Mudik Lebaran, Pedagang Cilok Rela Jalan Kaki 100 Kilometer - Mabur.co

Mudik Lebaran, Pedagang Cilok Rela Jalan Kaki 100 Kilometer

Mabur.co – Seorang perantau, Asep Kumala Seta (31), nekat berjalan kaki dari Kota Bandung menuju kampung halamannya di Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, karena tidak mampu membayar ongkos transportasi untuk mudik Lebaran.

Asep terpantau mulai berjalan sejak Selasa (17/3) pukul 12.00 WIB dari kawasan Cibaduyut, Kota Bandung.

Dari sejumlah pemberitaan di media sosial, ia terlihat melintasi jalur Nagreg, Kabupaten Bandung, pada malam hari di tengah padatnya arus kendaraan pemudik.

“Saya jalan dari Cibaduyut, rencananya mau sampai ke Ciamis,” ujar Asep.

Keputusan Asep untuk mudik dengan cara berjalan kaki sejauh hampir 100 kilometer bukan tanpa alasan.

Kondisi ekonomi yang pas-pasan membuatnya tak punya pilihan lain selain mudik dengan biaya seadanya.

Dikutip Antara, Asep sendiri diketahui selama ini bekerja sebagai penjual cilok di kawasan Cibaduyut.

Dalam kesehariannya, ia diwajibkan menyetor Rp70.000 kepada pemilik usaha.

Dari total pendapatan sekitar Rp100.000 per hari, ia hanya membawa pulang sisa sekitar Rp50.000.

Kondisi penjualan yang menurun dalam beberapa waktu terakhir membuat penghasilannya semakin tidak mencukupi.

Hal itu berdampak pada ketidakmampuannya menyisihkan uang untuk biaya mudik.

“Sekarang jarang habis jualannya. Paling dapat Rp100 ribu, disetor Rp70 ribu,” katanya.

Pada momen Lebaran tahun ini, Asep juga mengaku tidak menerima tunjangan hari raya (THR) dalam bentuk uang.

Ia hanya mendapatkan 50 butir cilok dan sebotol sirup dari tempatnya bekerja.

“THR cuma dikasih cilok sama sirup,” ujarnya.

Keterbatasan ekonomi tersebut membuat Asep memilih berjalan kaki sebagai satu-satunya cara untuk pulang ke kampung halaman. 

Meski demikian, ia tidak sepenuhnya berjalan kaki.

Ia sempat menggunakan bus dari Terminal Leuwipanjang menuju Bundaran Cibiru, kemudian menumpang truk hingga Rancaekek.

Perjalanan Asep tidak selalu berjalan lancar. Saat menumpang truk di kawasan Nagreg, ia sempat salah arah karena kendaraan tersebut menuju Kadungora, Kabupaten Garut.

“Saya kira ke arah Ciamis, ternyata ke Kadungora. Saya langsung turun, terus jalan lagi ke arah Limbangan,” tuturnya.

Selama perjalanan, Asep mengandalkan masjid dan emperan toko sebagai tempat beristirahat.

Ia mengaku pernah mengalami ketidaknyamanan saat beristirahat di ruang publik karena mendapat pertanyaan dari warga dan sempat disalahpahami.

Meski menghadapi berbagai kendala, Asep tetap melanjutkan perjalanan.

Ia memperkirakan dapat tiba di Ciamis dengan terus berjalan, sembari berharap mendapatkan tumpangan kendaraan di jalan.

“Kalau jalan terus mungkin sampai jam 9 pagi. Tapi mudah-mudahan ada truk yang ngasih tumpangan,” katanya.

Asep diketahui telah menjalani berbagai pekerjaan sebelum menjadi penjual cilok, di antaranya sebagai buruh bangunan dan nelayan di wilayah Indramayu.

Pengalaman tersebut membuatnya terbiasa menghadapi kondisi sulit, termasuk menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki.

Ia menyebut, setelah Lebaran, berencana kembali merantau dan mempertimbangkan untuk kembali bekerja sebagai nelayan.

“Rencana ke laut lagi,” ujarnya.

Perjuangan Asep untuk bisa tetap mudik meski dalam kondisi keuangan yang serba pas-pasan menunjukkan keinginan kuat sebagian besar masyarakat Indonesia untuk bisa bertemu keluarga di momen hari raya Lebaran. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *