Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi XR, Kembangkan Film Berbasis Sains dan Sejarah - Mabur.co

Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi XR, Kembangkan Film Berbasis Sains dan Sejarah

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menerima audiensi Dendi Reynando dan Upie Guava selaku produser dan sutradara film Pelangi di Mars di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta.

Dalam rilis yang diterima mabur.co, Kamis (9/4/2026) dijelaskan, pertemuan ini membahas pemanfaatan teknologi extended reality (XR) untuk mendukung pengembangan industri perfilman nasional, khususnya dalam produksi film anak, sejarah, fiksi ilmiah, serta penguatan kekayaan intelektual (IP) lokal.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menerima audiensi Dendi Reynando dan Upie Guava di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta. Foto: Kemenkebud

Dalam kesempatan tersebut, Dendi Reynando dan Upie Guava memaparkan pengembangan film Pelangi di Mars yang dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan hadirnya film anak Indonesia yang berkualitas dan mampu mendorong imajinasi.

Film ini dikembangkan sebagai karya fiksi ilmiah dengan pendekatan teknologi XR yang telah diriset dan dikembangkan secara mandiri di Indonesia selama kurang lebih tiga tahun, termasuk pembangunan infrastruktur studio dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Upie Guava menyampaikan bahwa teknologi XR memberikan fleksibilitas tinggi dalam proses produksi, sehingga memungkinkan sineas untuk menghadirkan berbagai latar visual secara efisien tanpa ketergantungan pada lokasi fisik dan biaya yang tinggi.

“Dengan XR, sutradara dapat bereksperimen dan berimajinasi secara lebih luas tanpa dibatasi oleh kendala biaya produksi konvensional,” ujarnya.

Sementara itu, Dendi Reynando menegaskan bahwa Pelangi di Mars dirancang sebagai bagian dari strategi pengembangan IP lokal yang berkelanjutan. Karakter-karakter dalam film tersebut tengah diarahkan untuk pengembangan lisensi dan produk turunan, sehingga memiliki nilai tambah ekonomi dan daya saing di pasar nasional.

Selain itu, Dendi menyampaikan bahwa teknologi XR juga berpotensi besar dimanfaatkan untuk produksi film dengan berbagai latar, termasuk film sejarah yang membutuhkan rekonstruksi visual kompleks dengan biaya yang lebih efisien.

“Teknologi ini memungkinkan kita menghadirkan berbagai latar, termasuk masa lampau dalam film sejarah, tanpa memerlukan pembangunan set fisik berbiaya besar. Selain itu, pemanfaatan teknologi juga dapat menghadirkan alternatif tontonan yang lebih beragam kepada masyarakat,” jelasnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *