Mabur.co – Selama ini para pencinta balap Indonesia lebih fokus terhadap seorang Veda Ega Pratama, yang berhasil meraih podium ketiga pada ajang Moto3 Brazil di sirkuit Goiânia pada akhir pekan lalu.
Publik seolah lupa, bahwa Indonesia juga memiliki satu wakil berikutnya di ajang Grand Prix (Moto3, Moto2, MotoGP), yakni pembalap asal Magetan, Jawa Timur, bernama Mario Aji, yang berlaga di Moto2 World Championship, atau tingkat kelas menengah. Satu level di atas Veda Ega Pratama di Moto3 (kelas pemula).
Sayangnya, prestasi Mario memang tidak sementereng Veda, lantaran ia kerap menduduki posisi papan tengah hingga bawah dalam berbagai balapan.
Bahkan sejak keikutsertaannya di ajang Grand Prix pada 2022 lalu, Mario tidak pernah sanggup mengumpulkan lebih dari 10 poin di setiap musimnya.
Dengan hadirnya Veda yang langsung mencuri perhatian di awal musim 2026 ini, tentu saja pamor Mario langsung kalah oleh juniornya tersebut.
Apalagi Veda juga sejak awal sudah menorehkan prestasi gemilang bagi Indonesia di dunia balap internasional, mulai dari juara umum Asian Talent Cup 2023, pemenang pertama di ajang pembibitan Red Bull Rookies Cup 2025 dengan tiga kemenangan, serta runner–up klasemen akhir Red Bull Rookies Cup 2025.
Hasil itulah yang membawanya promosi langsung ke ajang Grand Prix (kelas Moto3) bersama Honda Team Asia, dan kini sudah mampu meraih podium ketiga pada seri Brazil akhir pekan lalu.
Menurut pengamat MotoGP asal Italia yang kini berkewarganegaraan Indonesia, Matteo Guerinoni, Mario Aji adalah salah satu pembalap bertalenta yang dimiliki oleh Indonesia, namun dengan hadirnya Veda Ega Pratama di tahun 2026 ini, Mario harus mampu menampilkan performa yang lebih baik lagi, agar bisa terus bertahan di ajang Moto2 World Championship.
“Saya berharap bahwa Mario Aji bisa perform dengan lebih baik lagi (untuk seri selanjutnya di Amerika Serikat), bisa mendorong diri sendiri, dan bisa menjadikan Veda sebagai patokan yang bagus agar bisa berprestasi. Karena saya yakin Mario itu punya talenta (dan bisa bersaing dengan pembalap kelas dunia lainnya),” ucap Matteo seperti dilansir dari kanal YouTube MSGP, Rabu (26/3/2026).
Di seri Brazil sendiri, ketika Veda Ega Pratama berhasil menjadi orang Indonesia pertama yang berdiri di podium ketiga, Mario justru mengalami kesulitan di balapan Moto2 Brazil, dan harus puas menempati urutan ke-13.
Padahal dalam sesi Practice atau latihan dan Kualifikasi, Mario selalu menempati urutan 10 besar, bahkan sempat menyentuh posisi 3 besar, saat trek berada dalam kondisi basah. Matteo pun sejatinya memiliki ekspektasi lebih kepada Mario. Namun sayangnya, Mario tak sanggup bertahan di urutan 13, dan meraup total tiga poin saja.
“Saya sebetulnya punya harapan dengan Mario Aji (di Moto2 Brazil). Dia sangat kuat di kondisi basah, dan cukup lumayan saat kondisi kering, serta di kualifikasi bisa masuk posisi ke-9. Harusnya ketika dia (Mario) lihat Veda bisa podium, itu jadi semacam booster bagi Mario agar dia juga bisa perform (seperti Veda). Meskipun harus diakui bahwa persaingan Moto2 memang lebih berat daripada Moto3,” sambung Matteo.
Tak butuh waktu lama bagi Mario (dan Veda) untuk kembali menunjukan kemampuan terbaiknya. Karena di akhir pekan ini, keduanya akan kembali tampil dalam seri ketiga yang berlangsung di Circuit Of The Americans (COTA) di Austin, Texas, Amerika Serikat.
Momen ini tentunya harus bisa dimanfaatkan Mario Aji, untuk bisa tampil lebih baik lagi di kelas Moto2.
Apalagi setahun sebelumnya, Mario juga sempat menorehkan sejarah bagi Indonesia, sebagai pembalap pertama yang mampu finish 10 besar di ajang Grand Prix, tepat di sirkuit negara penjajah yang akan dihadapinya akhir pekan ini. (*)



