Enam Ratus Tahun yang ‘Hilang’: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
928–1100 M: Mataram Pasca-Perpindahan
Sekitar tahun 928–929 M, Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan ke Jawa Timur dan mendirikan Dinasti Isyana. Pertanyaan besar: mengapa? Dua hipotesis utama bersaing: letusan dahsyat Gunung Merapi yang menghancurkan kawasan Mataram Tengah, atau strategi politik untuk lebih dekat dengan jalur perdagangan Selat Madura.
Yang manapun yang benar, konsekuensinya sama: kawasan Mataram Tengah kehilangan pusat kekuasaan politiknya. Tetapi bukan penduduknya. Bukti Situs Liyangan memperlihatkan bahwa desa-desa Mataram Kuno di kaki pegunungan terus berfungsi hingga abad ke-10, bahkan beberapa berlanjut ke abad ke-11, ketika akhirnya terkubur letusan Gunung Sindoro. Ini berarti kepergian Mpu Sindok tidak serta-merta mengakhiri kehidupan di kawasan ini.
1100–1300 M: Kawasan di Bawah Bayangan Kedhiri dan Singasari
Selama periode Kedhiri dan Singasari, kawasan Mataram Tengah kemungkinan besar menjadi wilayah administratif bawahan yang relatif otonom. Tidak ada prasasti besar dari kawasan ini pada periode ini, tetapi absennya prasasti bukan berarti absennya kehidupan. Prasasti hanya ditulis untuk hal-hal yang penting secara kerajaan: pembebasan tanah, pendirian candi kerajaan, konfirmasi jabatan. Desa-desa yang berjalan normal tidak perlu prasasti.
Yang penting adalah jaringan ekonomi yang terus berjalan. Kawasan Mataram Tengah adalah produsen pertanian utama, padi, palawija, dan hasil hutan, yang tetap dibutuhkan oleh kerajaan-kerajaan penerus. Jalur perdagangan dari barat ke timur yang melintasi Mataram tidak berhenti hanya karena ibukota berpindah.
1300–1478 M: Mataram sebagai Wilayah Majapahit
Pada era Majapahit, status Mataram kembali terdefinisi dengan jelas. Pararaton mencatat Bhre Mataram sebagai jabatan gubernatorial resmi, diisi oleh anggota keluarga kerajaan. Ini bukan jabatan simbolis. Dalam sistem Majapahit, seorang Bhre adalah penguasa daerah yang memiliki otoritas nyata: memungut pajak, memimpin pasukan, mengadili perkara, dan mewakili kepentingan pusat.
Banawa Sekar menyebut ‘Natharata ring Mataram’ dalam konteks upacara kerajaan Majapahit yang paling megah, persembahan untuk upacara sraddha raja. Artinya penguasa Mataram cukup penting untuk disebut dalam ritual tertinggi kerajaan. Bukan penguasa desa terpencil, penguasa wilayah yang diperhitungkan.
Dan artefak Majapahit ditemukan terkubur di bawah Pleret: gerabah berornamen Majapahit abad ke-13 dari ekskavasi Situs Keputren 2023. Bukan benda impor yang tiba secara kebetulan, ini benda bangsawan yang menandai kehadiran orang-orang dari lapisan atas di kawasan tersebut.
Rangkuman Data Majapahit di Kawasan Mataram: Pararaton: jabatan Bhre Mataram. Banawa Sekar: Natharata ring Mataram. Ekskavasi Pleret 2023: gerabah berornamen Majapahit abad ke-13. Tiga sumber berbeda, satu kesimpulan: Mataram hidup dan diakui sepanjang era Majapahit.
Satu bukti fisik lagi perlu disebut secara khusus, meski berasal dari lapisan yang lebih tua: Yoni yang masih berdiri di Sendang Selirang Putri, Kotagede, telah diinventaris BPCB DIY dengan nomor C.127. Yoni bukan artefak Majapahit. Ia adalah warisan Siwaisme yang masuk ke Jawa sejak abad ke-7–8 M, sejaman dengan Mataram Kuno.
Keberadaannya di Sendang Selirang, yang tetap di tempat, tidak dipindah, tidak dihancurkan, melampaui pergantian era Hindu ke Islam, adalah bukti paling diam namun paling keras bahwa kawasan ini telah menjadi ruang sakral sejak Mataram Hindu, jauh sebelum Majapahit berdiri, dan terus diakui kesuciannya hingga hari ini.
1478–1570-an M: Masa Transisi Majapahit–Demak–Pajang
Periode antara keruntuhan Majapahit (1478) hingga kedatangan Pamanahan (1570-an) adalah yang paling gelap dalam data tertulis. Tapi bukan berarti gelap dalam kehidupan. Justru pada masa inilah kemungkinan besar Raden Joyoprono muncul sebagai pemimpin lokal yang mengisi kekosongan otoritas pasca-Majapahit.
Bujangga Manik, peziarah Sunda yang mengelilingi Jawa pada akhir abad ke-15 atau awal ke-16, melewati kawasan Mataram dalam perjalanannya. Ia mencatat nama-nama tempat dengan akurasi topografis yang luar biasa. Kawasan itu disebutkan sebagai bagian dari landscape yang hidup, bukan sebagai bekas peradaban yang mati atau hutan belantara yang ditakuti.
Pada masa ini pula, kawasan Mataram berada dalam zona transisi yang kompleks secara politik: Demak yang baru berdiri belum sepenuhnya menguasai pedalaman Jawa. Catatan De Houtman (1596) menyebut Mataram dan Demak sebagai dua entitas yang sejajar, bukan hubungan atasan-bawahan. Ini mengisyaratkan bahwa selama rentang waktu itupun, Mataram mempertahankan identitas dan otoritas politiknya sendiri.
600 tahun bukan kekosongan. Ia adalah kehidupan yang terus berjalan di bawah radar sejarah yang ditulis oleh pemenang.
Membaca Kehidupan dari Nama Kampung: Arkeologi Linguistik Kotagede
Jika tidak ada prasasti dan tidak ada babad yang mencatat kehidupan masyarakat biasa, ada satu sumber yang hampir tidak bisa dimanipulasi: nama-nama tempat. Toponimi adalah fosil linguistik, nama yang terbentuk dari pengalaman kolektif berabad-abad dan sangat sulit diubah begitu saja oleh kekuasaan baru.
Di Kotagede, nama-nama kampung yang berkaitan dengan profesi pengrajin logam, Pandheyan (pandai besi/logam), Sayangan (pengrajin tembaga dan perunggu), Mranggen (pembuat keris dan senjata), Samakan (penyamak kulit), adalah bukti linguistik bahwa komunitas pengrajin sudah ada dan sudah memiliki identitas kolektif sebelum Mataram Islam berdiri.
Mengapa ini penting? Karena komunitas pengrajin logam, terutama pembuat keris dan peralatan pertanian adalah komponen yang tidak terpisahkan dari peradaban Mataram Kuno. Keris adalah benda sakral sekaligus senjata yang telah ada sejak era Hindu. Para pandai besi yang mewarisi tradisi ini bukan muncul tiba-tiba dalam dua dekade setelah Pamanahan datang, mereka adalah keturunan langsung dari komunitas pengrajin yang sudah ada jauh sebelumnya, yang namanya diabadikan dalam nama kampung mereka.
Dan yang paling signifikan: Kampung Jayapranan, yang berasal dari nama Ki Jayaprana/Joyoprono, penghuni asli Mentaok, adalah kampung TERTUA di Kotagede. Bukan kampung yang dibangun Pamanahan. Bukan kampung yang diberi nama oleh Senopati. Ini kampung yang namanya merekam kehadiran orang yang ada sebelum mereka semua.
Kehidupan Spiritual: Lapisan yang Paling Tak Bisa Dihapus
Di antara semua aspek kehidupan masyarakat, dimensi spiritual adalah yang paling sulit dihapus dan paling lama bertahan melampaui pergantian kekuasaan. Dan di kawasan Kotagede-Pleret, jejak spiritual Hindu-Jawa itu hadir dalam bentuk yang sangat fisik dan sangat tua.
Yoni di Sendang Selirang: Saksi Pemujaan yang Mendahului Segalanya
Sendang Selirang di Kotagede bukan sekadar mata air. Dalam tradisi Hindu-Jawa, sendang adalah tirtha, air suci yang mengalir dari persimpangan dunia manusia dan dunia dewa. Di sekitar sendang inilah ditemukan Yoni, simbol pemujaan kosmik yang merupakan bagian dari pasangan lingga-yoni, representasi kekuatan penciptaan dalam tradisi Siwaisme.
Yoni tidak dipasang di sembarang tempat. Ia selalu ditempatkan di lokasi yang sudah dianggap sakral oleh komunitas, baik karena keberadaan sumber air, karena letaknya yang menghadap gunung suci, atau karena tradisi pemujaan leluhur yang sudah mengakar lama. Keberadaan Yoni di Sendang Selirang mengkonfirmasi bahwa kawasan ini adalah pusat ritual komunitas Hindu-Jawa yang aktif, jauh sebelum masjid pertama dibangun di sana.
Yang paling menggetarkan: ketika Pamanahan dan Senopati membangun kompleks sakral Mataram Islam, mereka tidak menghancurkan sendang dan Yoni itu. Mereka mempertahankannya, bahkan mengintegrasikannya ke dalam sistem sakral baru. Ini bukan toleransi yang kebetulan, ini adalah pengakuan bahwa kesucian tempat itu terlalu tua dan terlalu kuat untuk diganggu. Ia sudah ada sebelum mereka lahir. Dan ia akan ada setelah mereka pergi.
Lima Gapura Paduraksa: Mandala yang Sudah Ada Sebelum Masjidnya
Di kompleks Kotagede terdapat lima Gapura Paduraksa, gapura dengan atap dan ornamen khas Hindu-Jawa. Kelimanya membentuk sistem hierarki ruang yang sangat khas tata ruang Hindu: Gapura Timur dan Gapura Utara sebagai pintu masuk halaman masjid, gapura ketiga menghubungkan halaman masjid dengan halaman abdi dalem (juru kunci), gapura keempat dari halaman abdi dalem menuju makam Panembahan Senopati, dan gapura kelima dari halaman abdi dalem menuju Sendang Selirang.
Semakin ke dalam, semakin sakral, dan menariknya, dua titik paling sakral di ujung perjalanan itu adalah makam raja dan sendang suci: satu warisan Islam, satu warisan Hindu-Jawa yang jauh lebih tua. Ini adalah konsep mandala dalam arsitektur Hindu yang dipertahankan utuh, ruang kosmologis berlapis dari profan menuju sakral, dengan dua kutub kesucian yang berbeda era namun berdampingan dalam satu sistem tata ruang yang harmonis.
Tipologi Paduraksa, gapura dengan atap penuh dan ornamen kala-makara, adalah arsitektur Hindu yang sudah dikenal sejak era candi-candi Jawa Tengah abad ke-8. Ia bukan arsitektur Islam. Ia bukan pula arsitektur sinkretis yang diciptakan di era Mataram Islam. Ia adalah warisan langsung dari tradisi arsitektur sakral Hindu-Jawa yang berusia ratusan tahun.
Apakah gapura-gapura ini sudah ada sebelum Mataram Islam, ataukah dibangun baru dengan langgam lama? Kedua kemungkinan itu sama-sama berbicara tentang hal yang sama: ada komunitas yang mewarisi dan mempertahankan tradisi arsitektur Hindu-Jawa ini, baik karena struktur itu sudah ada di sana, maupun karena tradisi itu masih hidup dalam ingatan dan keahlian para pembangunnya.
Gapura Paduraksa tidak muncul dari kekosongan. Ia muncul dari ingatan kolektif komunitas yang mewarisi tradisi ratusan tahun.
Van Mook dan Kotagede: Kesaksian Sosiolog Kolonial
Di luar sumber-sumber arkeologi dan naskah kuno, ada satu karya yang sangat relevan dari perspektif yang berbeda: H.J. van Mook, pejabat kolonial Belanda sekaligus ilmuwan sosial, menulis tentang Kotagede dalam karyanya Kuta Gede, yang kemudian diterbitkan dalam The Indonesian Town: Studies in Urban Sociology (The Hague: W. van Hoeve, 1958) dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Harsja W. Bachtiar (Bhratara, Jakarta, 1972).
Van Mook mendekati Kotagede sebagai objek sosiologi perkotaan. Yang menarik dari perspektifnya: ia melihat Kotagede bukan sebagai kota yang ‘baru’ lahir dari era Mataram Islam, melainkan sebagai kota yang menyimpan lapisan sejarah yang jauh lebih dalam dari kota-kota Jawa lain yang diteliti sosiolog seperti Clifford Geertz.
Pengamatan Van Mook tentang struktur sosial Kotagede, dengan komunitas-komunitas pengrajin yang terorganisir, dengan identitas kolektif yang kuat, dengan memori historis yang panjang, konsisten dengan tesis kita bahwa komunitas-komunitas ini sudah ada jauh sebelum era yang secara resmi diklaim sebagai titik awal kota ini.
Kajian sosiologis Van Mook, meskipun tidak secara eksplisit berbicara tentang periode pra-Islam, memberikan gambaran tentang sebuah masyarakat yang sudah sangat matang dan terstruktur, sebuah kematangan yang tidak mungkin dicapai hanya dalam dua atau tiga generasi sejak Pamanahan datang.
Sintesis: Seperti Apa Sesungguhnya Kawasan Mataram Sebelum Islam?
Dengan mengintegrasikan seluruh data, dari Situs Liyangan, dari Supratikno Rahardjo, dari Prasasti Rukam, dari Pararaton dan Banawa Sekar, dari Bujangga Manik, dari ekskavasi Pleret 2023, dari toponimi Kotagede, dari Yoni Sendang Selirang, dan dari kajian Van Mook, kita dapat merekonstruksi gambaran kehidupan kawasan Mataram sebelum Mataram Islam dengan tingkat kepercayaan yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya:
Pertanian yang Terorganisir dan Produktif
Lembah antara Kali Opak dan Kali Gajah Wong adalah kawasan pertanian kelas satu dengan air tanah yang mudah diakses. Sawah-sawah di sana tidak hanya untuk kebutuhan sendiri, surplus produksi pertanian adalah basis ekonomi yang menghidupi jaringan perdagangan yang lebih luas. Data Liyangan memperlihatkan bahwa komunitas Mataram Kuno sudah mengenal sistem irigasi yang terencana dan pertanian yang menghasilkan surplus cukup untuk diperdagangkan hingga ke Tiongkok.
Komunitas Perajin yang Terorganisir dan Terhubung ke Pasar
Pandai besi, perajin tembaga, pembuat keris, penyamak kulit, komunitas-komunitas ini adalah tulang punggung ekonomi non-pertanian kawasan Mataram. Nama-nama kampung mereka di Kotagede adalah bukti bahwa mereka sudah ada dan sudah memiliki identitas profesional yang mapan sebelum era Mataram Islam. Keahlian mereka diwariskan turun-temurun, dan inilah yang kemudian menjadi fondasi Kotagede sebagai pusat kerajinan.
Sistem Sosial Berlapis dengan Pemimpin yang Diakui
Ada lapisan bangsawan (mungkin keturunan Bhre Mataram atau penguasa daerah Majapahit), ada lapisan pendeta-resi yang merawat sendang dan tempat pemujaan, ada lapisan pengrajin terampil, ada lapisan petani. Raden Joyoprono/Ki Jayaprana adalah figur yang merangkum beberapa lapisan sekaligus, pemimpin politik sekaligus pemimpin spiritual, yang otoritasnya diakui bahkan oleh pendatang baru sekalipun.
Jaringan Perdagangan yang Aktif
Kawasan Mataram bukan terpencil dari dunia. Ia adalah simpul jalur perdagangan Barat-Timur Jawa yang vital. Artefak keramik Tang dari Liyangan membuktikan keterhubungan dengan jaringan maritim internasional. Di era Majapahit, kawasan ini adalah bagian dari sistem ekonomi kerajaan terbesar di Nusantara. Petugas pajak yang dihentikan Senopati dalam ekspansinya membuktikan bahwa jalur ini masih aktif di era transisi Islam.
Kehidupan Spiritual yang Kaya dan Berlapis
Tradisi pemujaan di sendang, di candi, di pertapaan, semua berlangsung dalam ritme kehidupan sehari-hari, bukan hanya dalam upacara besar kerajaan. Komunitas Mutihan (pertapa spiritual), komunitas pendeta yang merawat Yoni Sendang Selirang, para pengrajin yang membuat arca dan peralatan ritual, mereka semua adalah bagian dari kehidupan spiritual kawasan ini yang telah berlangsung berabad-abad sebelum Islam datang.
Mengembalikan 600 Tahun yang Hilang
Enam ratus tahun bukan kekosongan. Ia adalah kehidupan yang kompleks, terorganisir, dan bermartabat, yang sengaja dihapus dari narasi resmi oleh kebutuhan legitimasi politik Mataram Islam. Narasi ‘Alas Mentaok yang sunyi’ bukan deskripsi geografis, ia adalah keputusan politik untuk menghapus semua klaim historis sebelumnya atas tanah itu.
Tetapi tanah tidak bisa berbohong. Batu andesit berornamen candi yang ditemukan di bawah Pleret tidak bisa berbohong. Yoni di Sendang Selirang tidak bisa berbohong. Nama Kampung Jayapranan, kampung tertua di Kotagede, yang berasal dari penghuni sebelum Pamanahan datang tidak bisa berbohong. Keramik Dinasti Tang yang ditemukan terkubur bersama desa-desa Mataram Kuno di Liyangan tidak bisa berbohong.
Mereka semua bersaksi: di sini pernah ada kehidupan, pernah ada peradaban, pernah ada masyarakat yang bercocok tanam, berdagang, membuat keris, merawat sendang, memuja dewa, dan menjalani hidup mereka dengan bermartabat jauh sebelum nama Mataram Islam pernah disebut.
Supratikno Rahardjo benar: peradaban Jawa tidak pernah putus. Ia hanya berubah bentuk. Dan di Kotagede, bentuk-bentuk lama itu tidak sepenuhnya hilang, ia tersimpan dalam nama kampung, dalam batu gapura, dalam air sendang, dan dalam ingatan tanah yang tak pernah tidur. Kotagede bukan lahir dari kekosongan. Ia lahir dari kepenuhan sejarah yang sengaja dilupakan dan kini sedang diingat kembali. ***
Daftar Pustaka
Banawa Sekar (Bahtera Aneka Bunga). Kakawin karya Mpu Tanakung, era Majapahit akhir (abad ke-15).
Brandes, J.L.A. (ed.) (1920). Pararaton (Ken Arok), edisi ke-2 dengan catatan N.J. Krom. VBG 62.
De Graaf, H.J. & Pigeaud, Th.G.Th. (1974). De eerste Moslimse vorstendommen op Java. The Hague: Martinus Nijhoff.
Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY. Ekskavasi Arkeologi Situs Keputren, KCB Kerto-Pleret. September 2023.
Noorduyn, J. (1982). Bujangga Manik’s Journeys through Java. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 138, 413–442.
Noorduyn, J. & Teeuw, A. (2006). Three Old Sundanese Poems. Leiden: KITLV Press.
Pararaton (Kitab Para Raja). Naskah Jawa Kuno, disusun antara 1481–1600 M.
Priswanto, Hery (BRIN). Temuan Ekskavasi Situs Keputren Pleret 2023. Diliput Tempo, Krjogja, IDN Times, Media Indonesia, September 2023.
Prapanca, Mpu (1365). Nagarakretagama (Desawarnana). Terjemahan: Slametmuljana (1979). Jakarta: Bhratara Karya Aksara.
Rahardjo, Supratikno (2011). Peradaban Jawa: Dari Mataram Kuno sampai Majapahit Akhir. Jakarta: Komunitas Bambu. ISBN: 979-3731-90-7.
Ricklefs, M.C. (1974). Jogjakarta under Sultan Mangkubumi 1749–1792. London: Oxford University Press.
Ricklefs, M.C. (2008). A History of Modern Indonesia since c.1200, edisi ke-4. Basingstoke: Palgrave Macmillan.
Riyanto, Sugeng (2016). Situs Liyangan: Ragam Data, Kronologi, dan Aspek Keruangan. Balai Arkeologi Yogyakarta / BPCB Jawa Tengah.
Van Mook, H.J. (1958). Kuta Gede. Dalam: The Indonesian Town: Studies in Urban Sociology. The Hague: W. van Hoeve. Terjemahan: Harsja W. Bachtiar (1972). Jakarta: Bhratara.
Yogyakarta 16032026



