Sesekali mari kita melihat Rusia lebih dekat dari lensa karya kreatif mutakhir The Wizard of the Kremlin (novel karya Giuliano da Empoli, 2022) maupun adaptasi film besutan Olivier Assayas (2025).
Eksplorasi naratif satire politik keduanya merupakan studi otopsi kekuasaan yang menarik untuk memahami kerja mesin politik modern. Sebuah eksplorasi tentang bagaimana realitas terbentuk, direkayasa, diputarbalikkan, dan dijual sebagai kebenaran mutlak yang dijejalkan kepada masyarakat.
1/
Novel Da Empoli—judul asli dalam Bahasa Prancis Le Mage du Kremlin–menjadi cetak biru yang brilian.
Melalui karakter Vadim Baranov (terinspirasi sosok nyata pengusaha-politisi Vladislav Surkov), seorang mantan sutradara teater yang menjadi sosok penting di belakang layar Kremlin, Da Empoli menyodorkan hipotesis bahwa politik Rusia kontemporer sebenarnya sudah tidak lagi berakar pada ideologi, melainkan pada kemahiran menata panggung depan kekuasaan.
Baranov bukan sekadar penasihat politik, ia adalah “penyihir” yang memahami bahwa di era pasca-Soviet, kekuatan tidak diukur dari militer semata, melainkan dari kemampuan mendefinisikan realitas.
Dengan format monolog pengakuan dosa, novel ini memandu pembaca memasuki lorong-lorong logika Baranov yang nihilistik, kejam, dan—anehnya—memiliki daya pikat menakutkan.
Da Empoli menunjukkan bahwa politik sejatinya adalah komoditas dengan rumus sederhana: ciptakan kekacauan, lalu jual stabilitas sebagai satu-satunya solusi. Hanya itu. Cukup itu.
2/
Dalam adaptasi filmnya, Sutradara Olivier Assayas –yang juga menulis skenario bersama Emmanuel Carrère– mencoba menerjemahkan kompleksitas tersebut ke dalam panorama visual yang terkendali.
Alih-alih menjadikan thriller politik yang ingar-bingar ala tipikal film-film politik Hollywood, Assayas memilih pendekatan yang dingin. Slow burn. Pengadeganan lebih berfokus pada tatapan mata dan percakapan di ruang-ruang remang daripada aksi fisik gegap gempita.
Aktor Paul Dano yang memerankan Vadim Baranov, berhasil menampilkan aura kerapuhan berbahaya seorang intelektual yang kehilangan kompas moralnya, menghasilkan kondisi batin yang keruh.
Sedangkan akting Jude Law sebagai Vladimir Putin—dengan nama julukan “Tsar”–adalah penghayatan tentang keheningan yang mengesankan. Anti-mimikri.
Ia tak melakukan imitasi fisik atau gaya bicara seperti layaknya pendekatan peran terhadap tokoh-tokoh besar dalam sejarah.
Sebaliknya, Law memilih pendekatan lebih abstrak sebagai sosok yang hampir tidak pernah gelisah, tidak menunjukkan syahwat politik, melainkan memosisikan diri sebagai “monumen yang bernapas” sesuai arahan Assayas. Maka, Putin tak lebih dari sebuah proyek konstruksi politik yang bernas.
3/
Di balik magnet narasi prosaistik (novel) dan panorama visual hegemonik (film), The Wizard of the Kremlin membutuhkan pembacaan dekat (close reading) yang lebih kritis.
Sebagai sebuah karya, ia memiliki tiga dilema ambivalensi etis.
Pertama, romantisasi terhadap sosok antagonis. Assayas memberikan aura “intelektual kesepian” yang terlalu puitis. Baranov terlihat sebagai “seniman kesepian yang disalahpahami” masyarakat, alih-alih seorang manipulator licik yang menghancurkan struktur masyarakat sipil.
Risiko terburuk usai film selesai adalah penonton bisa kagum—bahkan “jatuh cinta”—pada kelihaian manipulatifnya, ketimbang tersadarkan atas konsekuensi berbahaya dari tindakan licik.
Kedua, secara sosiologis, film ini mewakili fenomena “elitisme naratif”.
Dunia yang digambarkan adalah dunia kalangan atas yang steril: kantor mewah, ruang rapat eksklusif, serta para oligark dan deep state.
Sementara rakyat Rusia sebagai subjek yang paling terdampak oleh “teater” Baranov hanya muncul sebagai statistik. Kerumunan tanpa wajah.
Kita melihat bagaimana propaganda dibuat, namun kita jarang melihat bagaimana kehidupan nyata rakyat hancur lebur akibat propaganda.
Ketiga, dengan terus-menerus menekankan bahwa “politik adalah teater,” The Wizard of the Kremlin seperti memberikan justifikasi moral kepada karakternya, bahwa “Jika segalanya adalah sandiwara, maka tidak ada yang benar-benar bisa disalahkan.”
Nilai benar-salah menjadi nisbi, dan penyimpangan kekuasaan menjadi relatif.
Keunggulan sinematik yang dihadirkan Assayas melalui kedisiplinan akting dua aktor utama—Paul Dano dan Jude Law–tidak dapat menutupi gerowongnya pesan moral politik yang sehat.
Ini bisa mengganggu bagi sebagian penonton, meski mungkin tidak masalah bagi sebagian lainnya yang hanya ingin mendapatkan sebuah cara pandang dalam keragaman interpretasi New Historicism di era Post-Truth.
Dalam konteks ini, The Wizard of the Kremlin tetap bermanfaat sebagai cermin yang menunjukkan kepada kita bahwa integritas politik dengan nilai-nilai kebajikan yang stoik dan idealistik sudah tergusur oleh kepiawaian mendongeng dan rekayasa data dan fakta.
Sebuah pengingat bahwa kita terlalu sering lupa melihat siapa tumbal dan korban sesungguhnya di bawah panggung gemerlap para politisi yang mahir bersandiwara.
Dan ini, sejatinya bukan hanya fenomena khas Rusia. Juga terjadi di negara lain dengan panggung politik domestik masing-masing yang ditata dengan dekorasi propaganda dan manipulasi kekuasaan. ***
Jakarta, 3 Mei 2026



