Peran Film Pendek sebagai Kritik Sosial Modern - Mabur.co

Peran Film Pendek sebagai Kritik Sosial Modern

Mabur.co – Selama ini kita hanya mengenal film melalui layar lebar, atau segala sesuatu yang diputar di bioskop, seperti XXI, Cinemaxx, dan seterusnya.

Tidak hanya itu, para pemain film pun seringkali hanya “itu-itu saja” setiap tahunnya. Sebut saja Reza Rahadian, Vino G. Bastian, Jefri Nichol, Prilly Latuconsina, Iko Uwais, Dian Sastrowardoyo, Joe Taslim, dan masih banyak lagi.

Bisa dibilang, setiap film layar lebar (durasi 1,5 jam lebih), nama-nama tersebut pasti akan menghiasi penokohan di dalamnya, baik itu tokoh baik (protagonis), jahat (antagonis), dan sebagainya.

Namun dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, sejatinya dunia perfilman sudah bukan lagi dominasi Reza Rahadian dan kawan-kawan.

Karena semua orang, termasuk orang kampung dan sesepuh sekalipun, semuanya juga bisa (dan pantas) berada dalam industri perfilman.

Bahkan di zaman sekarang, pembuatan film sudah bisa dilakukan di mana saja, dengan peralatan sesederhana apapun, serta dengan budget seadanya (namun sayangnya masih belum gratis). Tidak hanya itu, durasi konten yang disebut sebagai “film” juga tidak melulu harus selalu 1,5 jam. Cukup 3-5 menit saja, suatu produksi konten sejatinya tetap bisa disebut sebagai film.

Karena film bukanlah tentang durasi dan masuk bioskop XXI, tapi lebih kepada pesan yang disampaikan kepada masyarakat, dan dampak yang ditimbulkan dari cerita-cerita yang terkandung di dalamnya.

Dan seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, semua orang, baik itu anak TK, SD, SMP, SMA, mahasiswa, pekerja, pensiunan, hingga lansia, semuanya pantas menjadi pemain film, dan berakting di depan kamera.

Selain itu, jika film-film ala Reza Rahadian dan kawan-kawan selalu bertemakan tidak jauh-jauh tentang cinta, kasih sayang, remake penokohan legenda tertentu (misalnya Warkop DKI), horor, dan seterusnya, maka film-film sederhana yang dibuat oleh masyarakat sekitar, justru lebih terasa ngena, alias dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari dengan segala kompleksitasnya.

Hal ini tentunya berbeda jauh dengan film-film yang dibintangi oleh Reza Rahadian dan lain-lain. Karena realita dari film-film semacam itu sangat jauh dari realitas sosial masyarakat, terkesan lebay, terlalu kontras (tokoh protagonis seperti malaikat, tokoh antagonis seperti iblis), serta cerita yang diangkat juga sebagian besar hanya fiktif, yang sudah pasti tidak sesuai dengan kehidupan nyata.

Selain lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, kreativitas anak-anak muda (yang tidak seberuntung Reza Rahadian dan lain-lain) telah membawa film pendek dalam lanskap baru, yakni sebagai “kritik sosial” terhadap beberapa pihak tertentu.

Dalam konteks hari ini, tentu saja kritik itu akan ditujukan kepada pemerintah, yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto.

Tak bisa dipungkiri lagi, film pendek telah berevolusi menjadi salah satu media komunikasi audiovisual yang paling efektif dalam menyampaikan kritik sosial di era modern, terutama berkat kemampuannya menghadirkan pesan secara padat, tajam, dan emosional.

Apalagi dengan durasi yang terbatas (biasanya kurang dari 40 menit), film pendek memungkinkan sineas untuk bereksperimen dengan gaya visual unik, mengangkat isu-isu sensitif secara jujur, dan melepaskan diri dari batasan industri film yang konvensional, terutama terkait penayangan di bioskop.

Dilansir dari jurnal Institutional Repository UIN Syarif Hidayatullah, berikut adalah peran film pendek sebagai kritik sosial di era modern.

Agen Pembentuk Opini dan Kesadaran Sosial

Film pendek berfungsi sebagai sarana untuk mengangkat realitas kehidupan sosial yang seringkali terabaikan, seperti ketimpangan pendidikan, konflik sosial, hingga masalah budaya. Contohnya film pendek Tilik (2018) yang mampu merepresentasikan gosip sebagai alat kontrol sosial.

Media Kritik yang Demokratis dan Independen

Karena produksinya yang cenderung lebih mudah dan murah dibanding film panjang, film pendek memberikan kebebasan kreatif yang tak tertandingi. Hal ini memungkinkan sineas independen untuk menyuarakan kritik sosial terhadap pemerintah, atau sistem yang tidak adil tanpa sensor ketat.

Arsip Visual dan Ruang Resistensi

Film pendek sering kali berfungsi sebagai arsip visual, ruang resistensi, dan medium penyembuhan sosial, seperti yang terlihat dalam penggunaan simbolisme puitik, untuk menyoroti pertarungan antara narasi penguasa dan suara masyarakat kecil.

Media Pembelajaran dan Pendidikan Karakter

Film pendek juga efektif digunakan dalam pendidikan, untuk menanamkan nilai-nilai moral dan mengkritisi problematika pendidikan, seperti konflik tentang guru honorer yang kalah dengan pegawai SPPG, dan seterusnya.

Memicu Diskusi Publik (Viralitas)

Dengan bantuan platform digital, film pendek dapat dengan mudah menjadi viral dan memicu diskusi publik yang luas, mengenai isu-isu sosial yang sedang hangat dibicarakan masyarakat dan netizen.

***

Terkait momentum Hari Film Nasional tahun ini, selayaknya setiap insan kreatif mampu menghasilkan film yang tidak hanya menghibur dan menghasilkan cuan, tapi juga menyuguhkan tontonan yang mendidik, mengandung pesan moral, dan mampu menjadi wadah “demonstrasi” secara lebih bijak dan kreatif, ketimbang harus turun ke jalan, merusak fasilitas umum, dan sebagainya.

Melalui pendekatan semiotika dan realisme, film pendek bisa menjadi sarana yang ampuh untuk memotret realitas, sekaligus mengajak penonton merenungkan atau bertindak nyata, terhadap masalah sosial yang di-framing dalam sebuah cerita film pendek. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *