Saudaraku, Lebaran di tengah paceklik dan kerentanan adalah Lebaran penuh pengorbanan.
Tatkala cadangan BBM menipis, harga dan ongkos melambung, seorang majikan mencoba menahan asisten rumah tangganya untuk tidak mudik.
Tak diduga sang asisten berkata: “Tuan bisa menikmati berbagai macam kebahagiaan sepanjang tahun, sedang kebahagiaan saya cuma sekali setahun, yaitu mudik Lebaran. Apakah kebahagiaan satu-satunya itu pun harus saya korbankan?”
William James, filsuf Amerika Serikat, mengingatkan bahwa kepedulian utama manusia dalam hidupnya adalah kebahagiaan.
Bagaimana cara memperoleh, mempertahankan, dan memulihkan kebahagiaan merupakan motif tersembunyi dari tindakan kebanyakan orang.
Sigmund Freud menjangkarkan kebahagiaan itu pada pencapaian kenikmatan seksual (the will pleasure), sedangkan Alfred Adler pada kehendak untuk berkuasa (the will to power).
Namun, Viktor Frankl percaya bahwa pemenuhan kehendak untuk menemukan makna (the will to meaning) lewat kemampuan berdamai dengan kenyataan dan pengorbanan untuk menjadi lebih besar dari diri sendiri, merupakan sumber kebahagiaan tertinggi.
Namun, apa artinya makna hidup jika kenyataan sehari-hari senantiasa dirundung kemiskinan, kekalahan persaingan, pungutan liar, ketidakpastian peraturan, pengkhianatan partai dan penyelenggara negara?
Dalam kesulitan menemukan makna hidup kekinian dan ke depan, orang-orang akan mencarinya dengan berpaling ke belakang: pulang ke akar kesilaman di kampung halaman.
Dalam gelombang arus mudik ini, betapa rakyat kecil sebagai korban pembangunan justru sekali lagi berkorban merembeskan rezeki ke seluruh pelosok negeri, seperti akar yang meneruskan air hujan ke sungai, lantas mengalirkannya hingga ufuk terjauh.
Fenomena pengorbanan rakyat ini mestinya jadi bahan refleksi bagi elit negeri.
Bahwa perburuan kebahagiaan manusia mestinya tidak berhenti sebatas “cinta kuasa” (the love of power), tetapi bisa meninggi menjadi “kuasa mencintai” (the power of love).
Hal ini diingatkan dalam lirik lagu “Hari Lebaran” ciptaan Ismail Marzuki, “Selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin.”
(*)



