Hanya Ada di Indonesia, Kenapa Gelar Haji Disematkan di Depan Nama Seseorang? - Mabur.co

Hanya Ada di Indonesia, Kenapa Gelar Haji Disematkan di Depan Nama Seseorang?

Mabur.co-  Bagi penduduk Indonesia, ibadah haji merupakan ibadah yang sangat mulia dan begitu sakral.

Mengapa tidak, untuk berangkat menunaikan rukun Islam kelima ini seseorang harus merogoh kocek yang cukup besar, sehingga tidak semua orang bisa menjalankannya.

Menariknya, umat muslim Indonesia yang baru saja pulang dari tanah suci untuk berhaji akan mendapatkan gelar “Haji” laki-laki dan “Hajjah” bagi perempuan di depan namanya.

Antropolog UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dadi Darmadi, mengatakan, tradisi pemberian gelar haji sah-sah saja.

Salah satu alasannya adalah sejak masa silam, perjalanan menuju Tanah Suci bagi orang Nusantara adalah perjuangan berat tersendiri, harus mengarungi lautan, menerjang badai berbulan-bulan, menghindari perompak, hingga menjelajah gurun pasir.

Sehingga, seorang yang berhasil melalui ujian tersebut, dan berhasil kembali selamat ke Tanah Air, dianggap berhasil mendapat anugerah dan kehormatan, apalagi Kabah dan Mekah adalah kiblat suci umat Islam sedunia.

”Tradisi seperti ini sebetulnya tidak hanya terjadi di Indonesia. Namun, juga ditemukan pada Islam Melayu bagian lain seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Thailand Selatan,” dilansir Kementerian Agama, Jumat (10/4/2026).

Dilansir situs resmi Kemenag, dijelaskan bahwa asal usul atau sejarah tradisi penyematan gelar haji dan hajjah di Indonesia sendiri bisa dilihat dari tiga perspektif.

Pertama yaitu dari perspektif keagamaan, kedua yaitu dari perspektif kultural atau budaya, dan ketiga yaitu dari perspektif kolonial Belanda.

Pertama, dari perspektif keagamaan, haji adalah perjalanan untuk menyempurnakan rukun Islam.

Perjalanan yang jauh dan panjang, biaya yang mahal, persyaratan yang tidak mudah, membuat haji menjadi sebuah perjalanan ibadah yang semakin penting dan tidak semua orang bisa melakukan.

Untuk itulah penyematan gelar haji dan hajjah dianggap layak dan senantiasa disematkan bagi mereka yang berhasil melakukannya.

Kedua, dari perspektif kultural, narasi dan cerita-cerita menarik, heroik, dan mengharukan selama berhaji juga terus berkembang menjadi cerita populer yang membuat banyak orang tertarik naik haji.

Sebagian besar tokoh-tokoh masyarakat juga bergelar haji. Hal-hal inilah yang kemudian membuat ibadah haji semakin penting dan gelar haji atau hajjah di Indonesia punya nilai dan status sosial yang dianggap tinggi.

Ketiga, dari perspektif kolonial, pada zaman dulu pemerintah kolonial Belanda berusaha untuk membatasi jemaah haji dengan berbagai cara karena takut akan pengaruh haji bagi gerakan anti-penjajahan.

Salah satu caranya adalah dengan membuka Konsulat Jenderal pertama di Arabia pada tahun 1872.

Tugas konsulat ini adalah mencatat pergerakan jemaah dari Hindia Belanda, dan mengharuskan mereka memakai gelar serta atribut pakaian haji agar mudah dikenali dan diawasi. Dari sinilah muncul gelar haji di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *