Mabur.co- Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus Rp18.009,10 per dolar AS berdampak pada lonjakan harga oli dan spare part sepeda motor.
Kenaikan harga tersebut membuat para pemilik bengkel terpaksa menaikkan harga jual sejumlah produk, terutama oli yang mengalami kenaikan paling signifikan.
Salah seorang pemilik bengkel sepeda motor di kawasan Nologaten, Sleman, Kelik, mengatakan lonjakan harga dipicu oleh melemahnya rupiah karena sebagian besar spare part dan oli masih bergantung pada produk impor.
“Banyak kenaikan harga terutama oli yang naiknya cukup banyak, spare part naik, ban juga naik. Semuanya naik,” ujarnya, Kamis (4/6/2026).
Kelik mengatakan, dalam beberapa minggu terakhir harga berbagai jenis oli dan suku cadang naik sekitar 20% hingga 30%.
Harga Oli Mesin Naik Tajam
Ia menyebut oli mesin menjadi komponen yang mengalami kenaikan paling terasa karena merupakan kebutuhan rutin pengguna kendaraan bermotor.
“Ada oli yang naiknya hingga puluhan ribu, kenaikan mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 15.000, jadi cukup banyak jika dipersentase. Untuk spare part dan ban juga naik, tetapi tidak sebanyak oli,” katanya.
Kelik mengatakan, meski harga produk naik, masih berusaha mempertahankan tarif jasa bengkel agar konsumen tidak semakin terbebani.
“Kalau ongkos atau jasa bengkel tidak bisa kita naikkan, nanti malah konsumennya makin berkurang karena barangnya sudah naik. Kalau ongkos naik malah menjadi tidak terjangkau. Konsumen otomatis akan turun atau ada penundaan mengganti part atau oli,” ungkapnya.
Salah satu konsumen, Yudha Eka mengatakan, harus memutar otak mengatur pengeluaran rumah tangga akibat biaya servis motor yang semakin mahal.
“Kenaikan harga oli sepeda motor cukup memberatkan, apalagi dengan keseharian saya yang setiap hari bekerja menggunakan sepeda motor,” katanya.

