Mabur.co- Perbincangan mengenai seberapa sering pria perlu ejakulasi kerap dikaitkan dengan kesehatan sperma hingga risiko kanker prostat.
Di tengah beredarnya anggapan bahwa sperma yang terlalu lama tidak dikeluarkan bisa berbahaya, sejumlah ahli menegaskan ejakulasi memang memiliki peran penting. Meski begitu, hingga kini tidak ada aturan medis baku mengenai berapa lama sperma harus dikeluarkan.
Belakangan, menurut para peneliti di Universitas Harvard, pria harus ejakulasi setidaknya 21 kali sebulan untuk mengurangi risiko kanker prostat.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal European Urology ini melibatkan 31.925 pria untuk memberikan frekuensi rata-rata ejakulasi bulanan mereka.
Dari situ para peneliti menemukan bahwa pria yang lebih sering ejakulasi juga mengurangi kemungkinan mereka terkena kanker prostat hingga sepertiga.
“Kami mengevaluasi apakah frekuensi ejakulasi sepanjang masa dewasa terkait dengan risiko kanker prostat dalam sebuah penelitian besar yang berbasis di AS,” dikutip dari Men’s Health, Selasa (21/4/2026).
Peneliti menemukan bahwa pria yang melaporkan frekuensi ejakulasi lebih tinggi dibandingkan dengan yang rendah di masa dewasa, lebih kecil kemungkinannya untuk didiagnosis dengan kanker prostat.
Temuan ini memberikan bukti tambahan tentang peran menguntungkan dari ejakulasi yang lebih sering sepanjang masa dewasa dalam etiologi kanker prostat, terutama untuk penyakit berisiko rendah.
Tetapi di sisi lain, ejakulasi lebih sering tak hanya mengurangi risiko kanker prostat, namun juga mengurangi stres dan kecemasan.
“Selain penurunan rasa sakit, sekresi endorfin menyebabkan perasaan euforia, modulasi nafsu makan, pelepasan hormon seks, dan peningkatan respons imun,” ungkapnya.
Sementara itu, Dokter Spesialis Andrologi di Eka Hospital Family PIK, Christian Christoper Sunnu, menjelaskan, sperma diproduksi setiap hari oleh tubuh pria dan memiliki siklus hidup terbatas di sistem reproduksi.
Jika terlalu lama tidak dikeluarkan, kualitas sperma dapat menurun dan berpotensi memicu gangguan kesehatan, salah satunya kanker prostat.
“Sperma setiap hari diproduksi rata-rata 8 juta. Sperma dihasilkan di buah zakar dan disimpan di epidimis yang bisa menyimpan maksimal sekitar dua minggu. Kalau tidak dikeluarkan, bisa menumpuk dan berbahaya,” ujar Sunnu, dilansir CNN, Selasa (21/4/2026).
Sunnu menjelaskan sperma yang tidak dikeluarkan dalam waktu lama juga berpotensi mengalami proses kedaluwarsa. Dalam kondisi tertentu, sperma yang terlalu lama berada di saluran reproduksi dapat berkontribusi terhadap pembentukan radikal bebas yang memicu peradangan.
“Sperma kalau tidak dikeluarkan bisa ‘expired’ dan akhirnya menjadi radikal bebas. Ini bisa memicu peradangan kronis yang berujung pada pembesaran prostat,” jelasnya.
Sunnu mengatakan, mekanisme pengeluaran sperma secara alami juga dipengaruhi oleh usia. Pada pria yang lebih muda, ejakulasi masih berjalan optimal.
“Usia muda 16-18 tahunan, mekanisme mimpi basah masih mudah. Tapi kalau sudah usia 30-40 tahunan, mekanisme mimpi basahnya biasanya sudah tidak sekuat itu,” ujarnya.



