Roblox Dibatasi, Dunia Diperkecil, Puisi Mbeling Dibuka - Mabur.co

Roblox Dibatasi, Dunia Diperkecil, Puisi Mbeling Dibuka

Saya pernah merasa akan kewalahan menghadapi dunia digital anak-anak saya. Terutama anak kedua saya yang sekarang kelas 4 SD.

Saya membayangkan akan ada fase di mana saya harus menjelaskan banyak istilah game, permintaan top up, dan dunia virtual yang bergerak lebih cepat dari logika orang tua pada umumnya.

Ternyata pengalaman saya tidak seperti itu.

Sejak awal saya sudah menetapkan batas yang cukup tegas soal game, terutama Roblox. Saya tidak membuka ruang untuk transaksi digital seperti Robux. Tidak ada negosiasi, tidak ada “top up sekali aja”, dan tidak ada pintu kecil yang bisa jadi pintu besar.

Dan saya pegang itu konsisten.

Saya bahkan pernah bilang dengan gaya santai tapi serius, bahwa Roblox kalau tidak dikontrol bisa membuat anak terlalu larut di dunia yang tidak punya arah jelas.

Dalam bahasa sehari-hari saya, saya pernah melontarkan komentar singkat yang cukup terkenal di rumah: “tiati mas, kalok kebanyakan maen roblox dan terlena bisa bikin kita g****x” .

Sejak itu, Roblox tidak pernah benar-benar menjadi pusat perhatian anak saya. Dia tahu, dia pernah lihat, dia pernah coba sebentar, tapi tidak pernah berkembang menjadi sesuatu yang mengikat. Karena sejak awal tidak ada ruang untuk Robux, tidak ada insentif untuk mengejar sesuatu di dalamnya.

Hasilnya cukup sederhana. Dia hanya sesekali main, lalu selesai. Tidak ada keterikatan, tidak ada permintaan berulang, dan tidak ada fase “Ayah beli ini ya”.

Yang menarik justru bukan di situ.

Di meja komputer rumah, selalu ada satu buku yang sering dia ambil. Buku itu adalah kumpulan puisi mbeling karya Remy Sylado, terbitan KPG, cetakan kedua Maret 2023. Buku itu entah kenapa selalu terbuka di halaman-halaman yang tidak saya duga akan membuat anak kelas 4 SD tertawa.

Sampai suatu hari, dia membaca salah satu puisi yang sangat pendek, hanya beberapa baris saja. Puisi itu absurd, jenaka, dan punya gaya khas mbeling yang sengaja mematahkan ekspektasi pembaca.

Puisi itu ada di Halaman 96

PESAN SEORANG IBU KEPADA
PUTRANYA

jangan
bilang
ko***l

Reaksinya di luar dugaan.

Dia tertawa keras. Bukan sekadar senyum, tapi benar-benar ngakak sampai berhenti sebentar, lalu membaca ulang lagi sambil masih tertawa. Seolah-olah dia baru menemukan sesuatu yang jauh lebih lucu daripada game apa pun yang pernah dia lihat.

Saya melihat momen itu dengan agak heran, sekaligus sadar bahwa ada sesuatu yang menarik sedang terjadi.

Di satu sisi, dunia digital yang penuh stimulasi cepat tidak benar-benar menjadi pusat hidupnya. Di sisi lain, sebuah buku puisi yang sederhana, absurd, dan tidak terduga justru bisa memicu tawa yang lebih jujur.

Dan di situ saya mulai menangkap satu hal.

Anak-anak tidak selalu butuh dunia yang kompleks secara visual. Kadang mereka justru lebih tertarik pada kejutan bahasa, pada humor sederhana, pada sesuatu yang tidak mereka duga sebelumnya.

Roblox, dalam rumah kami, hanya menjadi selingan kecil. Tidak tumbuh menjadi dunia utama karena sejak awal dibatasi secara jelas.

Sebaliknya, buku puisi itu justru menjadi sesuatu yang lebih sering mereka buka. Bukan karena saya memaksa, tapi karena memang ada daya tarik yang berbeda di sana. Ada ruang imajinasi yang tidak dikunci oleh sistem atau mekanik game.

Saya tidak mengatakan ini sebagai perbandingan mutlak antara buku dan game. Bukan itu poinnya.

Poinnya lebih sederhana.

Ketika akses ke satu dunia dibatasi dengan konsisten, anak tidak otomatis kehilangan minat pada eksplorasi. Mereka hanya mencari bentuk eksplorasi lain.

Dan dalam kasus anak saya, bentuk itu bisa berupa puisi mbeling yang absurd, pendek, dan kadang membuat dia tertawa sendiri di depan komputer.

Saya masih ingat momen itu dengan jelas. Dia tertawa, berhenti, lalu membaca lagi, seolah tidak percaya bahwa sesuatu yang sesederhana itu bisa begitu lucu.

Dan saya, sebagai orang tua, hanya bisa diam sambil berpikir bahwa kadang kita terlalu sibuk takut anak “terlalu digital”, sampai lupa bahwa mereka juga bisa menemukan kebahagiaan dari hal-hal yang sangat sederhana, bahkan dari halaman buku yang tidak kita sangka.

Ujung-ujungnya , di rumah saya, Roblox hanya lewat. Tidak menetap.

Tapi puisi mbeling ala Remy Sylado itu tetap tinggal dan sedikitnya bikin anak saya makin somplak becandaannya.

Tapi Insya Allah, saya dan istri tercinta akan mendidik dia agar terus jadi “gentle boy cum green flag“.

(Dan dia tak akan seperti 16 Mahasiswa FH UI yang kayaknya dimanja ama orang tuanya sehingga kelewatan sekaligus menjijikan becandaannya dan itu JELAS pelecehan seksual dalam WA Grup LuckNut mereka). ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *