Idulfitri dalam Perang Hari ke-23 - Mabur.co

Idulfitri dalam Perang Hari ke-23

Perang sudah melewati hari ke-23. Di tengah suasana perayaan Idulfitri dan meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk, ada suara damai dan lembut yang datang dari Teheran.

Masoud Pezeshkian, Presiden Iran yang jarang sekali tampil ke publik itu memberi pesan dan mengetuk pintu hati para pemimpin negara Arab, dan berucap dengan bibir bergetar:

“Kami hanya ingin damai, ya damai dan tidak ingin perang dengan negara-negara Muslim. Sebab kami ini saudara seiman dan serumpun.”

Ini bukan sekadar basa-basi politik, tetapi sebuah respons serius dari 12 kepala negara kawasan Teluk yang protes dan mengancam akan turut bersama memerangi Iran, imbas pangkalan kilang minyaknya yang hancur.

Di momen suci Idulfitri yang bertautan dengan Nowruz —hari baru harapan—Pezeshkian seperti sedang membasuh luka lama antara Iran dan tetangga Arabnya.

Ia menegaskan bahwa mereka adalah saudara seiman, saudara serumpun, yang tidak selayaknya saling menodongkan senjata.

Namun, di balik kelembutan kata “saudara”, masih terselip kritik tajam.

Pezeshkian menuding jemari asing—AS dan Israel—sebagai dalang yang mengadu domba, meniup bara kecurigaan, dan menciptakan sekat di antara negara-negara Islam yang diletakkan pada tempatnya.

Ia berharap ada kesadaran bersama, bahwa kita yang “saudara” dan satu ini, terus sedang dipecah belah oleh kepentingan luar yang lapar akan kepentingan hegemoni ekonomi dengan konflik.

Pezeshkian menawarkan pelukan persaudaraan.

Ia mengajak tetangga-tetangganya duduk bersama, membentuk struktur keamanan sendiri, dan membangun majelis sesama muslim yang mandiri dari konsep ukhuwah islamiyah: “Kita tidak butuh kehadiran asing di kawasan ini,” tegasnya, sebuah seruan kedaulatan yang menyentuh inti kebanggaan regional.

Lebih jauh, ia kembali mengingatkan tentang fatwa pelarangan senjata nuklir, dan menegaskan bahwa iman dan komitmen kemanusiaan Iran lebih tinggi daripada sekadar ambisi senjata pemusnah massal.

Tuduhan bahwa Iran sedang menuju ke sana, menurutnya, hanyalah hasutan Washington dan Tel Aviv agar Islam terus saling curiga.

Di bulan Syawal yang baru ini, Pezeshkian bersama negara tetangganya menginginkan ada penulisan ulang peta Timur Tengah yang lebih bersaudara: dari peta perang menjadi peta pelukan saudara.

Sebuah ajakan yang indah, namun tantangannya begitu berat di tengah kepulan asap yang masih nyata.

Sementara itu, masih suasana Idulfitri, Iran terkonfirmasi meluncurkan rudal balistik IRBM ke pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia, Samudra Hindia.

Bayangkan, jarak antara Iran ke Diego Garcia berkisar 3500-4500 km, tetapi itu masih dalam jangkauannya.

Bukankah Iran telah berhasil memberi pesan, bahwa stok rudalnya bervariasi dan melimpah?

Iran terpaksa meluncurkan rudal ini ke Diego Garcia juga sebagai pesan serius kepada Inggris, agar tidak ikut campur dan masuk gelanggang arena, jika tidak mau rata dengan tanah.

Inggris memang diketahui publik, baru-baru ini telah menyatakan akan ikut andil membantu Israel-AS.

Sehari pascapeluncuran balistik IRBM ini, Amerika kini mulai mempertimbangkan ajakan solusi diplomasi dan memenuhi syarat-syarat yang dituntut oleh Iran.

Sebab jika tidak, maka perang ini bisa berlangsung lebih lama dari yang dibayangkan Trump, apalagi saat ini Iran sudah mulai mengarahkan IRBM-nya ke pusat strategis, di antaranya tempat nuklir Natan di Domina Israel.

Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *