Kisah Mantan Pekerja Migran Indonesia, Jatuh Bangun Rintis Aneka Usaha

6 Min Read
Factory workers in masks and hairnets roll dough on a long table beside a pasta machine in a food processing plant.
Para pekerja sedang membuat kulit lumpia. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Mabur.co- Jatuh bangun usaha, bangkrut, dilalui Bambang Sutrisno, eks pekerja migran Indonesia (PMI). Tempaan itu yang kemudian membentuk Bambang hari ini sukses dalam usaha kulit lumpia, pangsit, dan dimsum ‘Jempol Food’.

Bambang yang merupakan mantan pekerja migran Indonesia (PMI) menceritakan perjalanan hidupnya hingga sampai pada posisinya saat ini. Tentu saja, tak semudah membalikkan telapak tangan.

“Saya dulu di sela-sela kuliah sudah mulai berwirausaha. Saya sempat kuliah di UNY, masuk tahun 1998,” ujarnya saat dihubungi mabur.co, Kamis (4/6/2026).

Ring of small bread rolls arranged in a circle on a perforated baking tray in a bakery setting.
Kulit lumpia ‘Jempol Food’. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Bambang mengatakan, sembari kuliah, ia mencoba usaha jual beli rongsok atau barang bekas. Lebih dari 20 tahun lalu, setiap hari ia memacu sepeda motor ke kampus.

Selain menimba ilmu, ia juga selalu membawa karung dan memasang rombong atau keranjang untuk mengangkut barang bekas, baik barang elektronik atau kertas bekas di sepeda motornya.

“Saya ke mana-mana bawa karung, kuliah itu di dalam tas saya itu karung. Terus motor itu saya kasih kronjot,” ucapnya.

Bambang mengatakan, pada masa itu, barang-barang bekas termasuk kertas bekas masih dianggap tidak memiliki nilai ekonomi.

“Enaknya pada waktu itu, belum banyak pesaingnya. Banyak orang menganggap hanya sampah, padahal bisa menjadikan nilai ekonomis kalau dipilah-pilah dengan tepat. Kertas bekas kalau dipilah-pilah nilainya bisa tinggi ternyata,” tuturnya.

Bambang mengatakan, sekitar tahun 2001, saat semester VI, ia memutuskan untuk menikah. Setelah itu, usaha rongsoknya tidak lagi diteruskan. Dia kembali memutar otak untuk menghidupi keluarga. Mulai dari membuka warung kelontong, warung makan hingga jualan donat keliling.

“Sempat juga istri usaha warung makan, saya usaha keliling jual donat. Jadi ambil (donat) di pabrik, dititip-titipkan ke warung-warung,” ungkapnya.

Jualan Kuliner

Bambang mengatakan lagi, saat jualan donat di salah satu toko di daerah Medari, Kabupaten Sleman, ia mendengar ibu-ibu memperbincangkan tetangganya yang mendapatkan gaji besar karena bekerja di luar negeri.

Mendengar gaji yang besar, ia merasa tertarik berangkat kerja ke luar negeri.

“Mengingat, tetap menekuni usahanya, butuh waktu lama untuk sampai mapan secara ekonomi menghidupi keluarga,” ujarnya.

Bambang mengatakan pula, mencari informasi demi mewujudkan keinginan bekerja di luar negeri untuk mencari modal. Di tengah-tengah mencari informasi tersebut, Bambang mengaku sempat hampir tertipu oleh calo.

Setelah mendapat informasi yang valid, ia beserta istri mendaftar untuk berangkat kerja ke luar negeri. “Saya daftarnya nggak cuma Korea, Jepang, Brunei, dan Malaysia. Pokoknya semua jurusan luar negeri, saya daftar. Ternyata yang bisa berangkat cepat Korea itu,” ujarnya.

Bambang mengatakan, pada 2005, ia  kemudian berangkat untuk bekerja di Korea. Sementara istrinya, berangkat bekerja di Malaysia setahun sebelumnya.

“Istri berangkat duluan ke Malaysia tahun 2004. Saya tahun 2005. Kebetulan waktu itu baru awal (program) G to G. Adanya G to G ini biayanya tidak mahal, cuma biaya pesawat saja,” bebernya.

Bambang menjelaskan,  PMI sistem G to G Korea adalah program penyaluran tenaga kerja Indonesia (PMI) ke Korea Selatan secara resmi dan aman. Program ini dikelola oleh Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI).

“Ketika saya berangkat, istri saya suruh pulang untuk jaga anak. Begitu saya berangkat, istri pulang,” imbuhnya.

Berangkat ke Korea

Bambang mengatakan lagi, nekat berangkat ke Korea pada tahun 2005 meski tidak memiliki uang saku. Ia bahkan terpaksa harus meminjam uang kepada tetangganya.

“Saya mau berangkat saja utang sama tetangga Rp300.000 untuk beli tiket pesawat Yogyakarta-Jakarta Rp250.000. Sisa Rp50.000 saya pakai untuk bayar ojek, habis,” ucapnya.

Bambang menjelaskan, awal mula bekerja di salah satu pabrik di Korea, sempat kaget karena menjadi pekerja satu-satunya yang berasal dari Indonesia. Sementara pekerja di pabrik tersebut kebanyakan berasal dari India.

“Ternyata, orang Korea mengira saya orang India. Bahasa Koreanya India itu Indo, kalau Indonesia tetap Indonesia. Nah dikira Indonesia dengan Indo (India) itu sama. Mereka mengambil saya dikira India,” ucapnya.

Bambang menjelaskan pula, Pemerintah Korea memang sangat peduli dengan para pekerja, baik soal gaji maupun perlindungan.

“Pemerintah Korea juga tidak membeda-bedakan soal perlindungan dan gaji antara pekerja lokal dengan pekerja migran,” ucapnya.

Bambang menuturkan, pada tahun 2016, ia  pulang ke Indonesia. Sesampainya di Indonesia, Bambang mendapati istrinya sudah meninggalkannya. Tak cukup di situ, usaha yang dirintis dari modal bekerja di Korea pun bangkrut.

“Pulang ke Indonesia, ternyata benar rumah kondisinya morat marit, bisnis amblek. Saya bener-bener down, ibu juga wafat, saya sudah nggak punya siapa-siapa lagi, uang juga habis,” ungkapnya.

Bambang menuturkan lagi, saat itu sudah tidak memiliki uang hasil dari bertahun-tahun kerja di Korea. Justru ia memiliki utang.

Usaha Gurami Gagal

Saat itu ia pernah juga memulai usaha gurami. Namun ternyata tidak semulus yang dibayangkan, usaha tersebut gagal.

“Pada tahun 2011 saya pulang setahun, saya usaha gurami gagal, malah utangnya banyak,” bebernya.

Bambang menjelaskan, pengalaman tersebutlah yang kemudian mendorong dirinya memerhatikan para mantan pekerja migran.

“Kebanyakan mantan pekerja migran Indonesia nekat langsung menggunakan semua uangnya untuk usaha. Padahal mereka tanpa pengalaman, tanpa ilmu dan tanpa pendamping,” ucapnya.

Bambang memaparkan, kenaikan dolar tentu sangat berpengaruh karena menggunakan tepung, gandum diimpor, plastik juga impor. Jadi sangat terpengaruh oleh itu.

“Cara menyikapinya, tentu kita realistis, naikkan harga gitu. Jadi sebesar kenaikannya berapa, kita naikkan harganya sebesar itu juga. Kami sejak dulu sebenarnya tidak perang harga. Kami sejak dulu selalu yang diutamakan terkait dengan pelayanan dan kualitas,” ucapnya. ***

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment