Mabur.co – Pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA), Ray Rangkuti, turut mengomentari fenomena maraknya sesama pengamat politik yang dilaporkan ke polisi oleh sejumlah pihak, lantaran dianggap merencanakan upaya makar terhadap presiden Prabowo Subianto.
Menurut Ray, apa yang dilakukan oleh pihak-pihak tersebut, sama sekali tidak akan mengubah keadaan bangsa Indonesia menjadi lebih baik.
Ia justru beranggapan bahwa melaporkan masyarakat (pengamat) yang bersikap kritis terhadap negara, akan memperburuk citra pemerintah di mata publik.
Sekaligus mempertegas dugaan sikap “anti-kritik” yang selama ini kerap disematkan kepada presiden Prabowo.
“Kalaupun mereka mau “penjarakan” Saiful (Mujani) pun enggak akan ada impact-nya. Karena pasti akan muncul Saiful-Saiful yang lain. Jadi mau dilaporin juga percuma,” ungkap Ray Rangkuti, dalam sebuah forum diskusi di Jakarta, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Sociocorner, belum lama ini.
Meskipun saat ini pengamat berada dalam situasi yang kurang mengenakkan (karena setiap kritik selalu berujung kriminalisasi atau laporan ke polisi), namun Ray masih mensyukuri, tingginya civil society (kepedulian masyarakat sipil) di Indonesia sejak zaman kolonialisme.
Sehingga setiap ada masalah yang dihadapi oleh salah satu warga negara, publik akan selalu bereaksi dan memberikan kecaman terhadap mereka yang melakukan pelanggaran.
“Yang paling kita syukuri dari republik ini adalah civil society-nya kuat sekali. Dan sepanjang republik ini ada, civil society itu yang berhasil membentuk sejarah. Misalnya saat era orde lama ke orde baru, orde baru ke reformasi, dan yang paling dekat adalah peristiwa di Pati (Agustus 2025). Semuanya pasti masyarakat yang gerak, bukan politisi,” tambah Ray.
Bagi Ray, setiap bentuk kriminalisasi yang dilakukan oleh lembaga negara beserta antek-anteknya (seperti Relawan Prabowo Subianto) hanya akan menambah daftar panjang masyarakat yang dipenjarakan oleh rezim pemerintahan yang sedang berkuasa saat ini. (*)



