranata utama: politik, agama, dan ekonomi.

Kesimpulan terpenting Supratikno, yang ia sampaikan dalam peluncuran buku di FIB UGM pada 28 Mei 2011, adalah ini: peradaban Jawa kuno menunjukkan kontinuitas meskipun mengalami masa-masa kemunduran.

Bukan hanya itu, ia juga membuktikan bahwa Mataram Kuno yang selama ini dikenal sebagai model kerajaan agraris ternyata juga memiliki dimensi maritim yang kuat, dengan jaringan perdagangan yang membentang jauh melampaui batas Pulau Jawa.

Tesis Supratikno Rahardjo: Peradaban Jawa tidak berakhir pada masa Majapahit, tetapi terus hidup hingga saat ini, menjadi bagian integral sejarah Jawa dan Indonesia. Pranata ekonomi menunjukkan kontinuitas meskipun mengalami masa-masa kemunduran.

Yang paling relevan untuk argumen kita: Supratikno menghimpun ribuan data termasuk ‘hal-ihwal remeh kehidupan sehari-hari’ masyarakat Jawa Kuno, pola pertanian, sistem pasar, struktur kampung, hierarki sosial, praktik keagamaan lokal.

Dari data-data ‘remeh’ inilah terlihat bahwa kehidupan masyarakat biasa berlangsung terus-menerus, tidak terputus oleh perpindahan pusat kerajaan. Ketika Mpu Sindok membawa mahkota ke Jawa Timur, yang ikut hanyalah lapisan tipis elit kerajaan, bukan petani, bukan pengrajin, bukan pedagang pasar, bukan pendeta desa.

Dengan kata lain: perpindahan ibukota adalah perpindahan birokrasi dan militer, bukan perpindahan masyarakat. Dan masyarakat itulah yang tetap tinggal di Mataram, melanjutkan kehidupan mereka dengan cara yang tidak banyak berubah selama berabad-abad.
Yang pindah ke Jawa Timur adalah raja dan birokrasinya. Yang tetap tinggal adalah rakyat dan peradabannya.

Prasasti Rukam dan Kehidupan Desa Mataram Kuno

Di antara ribuan prasasti yang ditinggalkan era Mataram Kuno, ada satu yang sangat istimewa untuk keperluan kita: Prasasti Rukam, ditemukan di Parakan, Temanggung, tidak jauh dari Situs Liyangan, dan berasal dari masa Mataram Kuno. Prasasti ini istimewa karena bukan tentang perang atau silsilah raja, melainkan tentang kehidupan desa: pembebasan pajak, hak-hak komunitas, dan tata kelola lokal.

Para arkeolog dari Balai Arkeologi Yogyakarta secara eksplisit mengaitkan Prasasti Rukam dengan Situs Liyangan, sebagai bukti bahwa desa yang terkubur di Liyangan itu adalah bagian dari sistem administratif kerajaan yang diatur melalui prasasti-prasasti semacam ini. Ini membuktikan bahwa masyarakat desa di kawasan Mataram bukan komunitas liar tanpa organisasi, mereka adalah bagian dari sistem pemerintahan yang terstruktur, dengan hak-hak yang tercatat, dengan kewajiban pajak yang diatur, dan dengan perlindungan hukum dari kerajaan.

Sistem desa (wanua/thani) dalam Mataram Kuno sudah sangat terorganisir. Setiap desa memiliki pemimpin lokal (rakai), memiliki tanah komunal dan tanah pribadi yang diakui, memiliki sistem irigasi bersama (subak dalam versi Jawanya), dan memiliki tempat pemujaan komunal. Ketika kerajaan berpindah ke timur, sistem ini tidak ikut berpindah. Ia tetap berfungsi, karena ia adalah sistem masyarakat, bukan sistem negara.

Data Prasasti: Prasasti Rukam (Temanggung, era Mataram Kuno) mengatur tata kelola desa dan pembebasan pajak, bukti sistem administratif desa yang terstruktur di kawasan Mataram. (Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *